Schoolmedia News
SCHOOL MEDIA® News
kembali
tokoh

Di Balik Asap Industri: Kisah Buruh Pabrik Rokok yang Bertahan di Tengah Kenaikan Cukai dan Gempuran Rokok Ilegal

author Andeliyumna
Jul 28, 2026 |
10 Dilihat

Schoolmedia News Kudus - Jarum jam belum menunjukkan pukul enam pagi ketika Siti Rahmawati sudah melangkahkan kaki memasuki area pabrik. Udara masih dingin, tetapi aktivitas di dalam gedung produksi telah dimulai. Dengan seragam kerja dan celemek yang telah menemaninya selama bertahun-tahun, ia memeriksa hasil lintingan rokok satu per satu. Ketelitian menjadi bagian dari pekerjaannya. Sedikit saja ada cacat, hasil produksi harus dipisahkan sebelum masuk ke tahap berikutnya. Rutinitas itu telah dijalani Siti selama belasan tahun. Baginya, pekerjaan di pabrik bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga menjadi jalan untuk membesarkan keluarga dan menjaga dapur tetap mengepul.

Ketika pertama kali bekerja, Siti hanyalah buruh borongan. Upah yang diterima bergantung pada jumlah hasil kerja setiap hari. Semakin banyak lintingan yang berhasil diselesaikan, semakin besar pula penghasilan yang dibawa pulang. Tidak ada kepastian pendapatan. Ada hari ketika ia bisa pulang dengan senyum karena hasil kerjanya melampaui target, tetapi ada pula hari ketika penghasilannya jauh dari harapan. Setelah bertahun-tahun bekerja dengan tekun, ia akhirnya dipercaya menjadi mandor yang mengawasi ratusan pekerja. Jabatan itu membawa tanggung jawab lebih besar, tetapi juga menjadi bukti bahwa kerja keras masih memiliki tempat di tengah kerasnya dunia industri.


Di balik hiruk-pikuk mesin produksi, pabrik rokok menyimpan ribuan cerita serupa. Sebagian besar pekerjanya adalah perempuan yang setiap pagi meninggalkan rumah demi memastikan anak-anak mereka tetap bisa sekolah. Ada yang menjadi tulang punggung keluarga, ada pula yang membantu menambah penghasilan suami. Bagi mereka, pekerjaan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan sumber kehidupan yang menopang kebutuhan sehari-hari. Setiap lembar gaji yang diterima telah memiliki tujuan sebelum sampai di tangan: membayar uang sekolah, membeli beras, memenuhi kebutuhan rumah tangga, hingga membantu orang tua yang sudah lanjut usia.

Namun, beberapa tahun terakhir, kecemasan mulai menghampiri para pekerja. Kenaikan cukai hasil tembakau yang terjadi secara berkala membuat biaya produksi meningkat dan harga produk menjadi lebih mahal. Di sisi lain, peredaran rokok ilegal menawarkan harga yang jauh lebih murah karena tidak memenuhi kewajiban cukai. Situasi ini menciptakan tekanan bagi industri legal. Sejumlah pelaku industri menyampaikan kekhawatiran bahwa penjualan dapat tertekan ketika konsumen beralih ke produk ilegal, sementara pemerintah juga terus melakukan penindakan terhadap peredaran rokok tanpa pita cukai resmi.


Bagi buruh, persoalan tersebut terasa sangat nyata. Mereka mungkin tidak ikut menyusun kebijakan fiskal, tidak pula terlibat dalam distribusi produk ilegal. Namun, setiap perubahan yang terjadi di industri dapat berdampak langsung pada kehidupan mereka. Kekhawatiran tentang berkurangnya produksi atau menyusutnya lapangan pekerjaan menjadi pembicaraan yang sering muncul di sela-sela jam istirahat. Ketika produksi menurun, bukan hanya pabrik yang terdampak, tetapi juga petani tembakau, sopir pengangkut, pedagang kecil di sekitar kawasan industri, hingga keluarga para pekerja yang menggantungkan hidup dari mata rantai ekonomi tersebut.

Meski demikian, para buruh tetap datang bekerja setiap pagi. Mereka memilih menjalani hari dengan sebaik-baiknya, menyelesaikan tugas secara profesional, dan berharap industri tempat mereka bekerja mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan. Di tengah perubahan kebijakan, perkembangan teknologi, serta dinamika pasar, mereka menyadari bahwa yang dapat mereka lakukan adalah terus bekerja dengan jujur dan menjaga kualitas hasil produksi.

_

Penulis: Ashad Rizki

Editor: Ashad Rizki

Sumber: https://mojok.co/liputan/sosok/buruh-pabrik-rokok-di-antara-kenaikan-cukai-dan-rokok-ilegal/

Semangkuk Kopi, Sepiring Nasi Kucing, dan Ribuan Kenangan: Kisah Angkringan Felix yang Menjadi Saksi Sejarah Mahasiswa Jogja
tokoh Selanjutnya
Semangkuk Kopi, Sepiring Nasi Kucing, dan Ribuan Kenangan: Kisah Angkringan Felix yang Menjadi Saksi Sejarah Mahasiswa Jogja
author Andeliyumna
Jul 28, 2026
Ketika Musik Masih Berputar dari Kaset: Kisah Toko Kurnia Ilahi yang Menjaga Kenangan dan Pernah Menjadi Persinggahan Didi Kempot
tokoh Sebelumnya
Ketika Musik Masih Berputar dari Kaset: Kisah Toko Kurnia Ilahi yang Menjaga Kenangan dan Pernah Menjadi Persinggahan Didi Kempot
author Andeliyumna
Jul 28, 2026

Komentar