Ketika Rumah Menjadi Perpustakaan: Perjalanan Edi Dimyati Menyalakan Cahaya Literasi dari Ujung Gang

Schoolmedia News Yogyakarta = Di sebuah gang sempit di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, berdiri sebuah rumah yang tampak biasa dari luar. tak ada papan nama mencolok, tak ada gerbang megah, apalagi bangunan modern yang menarik perhatian. namun siapa sangka, di balik rumah sederhana itu tersimpan ribuan buku dan harapan yang terus tumbuh setiap hari. rumah itu milik Edi Dimyati. bagi anak-anak di sekitar lingkungan tersebut, Edi bukan sekadar pemilik perpustakaan. ia adalah sosok yang membuka pintu rumahnya agar siapa pun bisa masuk, membaca, belajar, berdiskusi, bahkan bermimpi tanpa harus mengeluarkan biaya. perjalanan itu tidak dimulai ketika ia dewasa. semuanya berawal dari seorang anak kecil yang jatuh cinta pada buku.
Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, Edi sudah akrab dengan majalah Bobo yang rutin dibelikan orang tuanya. bersama ayah dan ibunya, ia mengisi kuis-kuis pendidikan di halaman tengah majalah. dari kebiasaan sederhana itu, rasa ingin tahunya tumbuh. buku demi buku mulai memenuhi rak kecil di rumahnya. menariknya, buku-buku itu tidak hanya ia baca sendiri. Edi kecil justru menyewakan koleksi komiknya kepada teman-teman sekolah. uang hasil sewa kemudian ia gunakan lagi untuk membeli buku baru. Tanpa disadari, impian besar mulai lahir sejak saat itu. suatu hari nanti, ia ingin memiliki perpustakaan yang bisa dinikmati banyak orang. impian tersebut membawanya memilih Jurusan Ilmu Perpustakaan di Universitas Padjadjaran. awalnya, jurusan itu bukan pilihan utama. mamun setelah menjalani perkuliahan, Edi menyadari bahwa pustakawan bukan sekadar orang yang menyusun buku di rak. Menurutnya, pustakawan adalah penghubung antara manusia dan pengetahuan.
"Tugas pustakawan ibarat mengurai benang kusut. Setelah terurai, kami merasa menang karena berhasil menemukan informasi yang dibutuhkan orang," tuturnya.
Setelah lulus kuliah, banyak jalan karier yang bisa dipilih. namun Edi justru kembali pada mimpinya semasa kecil. Pada 2010, ia menyulap rumahnya menjadi Taman Baca Kampung Buku. Perpustakaan gratis yang berdiri di ujung gang, diapit dua aliran sungai, jauh dari hiruk-pikuk gedung pencakar langit Jakarta. sedikit demi sedikit koleksi bukunya bertambah. kini, lebih dari 4.000 buku memenuhi rak-rak perpustakaan tersebut. mulai dari buku anak-anak, novel, sejarah, ilmu pengetahuan, hingga berbagai bacaan populer tersedia dan dapat dipinjam secara cuma-cuma. tidak ada kartu anggota. tidak ada biaya pendaftaran. tidak ada denda yang memberatkan. Edi percaya bahwa membaca seharusnya menjadi hak setiap orang. rumah itu pun berkembang menjadi lebih dari sekadar perpustakaan. di lantai atas, anak-anak mengikuti les gratis bersama para relawan. di halaman belakang yang menghadap sungai, pengunjung membaca buku sambil menikmati semilir angin. sementara di sudut rumah, istrinya membuka warung kecil yang menjadi tempat berkumpul sekaligus berbincang tentang banyak hal.
Bagi Edi, literasi tidak cukup hanya menyediakan buku. literasi harus menghadirkan ruang yang membuat orang betah belajar. semangat itu pula yang membuatnya terus berinovasi. sejak 2017, Edi memodifikasi sepedanya menjadi sepeda kargo baca. dengan mengenakan pakaian kerja berwarna oranye yang membuatnya sering disangka montir, petugas PLN, hingga pegawai Pertamina, ia berkeliling membawa ratusan buku ke sekolah-sekolah dan ruang-ruang publik. buku tidak lagi menunggu pembaca datang. justru pembawanya yang mendatangi calon pembaca. Perjalanan tersebut tentu tidak selalu mudah. ada masa ketika edi merasa lelah. bahkan orang-orang terdekatnya sempat bertanya, mengapa ia begitu gigih mempertahankan perpustakaan gratis yang tidak menghasilkan keuntungan besar.
Namun keyakinannya tidak pernah berubah. baginya, mahalnya harga buku
tidak boleh menjadi alasan seseorang kehilangan kesempatan membaca. jika
membeli buku masih sulit bagi sebagian masyarakat, maka perpustakaan harus
hadir lebih dekat. sedikit demi sedikit, perjuangan itu mulai membuahkan hasil. rumah sederhana di ujung gang kini menjadi ruang belajar, tempat
bermain, lokasi berdiskusi, sekaligus rumah kedua bagi banyak anak dan keluarga
di Jakarta Timur. mereka datang bukan hanya untuk meminjam buku, tetapi juga
merasakan bahwa belajar bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan. kisah Edi Dimyati mengingatkan bahwa perubahan besar tidak selalu lahir
dari gedung megah atau program bernilai miliaran rupiah. kadang, perubahan
dimulai dari satu rumah kecil yang pintunya selalu terbuka. dari satu rak buku
yang rela dibagi. dan dari satu orang yang percaya bahwa ketika ilmu dibagikan,
ia tidak akan pernah berkurang justru akan terus bertumbuh dan menerangi
semakin banyak kehidupan.
Penulis: Ashad Rizki
Editor: Ashad Rizki
Sumber: https://mojok.co/liputan/sosok/sosok-di-balik-taman-baca-kampung-buku-gratis-di-jakarta-timur/
Liputan Khusus Lainnya:
Dari Dongeng Sebelum Tidur hingga Ketelitian di Ruang Ujian: Kisah Dua Siswa SDN 4 Wates Meraih Nilai 100 TKA Matematika
Kisah Eri Kuncoro: Menjaga Denyut UMKM dari Yogyakarta yang Lahir dari Kepedulian Lewat Gerakan Yuk Tukoni!