Kisah Eri Kuncoro: Menjaga Denyut UMKM dari Yogyakarta yang Lahir dari Kepedulian Lewat Gerakan Yuk Tukoni!

Schoolmedia News Yogyakarta = Pagi itu, jalanan Yogyakarta terasa lengang. Warung-warung yang biasanya dipenuhi pelanggan mendadak sunyi. Aroma makanan yang biasa mengundang orang untuk mampir seolah menguap bersama harapan para pelaku usaha kecil. Di balik etalase yang masih terbuka, banyak pedagang hanya bisa menunggu, berharap ada satu-dua pembeli datang.
Salah satunya adalah Pak Amin, penjual mi ayam di dekat rumah Eri Kuncoro. Mi ayam racikannya dikenal lezat, tetapi pandemi COVID-19 membuat dagangannya nyaris tak tersentuh. Setiap hari, jumlah pembeli terus menurun. Bukan hanya omzet yang hilang, melainkan juga harapan untuk mempertahankan usaha yang telah menjadi sumber nafkah keluarga.
Pemandangan itulah yang mengusik hati Eri.
Di matanya, pandemi bukan sekadar krisis kesehatan. Pandemi juga mengancam jutaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang selama ini menjadi denyut perekonomian Indonesia. Ketika satu warung tutup, ada keluarga yang kehilangan penghasilan. Ketika satu usaha berhenti berproduksi, ada mata rantai ekonomi yang ikut terputus.
"Kegelisahan itu yang membuat saya bersama partner saya membuat gerakan Yuk Tukoni," kenang Eri saat berbagi cerita dalam Workshop Kompetisi Menulis Anugerah Pewarta Astra 2025.
Bersama rekannya, Revo Suladasha, Eri memilih untuk tidak sekadar menyaksikan kondisi tersebut. Mereka bergerak.
Lahir dari semangat gotong royong, mereka membangun **Yuk Tukoni**—yang dalam bahasa Indonesia berarti "Ayo Beli". Bukan marketplace besar dengan modal melimpah, melainkan sebuah gerakan sosial yang mengajak masyarakat membeli produk tetangga sendiri agar usaha kecil tetap bertahan.
Mereka mulai dari langkah sederhana. Produk-produk UMKM dikumpulkan dalam satu tempat, difoto dengan lebih menarik, dikemas ulang agar lebih higienis dan aman, kemudian dipromosikan melalui Instagram serta dipasarkan melalui WhatsApp. Teknologi digital yang selama ini lebih banyak dimanfaatkan pelaku usaha besar, kini menjadi penyelamat bagi usaha-usaha kecil.
Pak Amin menjadi salah satu bukti nyata.
Mi ayam yang biasanya hanya dijual hangat di warung diubah menjadi produk beku (frozen food). Tim Yuk Tukoni membantu mengemas ulang, melengkapi petunjuk memasak, lalu memasarkannya secara daring sehingga pelanggan tetap dapat menikmati mi ayam favorit mereka dari rumah.
"Inspirasi awal pada waktu itu ada penjual mi ayam enak namanya Pak Amin dekat rumah yang sempat tidak laku. Lalu kami frozen, packing ulang, dan kami bagikan ke banyak orang untuk dibuat di rumah. Sehingga Pak Amin bisa terus membuat dan tidak jadi pulang kampung karena usahanya tidak laku," tutur Eri.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya sebungkus mi ayam. Namun bagi Pak Amin, itu adalah alasan untuk terus bertahan.
Dari satu kisah, lahirlah banyak kisah lainnya.
Yuk Tukoni tidak berhenti pada pemasaran. Eri dan tim mendampingi pelaku UMKM memperbaiki kualitas kemasan, memastikan produk lebih higienis, aman, dan layak dikirim ke berbagai daerah. Mereka percaya bahwa produk lokal memiliki kualitas yang tidak kalah dengan produk besar. Yang dibutuhkan hanyalah kesempatan untuk dikenal.
"Kalau packaging mereka belum aman, kami bantu supaya menjadi aman dan higienis. Kami ingin produk mereka benar-benar bisa dinikmati konsumen dengan kualitas terbaik," ujar Eri.
Pendampingan itu menjadi titik balik bagi banyak UMKM. Produk yang sebelumnya hanya dijual di lingkungan sekitar kini mulai menjangkau konsumen dari berbagai kota melalui media sosial dan marketplace. Mulai dari makanan beku, camilan tradisional, keripik, hingga aneka makanan khas Yogyakarta perlahan menemukan pasarnya.
Lebih dari sekadar membantu penjualan, Yuk Tukoni membangun kepercayaan. Setiap produk yang dipasarkan telah melalui proses kurasi sehingga kualitasnya tetap terjaga. Di sisi lain, para pelaku UMKM memperoleh pendampingan dalam pemasaran, pengemasan, hingga distribusi.
Bagi Eri, keberhasilan bukan diukur dari seberapa besar keuntungan yang diperoleh.
"Jangan mulai dari ingin menang, tapi mulailah dari ingin berdampak. Lihatlah sekitar dengan hati terbuka karena setiap masalah bisa menjadi cerita yang menggerakkan," pesannya.
Prinsip sederhana itulah yang terus menjadi napas Yuk Tukoni hingga kini.
Dari gerakan kecil yang lahir di tengah pandemi, Yuk Tukoni telah berkembang menjadi rumah bagi sekitar 60 UMKM yang tersebar di Yogyakarta, Jawa Tengah, Madiun, hingga Semarang. Ribuan produk berhasil dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, membuka peluang baru bagi pelaku usaha untuk berkembang lebih jauh.
Dedikasi tersebut juga mendapat apresiasi melalui penghargaan **SATU Indonesia Awards** pada tahun 2020 dalam kategori *Pejuang Tanpa Pamrih di Masa Pandemi COVID-19*. Penghargaan itu menjadi pengakuan atas semangat Eri dan Revo yang memilih menjadikan kepedulian sebagai solusi ketika banyak orang diliputi ketidakpastian.
Kisah Yuk Tukoni membuktikan bahwa perubahan tidak selalu lahir dari langkah besar. Terkadang, perubahan bermula dari kepedulian terhadap tetangga yang kesulitan menjual mi ayamnya. Dari satu tindakan sederhana, lahir sebuah gerakan yang menghubungkan teknologi dengan kemanusiaan, pasar dengan harapan, serta UMKM dengan masa depan yang lebih baik.
Di balik setiap produk lokal yang kini sampai ke tangan konsumen, tersimpan cerita tentang orang-orang yang memilih saling menguatkan. Dan di situlah, Yuk Tukoni tidak hanya menjual produk—tetapi juga menjaga denyut kehidupan para pelaku UMKM Indonesia.
Penulis: Ashad Rizki
Editor: Ashad Rizki
Liputan Khusus Lainnya:
Kisah Angel Electra Vega Suseno, Penyandang Tunanetra Lolos Diterima Kuliah di UGM
Kisah Fathan, Bantu Ibu Berjualan di Kantin Sekolah dan Wujudkan Mimpi Kuliah Gratis di UGM