Imam Pinarko, Penjaga Sunyi Candi Kidal yang Merawat Jejak Peradaban

Schoolmedia News Malang = Mentari pagi baru saja menyinari pelataran Candi Kidal ketika seorang pria dengan sapu lidi di tangan mulai menyusuri setiap sudut bangunan kuno itu. Sesekali ia menatap relief-relief batu yang telah bertahan selama berabad-abad, memastikan tidak ada lumut atau rerumputan yang perlahan menggerogoti warisan sejarah tersebut. Bagi banyak orang, Candi Kidal adalah destinasi wisata sejarah. Namun bagi Imam Pinarko, candi itu adalah bagian dari hidupnya.
Jika ingin mengetahui kisah Candi Kidal secara utuh, masyarakat sekitar akan menyarankan satu nama: Imam Pinarko. Dengan tutur kata yang tenang dan pengetahuan yang mendalam, ia mampu menjelaskan sejarah, arsitektur, filosofi, hingga setiap detail bangunan peninggalan Kerajaan Singhasari itu tanpa membuka buku.
Kemampuan tersebut bukan diperoleh dalam semalam. Imam adalah generasi keempat keluarga juru pelihara Candi Kidal. Pengabdian keluarganya dimulai dari buyutnya, Mbah Suranten, yang dipercaya menjadi juru pelihara pertama sekaligus diduga ikut menemukan keberadaan Candi Kidal sebelum dilakukan ekskavasi. Tugas itu diteruskan oleh Mbah Khairun, Mbah Kadir, kemudian ayahnya, Mbah Rabun, yang mengabdikan hidupnya sebagai pemelihara candi sejak 1955 hingga 2010.
"Pesan bapak sederhana, harus ada yang meneruskan menjaga Candi Kidal," kenang Imam.
Pesan itu terus terpatri dalam ingatannya. Meski pernah merasa bimbang ketika melihat teman-teman sebayanya merantau dan memperoleh kehidupan yang lebih mapan, Imam memilih tetap tinggal. Ia melanjutkan jejak ayahnya, merawat bangunan berusia ratusan tahun yang menjadi saksi perjalanan sejarah Nusantara.
Sejak kecil, Imam sudah terbiasa membantu membersihkan kawasan candi. Saat berusia 17 tahun, ia mulai terlibat lebih serius mendampingi sang ayah. Tahun 2007 menjadi titik penting dalam hidupnya ketika ia resmi diangkat sebagai juru pelihara candi. Saat itu gaji yang diterimanya hanya Rp25 ribu sebagai pegawai golongan IC. Baginya, jumlah itu bukan alasan utama untuk bertahan.
Pengabdiannya kemudian berlanjut ketika ia diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil. Namun status tersebut tidak pernah mengubah cara pandangnya terhadap profesi yang dijalani. Ia tetap lebih dikenal masyarakat sebagai penjaga Candi Kidal dibanding seorang aparatur negara.
Kecintaannya terhadap sejarah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah. Mata pelajaran sejarah menjadi favoritnya. Rasa ingin tahu membuatnya membaca berbagai literatur, berdiskusi dengan para peneliti dan arkeolog, serta belajar langsung dari pengalaman selama bertahun-tahun merawat candi.
Ayahnya justru tidak pernah memberikan jawaban secara mudah.
"Kalau bertanya, bapak selalu bilang, 'Cari sendiri sebagai lelaki.'"
Kalimat sederhana itu menjadi bekal bagi Imam untuk terus belajar. Ia percaya, pengetahuan akan lebih melekat ketika diperoleh melalui proses pencarian.
Kini, hampir seluruh sudut Candi Kidal tersimpan dalam ingatannya. Ia mengetahui adanya sumur berbentuk bujur sangkar di ruang utama candi dengan kedalaman sekitar sembilan meter. Ia juga memahami konstruksi puncak candi sebelum dipasang penangkal petir, hingga teknik konservasi yang aman bagi batu-batu kuno.
Namun pekerjaan Imam jauh dari kata mudah.
Setiap beberapa bulan sekali, ia harus memanjat bagian puncak candi untuk membersihkan lumut dan rumput liar yang tumbuh di sela-sela batu. Tanpa alat khusus layaknya pemanjat profesional, ia memanfaatkan struktur bangunan sebagai pijakan dengan penuh kehati-hatian. Satu langkah yang keliru dapat membahayakan dirinya sekaligus merusak bangunan bersejarah.
Semua dilakukan menggunakan alat sederhana. Lumut dibersihkan dengan sapu lidi agar tidak menggores permukaan batu. Cara ini merupakan warisan dari ayahnya yang selalu menanamkan prinsip bahwa setiap bagian candi harus diperlakukan dengan penuh penghormatan.
Bahkan sebelum memulai pekerjaannya, Imam selalu memanjatkan doa sebagai bentuk penghormatan kepada warisan leluhur yang telah dipercayakan untuk dijaga.
Keahlian yang dimilikinya membuat Imam tidak hanya merawat Candi Kidal. Ia juga kerap diminta membantu pemeliharaan cagar budaya lain di wilayah Malang. Pengalamannya selama puluhan tahun menjadi bekal penting dalam menjaga berbagai peninggalan sejarah agar tetap lestari.
Di tengah modernisasi yang terus bergerak cepat, pengabdian Imam Pinarko menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada kebijakan atau teknologi. Di balik kokohnya bangunan-bangunan bersejarah, selalu ada tangan-tangan yang bekerja dalam diam, merawat setiap batu, menjaga setiap relief, dan memastikan sejarah tidak hilang ditelan waktu.
Bagi Imam Pinarko, menjaga Candi Kidal bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah amanah keluarga, panggilan hati, sekaligus bentuk cinta kepada warisan peradaban Indonesia.
"Selama saya masih mampu, Candi Kidal akan tetap saya rawat. Karena sejarah hanya bisa diwariskan jika ada yang menjaganya."
Penulis: Ashad Rizki
Editor: Ashad Rizki
Sumber: https://www.kompas.id/artikel/imam-pinarko-sejak-kecil-merawat-warisan-leluhur?open_from=Tokoh_Page
Liputan Khusus Lainnya:
Kisah Fathan, Bantu Ibu Berjualan di Kantin Sekolah dan Wujudkan Mimpi Kuliah Gratis di UGM
Dua Dosen Universitas Brawijaya Raih Best Presenter pada IAIT 2026 di Thailand
Aktif Organisasi dan Kompetisi, Maureen Lulus S1 Terapan dengan Masa Studi Tercepat di UGM