Kisah Ahmad Hasyim Wibisono: Perjalanan Membangun Pedis Care, Saat Teknologi dan Empati Bersatu Menyelamatkan Pasien Diabetes

Schoolmedia News Malang = Di sebuah ruang perawatan di Malang pada 2008, Ahmad Hasyim Wibisono menyaksikan pemandangan yang terus membekas dalam ingatannya. Seorang pasien diabetes datang dengan luka di kaki yang awalnya tampak sederhana. Namun, karena penanganan yang kurang tepat, luka itu semakin memburuk. Pilihan terakhir yang tersisa hanyalah amputasi.
Bagi Hasyim, pemandangan itu bukan sekadar bagian dari rutinitas pendidikan profesinya sebagai perawat. Ada pertanyaan yang terus mengusik benaknya: Benarkah tidak ada cara lain agar pasien-pasien ini bisa mempertahankan anggota tubuhnya?
Pertanyaan itulah yang kemudian mengubah arah hidupnya.
Saat itu, diabetes memang telah menjadi ancaman serius. Banyak penderita datang terlambat berobat, sementara pemahaman masyarakat mengenai perawatan luka diabetes masih sangat terbatas. Luka sering kali diperlakukan seperti luka biasa—dibersihkan, diganti perban, lalu ditutup kembali—padahal luka diabetes membutuhkan penanganan yang jauh lebih kompleks.
"Penanganannya masih seadanya. Diganti perban yang lama, dibersihkan, ditutup lagi. Tidak ada perawatan khusus, sehingga rata-rata pasien akhirnya harus menjalani amputasi," kenang Hasyim.
Alih-alih menerima keadaan, Hasyim memilih mencari jawaban. Ia mempelajari berbagai metode modern perawatan luka diabetes, mengikuti perkembangan ilmu keperawatan, hingga melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Latar belakang akademiknya membawanya menempuh pendidikan Keperawatan di Universitas Brawijaya, melanjutkan magister di Universitas Indonesia, kemudian memperdalam Manajemen dan Pendidikan Diabetes di Flinders University, Australia.
Namun, ilmu saja belum cukup jika tidak sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
Berangkat dari keresahan itu, Hasyim mendirikan Pedis Care, sebuah layanan kesehatan berbasis home care yang berfokus pada perawatan luka diabetes dan luka kronis lainnya, seperti luka akibat kanker maupun luka bakar. Baginya, Pedis Care bukan sekadar layanan kesehatan, melainkan upaya menghadirkan harapan baru bagi pasien yang selama ini merasa pilihan mereka hanya satu: amputasi.
Seiring waktu, Pedis Care terus berkembang. Hasyim menyadari bahwa perawatan luka tidak hanya membutuhkan tenaga medis yang kompeten, tetapi juga teknologi yang mampu membantu proses diagnosis menjadi lebih cepat dan akurat.
Melalui aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI), tim Pedis Care kini dapat menganalisis kondisi luka hanya dengan menggunakan kamera telepon pintar. Foto dan video luka yang diambil dari beberapa sudut akan diproses oleh sistem untuk menghitung luas luka, kedalaman, hingga persentase jaringan sehat maupun jaringan mati.
"Dulu pengukuran luka dilakukan manual dan membutuhkan waktu cukup lama. Sekarang AI bisa langsung memberikan hasil analisis sehingga kami lebih cepat menentukan strategi perawatan," jelas Hasyim.
Teknologi tersebut bukan untuk menggantikan tenaga kesehatan, melainkan menjadi alat bantu agar pasien memperoleh penanganan yang lebih cepat dan tepat. Setelah proses analisis dilakukan, pasien tetap mendapatkan pendampingan langsung melalui layanan home care maupun rujukan ke dokter spesialis atau rumah sakit jika diperlukan.
Di balik inovasi itu, perjalanan Pedis Care tidak selalu berjalan mulus.
