Dari Asisten Rumah Tangga Menjadi Sarjana: Perjuangan Bariah Membuktikan Mimpi Tak Mengenal Keterbatasan

Schoolmedia News Yogyakarta - Sejak kecil, hidup tidak pernah memberi jalan yang mudah bagi Bariah. perempuan asal Palembang itu tumbuh sebagai penyandang disabilitas daksa sekaligus harus menghadapi kenyataan kehilangan kedua orang tuanya. keterbatasan ekonomi membuat masa sekolahnya dipenuhi perjuangan. ia bertahan berkat beasiswa dan bantuan orang-orang yang percaya pada potensinya. bahkan, saat masih duduk di bangku SMA, Bariah rela berkeliling menjajakan gorengan saat jam istirahat demi mendapatkan uang saku dan membantu memenuhi kebutuhan hidupnya.
Setelah lulus sekolah, perjuangannya belum usai. kesempatan kerja sangat terbatas karena kondisi fisiknya membuat banyak orang meragukan kemampuannya. di tengah berbagai penolakan dan cibiran yang diterima, bariah akhirnya bekerja sebagai asisten rumah tangga dengan gaji Rp600 ribu per bulan. meski nominalnya kecil, pekerjaan itu disyukurinya sebagai pintu pertama untuk mandiri. baginya, setiap pekerjaan yang dijalani dengan jujur adalah langkah menuju masa depan yang lebih baik.
Harapan baru datang ketika bariah merantau ke depok dan diterima bekerja di sebuah lembaga sertifikasi profesi. di tempat itulah ia bertemu lingkungan yang tidak memandang keterbatasan sebagai penghalang. dukungan dari tempat kerjanya membangkitkan kembali kepercayaan diri yang sempat hilang. ia kemudian memutuskan melanjutkan pendidikan di Universitas Terbuka karena sistem pembelajarannya yang fleksibel memungkinkan dirinya tetap bekerja sambil kuliah.
Perjalanan kuliah tidak hanya memberinya gelar sarjana, tetapi juga mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. bariah belajar mengelola emosi, meningkatkan kemampuan profesional, dan membuka peluang karier yang lebih luas. dari yang sebelumnya bekerja sebagai ART, ia kini dipercaya untuk berkembang menjadi calon asesor sertifikasi. baginya, pendidikan bukan sekadar memperoleh ijazah, melainkan jalan untuk mengubah kualitas hidup dan membuktikan bahwa penyandang disabilitas mampu bersaing jika diberi kesempatan yang setara.
Kisah Bariah menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan. dengan ketekunan, keberanian, dan dukungan dari orang-orang yang percaya padanya, ia berhasil membalikkan stigma menjadi prestasi. dari seorang perempuan yang pernah diremehkan karena kondisi fisik dan pekerjaannya, bariah kini berdiri sebagai sarjana yang menginspirasi banyak orang. perjalanannya membuktikan bahwa mimpi tidak pernah memilih latar belakang, melainkan berpihak kepada mereka yang tidak berhenti berjuang.
Penulis: Ashad Rizki
Editor: Ashad Rizki
Sumber:https://mojok.co/liputan/sekolahan/alumnus-ut-tunadaksa-yang-pernah-kerja-jadi-art/
Liputan Khusus Lainnya:
Ketika Masa Tua Tak Lagi Sendiri: Perjalanan Gina Veterani Menghadirkan Kehangatan bagi Para Lansia
Menanam Harapan dari Desa Les: Perjalanan Gede Arsana Membangun Kebun Edukasi untuk Generasi Masa Depan
Menjaga Jejak Leluhur di Pulau Wawonii: Perjalanan Mando Maskuri Merawat Sejarah yang Nyaris Terlupakan