Schoolmedia News
SCHOOL MEDIA® News
kembali
tokoh

Dari Dongeng Sebelum Tidur hingga Ketelitian di Ruang Ujian: Kisah Dua Siswa SDN 4 Wates Meraih Nilai 100 TKA Matematika

author Andeliyumna
Jul 09, 2026 |

Schoolmedia News Kulon Progo = Malam-malam di rumah Shin Hafidz Rashaad Salim selalu ditutup dengan sebuah cerita. Sebelum tidur, kedua orang tuanya membacakan buku demi buku. Bukan untuk mengejar nilai tinggi, melainkan membangun kebiasaan belajar yang menyenangkan sejak usia dini.


Sementara itu, di sudut lain Kabupaten Kulon Progo, Abimael Ragnar Mackenzie tumbuh sebagai anak yang lebih dikenal gemar bernyanyi lagu Jawa dan aktif dalam berbagai kegiatan seni. Di sekolah, ia sering tampil percaya diri, tetapi tidak banyak yang menyangka bahwa kecintaannya pada seni akan beriringan dengan prestasi luar biasa di bidang akademik.


Siapa sangka, dua anak dengan latar kebiasaan yang berbeda itu dipertemukan oleh satu pencapaian yang sama.


Keduanya berhasil meraih nilai sempurna 100 pada mata pelajaran Matematika dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025, mengharumkan nama SD Negeri 4 Wates, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.


Prestasi tersebut menjadi istimewa karena TKA tahun ini merupakan pelaksanaan pertama berskala nasional. Soal yang diterima setiap peserta tidak sepenuhnya sama sehingga hasil akhirnya sulit diprediksi.


"Alhamdulillah ada dua anak kami yang mendapat nilai sempurna 100," ujar Kepala SD Negeri 4 Wates, Harni Astuti, dengan wajah penuh syukur.


Bagi Harni, pencapaian itu bukan sekadar soal angka. Di balik nilai sempurna terdapat proses panjang yang dijalani siswa bersama guru dan keluarga.


Hasil TKA tahun ini juga menunjukkan kualitas pembelajaran di SD Negeri 4 Wates. Rata-rata nilai Matematika sekolah mencapai 69,94, sedangkan Bahasa Indonesia 81,70. Angka tersebut melampaui rata-rata Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta maupun rata-rata nasional.

Namun, kisah yang paling menarik justru datang dari balik meja belajar kedua siswa tersebut.


Dongeng yang Menumbuhkan Cara Berpikir

Di mata wali kelasnya, Shin Hafidz dikenal sebagai anak yang aktif dan memiliki kemampuan bernalar yang baik. Ia tidak ragu mengangkat tangan ketika guru memberikan pertanyaan dan sering kali mampu menyelesaikan soal di depan kelas.


Menurut Wali Kelas 6B, Riana Astuti, kemampuan itu tidak muncul begitu saja.


Ada kebiasaan sederhana yang dibangun orang tuanya sejak Shin masih kecil, yaitu membacakan cerita sebelum tidur.


"Sejak kecil dia memang sering dibacakan cerita oleh orang tuanya sebelum tidur. Kebiasaan seperti itu bisa membangun anak menjadi lebih terbiasa memahami cerita dan melatih kemampuan bernalar," tutur Riana.


Bagi keluarga Shin, membaca bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang. Kebiasaan itu perlahan membentuk rasa ingin tahu, kemampuan memahami informasi, dan cara berpikir logis yang akhirnya menjadi bekal saat menghadapi berbagai persoalan, termasuk soal-soal Matematika.


Anak Seni yang Menaklukkan Matematika


Jika Shin dikenal sebagai siswa yang konsisten berprestasi di kelas, kisah Ragnar menghadirkan kejutan.


Guru-gurunya lebih sering melihat Ragnar tampil dalam kegiatan seni dan budaya. Ia gemar menyanyi lagu Jawa, aktif mengikuti berbagai kegiatan sekolah, dan dikenal percaya diri mencoba hal-hal baru.


Karena itulah, Wali Kelas 6A, Ulfa Fauzia, mengaku tidak menyangka Ragnar mampu memperoleh nilai sempurna pada Matematika.


Bahkan setelah mengikuti TKA, Ragnar sempat merasa hasil Matematikanya tidak begitu baik. Ia justru lebih yakin akan memperoleh nilai tinggi pada Bahasa Indonesia.


"Ternyata hasilnya malah sebaliknya, dia mendapat nilai 100 di Matematika," ujar Ulfa.


Menurutnya, keberhasilan Ragnar lahir dari satu kebiasaan sederhana yang sering luput diperhatikan: ketelitian.


"Dia anak yang teliti dan tidak terburu-buru. Saat mengerjakan soal dia membaca dengan cermat sehingga kemungkinan kesalahan bisa diminimalkan," jelasnya.


Di tengah budaya serba cepat, ketelitian justru menjadi kekuatan Ragnar.


Prestasi yang Dibangun Bersama


Keberhasilan Shin dan Ragnar menjadi pengingat bahwa prestasi anak tidak lahir secara instan.


Ada keluarga yang menyediakan waktu membacakan cerita setiap malam. Ada guru yang sabar mendampingi proses belajar. Ada sekolah yang menciptakan lingkungan belajar yang positif. Dan tentu saja, ada anak-anak yang tekun belajar serta berani menghadapi tantangan.


Pelaksanaan TKA nasional tahun ini menjadi bukti bahwa siswa-siswa dari daerah mampu bersaing dengan siapa pun ketika memperoleh kesempatan dan pendampingan yang tepat.


Bagi SD Negeri 4 Wates, nilai 100 bukanlah garis akhir.


Prestasi itu menjadi penanda bahwa pendidikan terbaik tidak hanya menghasilkan siswa yang pandai mengerjakan soal, tetapi juga membentuk karakter, rasa ingin tahu, ketekunan, dan kepercayaan diri.


Sebab, di balik setiap angka sempurna, selalu ada cerita tentang keluarga yang tak lelah mendampingi, guru yang setia membimbing, dan anak-anak yang memilih untuk terus belajar hingga mampu melampaui batas yang mereka bayangkan sendiri.


Penulis: Ashad Rizki

Editor: Ashad Rizki

Sumber:https://yogyakarta.kompas.com/read/2026/06/02/172805778/nilai-tka-matematika-sempurna-dua-siswa-sd-kulon-progo-punya-kisah?page=all#page2


Dari Anak Sopir Kelapa Sawit Menjadi Prajurit TNI: Perjuangan Galih Eza Gunawan Menggapai Mimpi
tokoh Selanjutnya
Dari Anak Sopir Kelapa Sawit Menjadi Prajurit TNI: Perjuangan Galih Eza Gunawan Menggapai Mimpi
author Andeliyumna
Jul 09, 2026
Kisah Ahmad Hasyim Wibisono: Perjalanan Membangun Pedis Care, Saat Teknologi dan Empati Bersatu Menyelamatkan Pasien Diabetes
tokoh Sebelumnya
Kisah Ahmad Hasyim Wibisono: Perjalanan Membangun Pedis Care, Saat Teknologi dan Empati Bersatu Menyelamatkan Pasien Diabetes
author Andeliyumna
Jul 08, 2026