Dari Anak Sopir Kelapa Sawit Menjadi Prajurit TNI: Perjuangan Galih Eza Gunawan Menggapai Mimpi

Schoolmedia News Purworejo = Setiap pagi, Ranto Gunawan Makmur berangkat bekerja sebagai sopir pengangkut kelapa sawit. Di balik kemudi truk yang ia jalankan setiap hari, tersimpan satu harapan sederhana: melihat anak sulungnya memiliki masa depan yang lebih baik.
Harapan itu kini menjadi kenyataan.
Di sebuah pengumuman hasil seleksi di Bandung, nama Galih Eza Gunawan dinyatakan lolos sebagai Bintara Khusus Penerangan TNI Angkatan Darat Tahun 2026. Kabar tersebut sontak membawa kebahagiaan bagi keluarga kecil di Desa Karangluas, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Bagi sebagian orang, kelulusan itu mungkin hanya sebuah pencapaian. Namun bagi keluarga Galih, keberhasilan tersebut adalah buah dari perjuangan panjang yang ditempuh di tengah keterbatasan ekonomi.
Galih lahir di Purworejo pada 30 Juni 2008 sebagai putra pertama pasangan Ranto Gunawan Makmur dan Eka Sri Dhesi Nurhandayani. Sejak kecil, ia tumbuh dalam keluarga sederhana yang mengajarkannya satu hal penting: tidak ada mimpi yang terlalu tinggi selama mau berusaha.
Sang ayah bekerja sebagai sopir pengangkut kelapa sawit, sementara ibunya menjadi sosok yang selalu hadir memberikan doa, semangat, dan keyakinan di setiap langkah perjuangan putranya.
"Sebagai orang tua saya sangat bangga. Walaupun Galih adalah anak seorang sopir kelapa sawit, dia berhasil meraih cita-citanya menjadi anggota TNI," ujar Eka dengan mata berbinar.
Bagi Eka, keberhasilan putranya bukan hanya menjadi kebanggaan keluarga. Ia juga ingin meluruskan anggapan yang masih berkembang di masyarakat mengenai proses rekrutmen TNI.
Menurutnya, seluruh tahapan seleksi yang dijalani Galih berlangsung secara terbuka, jujur, dan tanpa biaya.
"Saya ingin menyampaikan kepada masyarakat bahwa mendaftar TNI it gratis dan tidak ada biaya. Kami mengikuti seluruh proses sesuai ketentuan yang berlaku. Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendoakan dan mendukung perjalanan Galih sampai berhasil seperti sekarang," katanya.
Perjalanan menuju seragam loreng tentu tidak dilalui dengan mudah.
Galih harus melewati berbagai tahapan seleksi administrasi, kesehatan, psikologi, akademik, hingga kemampuan fisik yang menuntut disiplin dan ketahanan mental. Di setiap tahap, ia membawa satu keyakinan bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil.
Di balik kerja kerasnya, ada banyak tangan yang ikut menguatkan langkahnya.
Keluarga yang tak pernah berhenti mendoakan. Guru-guru yang terus membimbing. Teman-teman yang memberikan semangat. Hingga keluarga besar Madrasah Alif Yaasin Desa Gedong yang selalu menyertai perjuangannya dengan doa.
"Terima kasih kepada keluarga, teman-teman, guru, dan keluarga besar Madrasah Alif Yaasin Desa Gedong yang selalu memberikan semangat. Dukungan dan doa mereka menjadi penyemangat saya dalam setiap proses yang dijalani," ujar Galih.
Sebelum mengenakan seragam TNI, Galih merupakan siswa SMK VIP Ma'arif NU Kemiri Angkatan XI Tahun 2026 dari jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV).
Di sekolah, ia dikenal sebagai pribadi yang aktif, mudah bergaul, dan memiliki semangat belajar yang tinggi. Ia juga mengikuti Praktik Kerja Lapangan (PKL) di LC Computer. Pengalaman tersebut tidak hanya memberinya keterampilan teknis, tetapi juga membentuk karakter disiplin, tanggung jawab, serta kemampuan berkomunikasi yang kelak menjadi bekal dalam meniti karier sebagai prajurit.
Kini, setelah berhasil melewati seleksi yang ketat, Galih memandang keberhasilannya bukan sebagai garis akhir, melainkan awal dari sebuah pengabdian.
"Semoga apa yang saya dapatkan bisa bermanfaat bagi bangsa dan negara," ucapnya penuh syukur.
Kisah Galih menjadi pengingat bahwa mimpi tidak pernah memilih siapa yang berhak mewujudkannya.
Ia lahir bukan dari keluarga berada. Ia bukan anak pejabat ataupun orang terpandang. Namun, dengan kerja keras, disiplin, doa yang tak pernah putus, serta dukungan keluarga, ia berhasil membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita.
Dari sebuah rumah sederhana di Purworejo, lahirlah seorang pemuda yang kini siap mengabdi kepada bangsa. Perjalanan Galih Eza Gunawan mengajarkan satu hal sederhana namun bermakna: ketika tekad lebih besar daripada keterbatasan, maka mimpi yang semula hanya tersimpan dalam doa perlahan akan menemukan jalannya menjadi kenyataan.
Penulis: Ashad Rizki
Editor: Ashad Rizki
Liputan Khusus Lainnya:
Kisah Eri Kuncoro: Menjaga Denyut UMKM dari Yogyakarta yang Lahir dari Kepedulian Lewat Gerakan Yuk Tukoni!