Arani Aslama: Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Autisme Lewat Kreaby

Schoolmedia News Jakarta = Di tengah masih kuatnya stigma terhadap penyandang gangguan spektrum autisme (GSA), Arani Aslama memilih mengambil langkah berbeda. Melalui Kreaby, komunitas kreatif yang dipimpinnya, ia menghadirkan ruang bagi para seniman autisme untuk berkarya, tumbuh, dan menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk menghasilkan karya bernilai tinggi.
Sebagai General Manager Kreaby, Arani mengaku semakin memahami dunia autisme setelah terlibat langsung mendampingi para anggotanya. Menurutnya, mereka memiliki energi positif, keramahan, serta cara pandang yang unik terhadap kehidupan.
"Setelah saya telusuri, ternyata mereka memiliki energi yang luar biasa, baik, dan ramah. Walaupun dengan gaya berkomunikasi dan berbicara mereka sendiri," ujarnya.
Pengalaman tersebut juga membuat Arani menyadari masih banyak kesalahpahaman di masyarakat. Salah satunya adalah penggunaan kata "autis" sebagai istilah untuk menggambarkan seseorang yang terlalu sibuk dengan telepon genggam atau mengabaikan lingkungan sekitar.
"Sering kali kita mendengar orang berkata, 'Autis banget sih, main handphone terus.' Padahal mereka tidak sadar bahwa istilah itu memiliki makna yang sangat kompleks," jelasnya.
Berdasarkan data yang disampaikan Kreaby dalam peringatan Hari Kesadaran Autisme Sedunia pada 2 April 2022, jumlah individu dengan autisme di Indonesia pada 2021 diperkirakan mencapai sekitar 2,4 juta orang. Angka tersebut menunjukkan pentingnya membangun lingkungan yang lebih inklusif sekaligus membuka lebih banyak kesempatan bagi penyandang autisme untuk berkembang.
Berangkat dari semangat tersebut, Kreaby hadir sebagai komunitas yang menyediakan ruang kreatif bagi para seniman autisme. Di bawah kepemimpinan Arani Aslama, komunitas ini terus berkembang dan membuktikan bahwa karya penyandang autisme memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar.
Komitmen itu bahkan mendapat perhatian dari Lazada Indonesia yang menjalin kolaborasi dengan Kreaby. Kerja sama tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap pemberdayaan penyandang autisme melalui dunia industri kreatif.
Chief Logistics Officer Lazada Indonesia, Philippe Auberger, mengatakan kolaborasi tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam membangun ekosistem yang inklusif.
"Kolaborasi Lazada dengan Kreaby menjadi bentuk upaya Lazada untuk meningkatkan kesadaran serta memberdayakan beragam komunitas dengan menciptakan ekosistem yang inklusif dan merangkul keberagaman. Kami percaya setiap orang, termasuk mereka dengan gangguan spektrum autisme, berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk meraih potensi dan mimpinya," ujarnya.
Menurut Philippe, karya para seniman Kreaby bahkan telah diaplikasikan pada armada logistik Lazada sehingga dapat memperkenalkan kreativitas mereka kepada masyarakat yang lebih luas.
Meski demikian, Arani mengakui perjuangan menciptakan masyarakat yang inklusif masih menghadapi berbagai tantangan. Tidak sedikit penyandang autisme yang masih menjadi korban perundungan maupun diskriminasi.
"Walaupun mereka tidak mengucapkannya, bukan berarti mereka tidak merasakan dampak dari bully," katanya.
Karena itu, Arani menilai edukasi kepada masyarakat menjadi langkah penting agar autisme tidak lagi dipandang sebelah mata. Menurutnya, penyandang autisme memiliki hak yang sama untuk belajar, bekerja, bersosialisasi, dan berkontribusi di tengah masyarakat.
Semangat tersebut tercermin dari para anggota Kreaby sendiri. Joey, salah satu seniman autisme yang bergabung dalam komunitas tersebut, mengungkapkan kebahagiaannya bisa bekerja dan berkarya.
"Saya bekerja dengan senang dan tersenyum," ujarnya.
Sementara Jeremy, anggota lainnya, dengan penuh antusias menunjukkan sebuah pot bunga hasil karyanya yang menurutnya melambangkan keindahan budaya.
Melalui Kreaby, Arani Aslama berharap semakin banyak pihak membuka ruang kolaborasi bagi penyandang autisme. Baginya, apresiasi terhadap karya merupakan bentuk penghargaan atas kemampuan yang mereka miliki, sekaligus langkah nyata membangun masyarakat yang lebih inklusif.
"Harapan kami, penyandang autisme mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkarya, hasil karya mereka diapresiasi, dan semakin banyak kolaborasi yang melibatkan komunitas autisme di berbagai bidang," tutup Arani.
Penulis: Ashad Rizki
Editor: Ashad Rizki
Liputan Khusus Lainnya:
Kisah Angel Electra Vega Suseno, Penyandang Tunanetra Lolos Diterima Kuliah di UGM
Kisah Fathan, Bantu Ibu Berjualan di Kantin Sekolah dan Wujudkan Mimpi Kuliah Gratis di UGM
Dua Dosen Universitas Brawijaya Raih Best Presenter pada IAIT 2026 di Thailand