Ketika pertama kali diperkenalkan, banyak masyarakat maupun tenaga kesehatan yang masih ragu terhadap konsep layanan perawatan luka di luar rumah sakit. Hasyim bersama tim harus bekerja keras membangun kepercayaan.
Mereka mendatangi kampus, komunitas, hingga rumah sakit untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya perawatan luka diabetes. Webinar rutin digelar, media sosial dan kanal YouTube dimanfaatkan sebagai sarana berbagi informasi, sementara berbagai pelatihan profesional terus diselenggarakan agar semakin banyak tenaga kesehatan memahami standar perawatan luka modern.
"Kami belajar marketing dari nol. Kami membaca, berdiskusi dengan banyak orang, lalu mulai melakukan berbagai aktivitas promosi dan edukasi agar masyarakat memahami pentingnya perawatan luka yang benar," ujarnya.
Di tengah perjalanan itu, Hasyim juga menemukan kenyataan lain yang tak kalah menyentuh. Banyak pasien sebenarnya ingin sembuh, tetapi tidak mampu membayar biaya perawatan yang harus dilakukan secara rutin.
Karena itu, Pedis Care menghadirkan program subsidi silang. Pasien yang memiliki kemampuan finansial dapat berdonasi untuk membantu pasien lain yang kurang mampu. Selain itu, Pedis Care bekerja sama dengan berbagai lembaga filantropi, seperti IndoPeduli Adelaide, Rumah Zakat, dan Dompet Dhuafa, agar semakin banyak pasien tetap memperoleh akses terhadap layanan kesehatan.
Bagi Hasyim, kesehatan tidak boleh menjadi hak yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang mampu.
Komitmen tersebut membawa Pedis Care berkembang menjadi layanan kesehatan terpadu di rumah. Tidak hanya menyediakan perawatan luka, tetapi juga layanan kunjungan dokter, fisioterapi, bidan, penyewaan alat kesehatan, pemeriksaan laboratorium, hingga penyediaan berbagai kebutuhan medis.
Berbagai penghargaan pun datang sebagai bentuk apresiasi atas inovasi tersebut, mulai dari penghargaan Kementerian Kesehatan, Next Space Startup Competition, hingga SATU Indonesia Awards dari Astra. Namun bagi Hasyim, pencapaian terbesar bukanlah deretan trofi.
Baginya, keberhasilan sesungguhnya adalah ketika seorang pasien yang sebelumnya terancam kehilangan kaki akhirnya dapat kembali berjalan, berkumpul bersama keluarga, dan menjalani hidup dengan lebih baik.
Hingga kini, Pedis Care terus memperluas perannya sebagai pusat edukasi mengenai diabetes dan perawatan luka. Melalui pelatihan terakreditasi Kementerian Kesehatan, kelas daring, media sosial, hingga pengembangan platform pembelajaran digital, Hasyim berharap semakin banyak masyarakat memahami bahwa luka diabetes bukanlah vonis amputasi apabila ditangani sejak dini dan dengan cara yang tepat.
Perjalanan Ahmad Hasyim Wibisono membuktikan bahwa inovasi sering kali lahir dari rasa peduli. Berawal dari kegelisahan melihat pasien kehilangan harapan, ia menghadirkan solusi yang memadukan ilmu keperawatan, teknologi, dan empati.
Sebab di balik
setiap luka yang berhasil disembuhkan, tersimpan harapan baru bahwa kualitas
hidup seseorang masih bisa dipertahankan. Dan bagi Hasyim, itulah makna
sesungguhnya dari sebuah pelayanan kesehatan.
Penulis: Ashad Rizki
Editor: Ashad Rizki
Sumber: https://www.idntimes.com/life/inspiration/ahmad-hasyim-wibisono-si-perawat-luka-00-mm7zv-w14dfq
Liputan Khusus Lainnya:
Arani Aslama: Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Autisme Lewat Kreaby
Kisah Angel Electra Vega Suseno, Penyandang Tunanetra Lolos Diterima Kuliah di UGM