Sinkronisasi Program Kegiatan Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting 2024

 

Schoolmedia News Jakarta --- ‘Menghidupkan data’, adalah tagline yang diangkat  Kepala BKKBN RI, dokter Hasto, dalam Pertemuan Koordinasi dan Sinkronisasi Program Kegiatan Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting Bagi Tim Kerja Bidang Advokasi, Penggerakan dan Informasi Pusat dan Provinsi Tahun 2024 yang dilaksanakan di Hotel Melia Purosani, Yogyakarta.

Dalam sambutannya, dokter Hasto  yang menyampaikan paparan pada Rabu malam (6/3/2024), menyoroti bahwa data yang akurat dan terkini menjadi kunci dalam merancang strategi, mengidentifikasi tantangan, dan mengukur dampak dari setiap intervensi yang dilakukan.

Dengan menghidupkan data, diharapkan oleh dokter Hasto, langkah-langkah yang diambil dapat lebih tepat sasaran dan memberikan manfaat maksimal serta berkontribusi dalam pembuatan kebijakan yang ‘One Fit for All’. Terutama dalam penurunan angka stunting di Indonesia.

BKKBN memiliki sumber data utama yaitu New Siga atau Sistem Informasi Keluarga, sebuah sistem informasi yang lebih kekinian dan akuntabel yang menjadi data operasional bagi petugas KB dan pihak terkait dalam melakukan intervensi terhadap program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, Keluarga Berencana (Bangga Kencana), khususnya dalam rangka percepatan penurunan stunting.

Selain data, unmeet need (kebutuhan ber-KB yang belum terpenuhi atau  terlayani) juga menjadi fokus perhatian. Termasuk alasan kesehatan yang diidentifikasi sebagai sumber utama dari putus KB dengan persentase  55.97% dan pada kelompok umur 30-34 tahun mencapai 13.3%.

Temuan ini menyoroti pentingnya memperhatikan aspek kesehatan dalam menyusun kebijakan dan program yang efektif untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Selain itu, mengutip sebuah survei, dokter Hasto mengungkap bahwa   angka pernikahan mengalami penurunan signifikan pada  2023, mencapai rekor terendah dalam satu dekade terakhir dengan hanya 1.58 juta pernikahan, dibandingkan  puncaknya pada 2013 yang mencapai 2.21 juta pernikahan.

Menurut dokter Hasto, semakin kaya, pendidikan  semakin tinggi dan bermukim di perkotaan  berkolerasi erat dengan median usia menikah yang semakin mundur.

"Kondisi ini berpengaruh terhadap  bonus demografi,  Total Fertility Rate (TFR), Laju Pertumbuhan Penduduk,  midle incom trap, dan berpengaruh juga terhadap upaya Indonesia menjadi  empat negara besar di dunia," urai dokter Hasto.

Dokter Hasto juga menegaskan bahwa unmeet need secara erat terkait dengan masalah stunting. Karena dengan ber-KB, kelahiran bayi- bayi stunting baru dapat dicegah.  

Stunting, sebagai dampak dari kekurangan gizi kronis pada anak-anak, mencerminkan ketidakmampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan nutrisi yang esensial pada tahap-tahap penting perkembangan manusia.

Penyelidikan dan upaya pencegahan stunting, menurut dokter Hasto, membutuhkan pemahaman yang komprehensif terhadap faktor-faktor yang menyebabkan unmeet need, seperti keterbatasan akses terhadap makanan bergizi, kurangnya edukasi gizi, serta kurangnya layanan kesehatan yang berkualitas.

"Semuanya itu perlu diatasi melalui pendekatan yang holistik dan terkoordinasi," ujar dokter Hasto di depan sekitar 230 peserta Bidang Adpin yang hadir dari seluruh BKKBN Provinsi.

Studi Pemaknaan Stunting

Dokter Hasto juga menyampaikan bahwa studi Pemaknaan Stunting yang dilaksanakan di 31 Provinsi dengan 1676 responden menunjukkan bahwa 89% responden sangat tidak setuju jika stunting itu hoax dan 98.3% responden menyatakan stunting berbahaya untuk kesehatan anak, meskipun 5 dari 10 responden (50%) tidak percaya bahwa stunting bisa menghambat kognitif anak.

"Meskipun terdapat barrier perspective atau bagaimana pemaknaan dasar tentang stunting, ternyata berbanding sangat terbalik dengan bukti ilmiah kedokteran," urai dokter Hasto.

Hal ini menjadi tantangan bagaimana pemangku kepentingan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai stunting agar Indonesia terbebas dari stunting.

"Partisipasi aktif dari semua pihak, baik di tingkat daerah maupun nasional, sangat diperlukan. Pembahasan terkait dengan program Bangga Kencana tetap menjadi prioritas, dengan fokus pada aplikasi dan implementasi di tingkat kabupaten dan kota," ujarnya.

Menurut dokter Hasto, diperlukan kerjasama yang erat antara pemerintah pusat, daerah, dan berbagai pihak terkait untuk memastikan kesuksesan program-program yang dijalakankan BKKBN.

• Pembangunan berkelanjutan

"Keseluruhan, upaya memperkuat kebijakan dan pelaksanaan program-program strategis akan terus menjadi fokus dalam rangka mencapai tujuan pembangunan  berkelanjutan", tegas Deputi bidang Advokasi, Penggerakan dan Informasi, BKKBN, Drs. Sukaryo Teguh Santoso, MPd, ketika menyampaikan progres hasil diskusi yang membahas teknis pelaksanaan program di 2024.

Rapat koordinasi teknis yang dilaksanakan selama empat hari menyoroti pentingnya evaluasi komunikasi yang berkelanjutan, melalui survei dan audit komunikasi, untuk memastikan efektivitas strategi yang diterapkan.

Selain itu, penting juga melakukan pendekatan advokasi dan kemitraan yang baik. Termasuk strategi untuk memetakan isu-isu penting, menyusun langkah-langkah advokasi yang dapat diterima, serta memastikan kemitraan yang kuat dengan instansi terkait. Kesemuanya menjadi fokus diskusi.

Dengan demikian, output yang dihasilkan dari rakortek ini dapat memberikan landasan yang kokoh untuk upaya bersama dalam meningkatkan kualitas komunikasi dan pemanfaatan data dalam mendukung pembangunan keluarga di Indonesia.

Dalam sesi penutup, dokter Hasto menyampaikan pentingnya kolaborasi lintas sektoral dalam menanggapi tantangan kesehatan yang kompleks.

Juga, perlu pendekatan holistik yang melibatkan berbagai pihak terkait. Termasuk pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan sektor swasta, untuk mencapai hasil yang optimal dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Diharapkan upaya bersama ini dapat membawa perubahan yang signifikan dalam meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat Indonesia untuk mencapai Indonesia Emas 2045

Tim Schoolmedia

Komentar

250 Karakter tersisa