Semangkuk Kopi, Sepiring Nasi Kucing, dan Ribuan Kenangan: Kisah Angkringan Felix yang Menjadi Saksi Sejarah Mahasiswa Jogja
Schoolmedia News Yogyakarta - Di sudut Gang Guru, tak jauh dari kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), berdiri sebuah angkringan sederhana yang mungkin tampak biasa bagi orang yang baru pertama kali melihatnya. Gerobak kayu, deretan nasi kucing, gorengan, serta aroma kopi panas menjadi pemandangan sehari-hari. Namun, bagi ribuan mahasiswa yang pernah singgah di sana, Angkringan Felix bukan sekadar tempat makan murah. Ia adalah ruang hidup yang menyimpan tawa, air mata, diskusi panjang, hingga jejak sejarah yang membentang selama puluhan tahun. Sejak mulai berjualan pada 28 Oktober 1994, Pak Felix tak hanya menjajakan makanan, tetapi juga menjadi saksi bisu perjalanan hidup banyak orang.
Sebelum menjadi penjual angkringan, Pak Felix bekerja di sebuah tempat fotokopi yang juga dekat dengan lingkungan kampus. Dari sanalah ia melihat bagaimana angkringan selalu menjadi tempat mahasiswa berkumpul. Berbekal keyakinan dan keberanian, ia memutuskan merintis usaha sendiri. Keputusan itu mengubah hidupnya. Sedikit demi sedikit, angkringannya mulai dikenal mahasiswa. Ia bahkan bermitra dengan rekannya, Temon, sehingga lahirlah nama "Angkringan Felix dan Temon" yang kemudian melegenda di kalangan civitas akademika UNY. Selama lebih dari tiga dekade, angkringan itu tetap berdiri, melewati pergantian generasi mahasiswa, perubahan kota, hingga berbagai dinamika sosial.

Salah satu babak yang paling membekas dalam ingatan Pak Felix adalah Reformasi 1998. Lokasi angkringannya yang berada tidak jauh dari Jalan Gejayan membuatnya menjadi saksi langsung gelombang demonstrasi mahasiswa yang mengguncang Indonesia. Ia melihat mahasiswa berdiskusi hingga larut malam, menyusun strategi aksi, bahkan berlarian menyelamatkan diri ketika gas air mata ditembakkan aparat. Dalam situasi yang mencekam itu, Pak Felix tetap membuka angkringannya selama memungkinkan. Ia menyaksikan mahasiswa makan tergesa-gesa sebelum ikut aksi, membantu mereka yang membutuhkan, dan merasakan langsung ketegangan masa ketika perubahan besar sedang diperjuangkan. Semua peristiwa itu melekat kuat dalam ingatannya sebagai bagian dari sejarah yang tidak akan pernah terlupakan.
Namun, tidak semua cerita di Angkringan Felix tentang demonstrasi dan perjuangan politik. Justru sebagian besar kenangan yang tersimpan adalah kisah-kisah sederhana yang sangat manusiawi. Di sanalah mahasiswa mengerjakan tugas bersama, berdiskusi tentang organisasi, merayakan kelulusan, hingga mengeluhkan nilai ujian. Tak sedikit pula pasangan mahasiswa yang menjadikan angkringan itu sebagai tempat berkencan. Bahkan, menurut pengakuan para pelanggannya, tempat itu juga kerap menjadi lokasi bertengkar dengan pacar sebelum akhirnya berdamai lagi sambil menikmati segelas teh hangat. Ketika ada mahasiswa yang sedang kehilangan arah atau menghadapi masalah hidup, Pak Felix tak jarang mendengarkan keluh kesah mereka dan memberikan nasihat layaknya seorang ayah. Karena itulah, bagi banyak alumni, Pak Felix bukan sekadar penjual angkringan, melainkan sosok keluarga kedua selama merantau di Yogyakarta.

Hubungan hangat itu terus terjaga hingga para mahasiswa lulus. Banyak alumni yang telah menjadi dosen, guru, pejabat, hingga profesional masih menyempatkan diri kembali ke Angkringan Felix ketika berkunjung ke Yogyakarta. Ada yang datang hanya untuk menikmati nasi kucing seperti masa kuliah, ada pula yang sekadar ingin menyapa Pak Felix dan mengenang masa muda. Saat rumah Pak Felix sempat mengalami musibah kebakaran, para alumni dari berbagai angkatan secara sukarela menggalang bantuan untuk meringankan bebannya. Peristiwa itu menjadi bukti bahwa hubungan yang terjalin selama bertahun-tahun tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan bangku kuliah. Dari sebuah angkringan sederhana, lahir ikatan kekeluargaan yang bertahan melintasi waktu.
Di tengah menjamurnya kafe modern dengan konsep yang terus berubah mengikuti tren, Angkringan Felix tetap mempertahankan kesederhanaannya. Mungkin menu yang disajikan tidak jauh berbeda dari puluhan tahun lalu. Namun justru di situlah letak keistimewaannya. Tempat ini mengajarkan bahwa sebuah ruang tidak menjadi istimewa karena bangunannya yang megah, melainkan karena cerita-cerita yang tumbuh di dalamnya. Angkringan Felix bukan hanya tempat mengisi perut, tetapi juga tempat menyimpan kenangan, membangun persahabatan, memperjuangkan cita-cita, dan belajar tentang kehidupan. Selama masih ada mahasiswa yang datang untuk berdiskusi, tertawa, atau sekadar menikmati kopi di bawah langit malam Jogja, kisah Angkringan Felix akan terus hidup sebagai bagian dari sejarah kota pelajar.
_
Penulis: Ashad Rizki
Editor: Ashad Rizki
Liputan Khusus Lainnya:
Belajar di Rumah Sakit, Kehilangan Ayah 11 Hari Sebelum Ujian, Francisca Rani Indira Akhirnya Wujudkan Mimpi Kuliah di UGM
Dari Rumah Sederhana di Ujung Sawah ke Kampus UGM: Kisah Putri Kembar Buruh Serabutan yang Menolak Menyerah pada Keadaan
Bukan Sekadar Pentas Seni, LASCAR 2026 Menjadi Ruang Tumbuh 500 Siswa SMP Labschool Cibubur