Dari Kebiasaan Seorang Nenek, Lahir Warisan Berusia Seabad: Kisah Toko Wiwoho Menjaga Sejarah di Sudut Yogyakarta
Schoolmedia News Yogyakarta - Di sisi barat Tugu Pal Putih Yogyakarta, berdiri sebuah toko sederhana yang telah menyaksikan pergantian zaman selama lebih dari satu abad. Bangunannya memang tak semegah pusat perbelanjaan modern, tetapi setiap sudutnya menyimpan cerita tentang ketekunan, tradisi, dan sebuah warisan keluarga yang terus dijaga lintas generasi. Toko itu adalah Toko Wiwoho, usaha keluarga yang dirintis sejak 1919 dan tetap bertahan hingga hari ini. Bagi keluarga pemiliknya, toko ini bukan sekadar tempat berdagang, melainkan bagian dari sejarah hidup yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Semua bermula dari seorang perempuan bernama Tan Kwi Hua. Pada awalnya, ia menjalankan sebuah toko kelontong untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar. Seiring waktu, keluarga melihat kebiasaan masyarakat saat itu, termasuk tradisi menggunakan tembakau susur yang digemari banyak perempuan lanjut usia. Dari kebiasaan sederhana itulah muncul peluang usaha baru yang perlahan mengubah arah perjalanan toko. Apa yang awalnya hanya menjadi pelengkap dagangan, kemudian berkembang menjadi identitas yang membuat Toko Wiwoho dikenal luas di Yogyakarta.

Perjalanan toko ini tidak selalu berjalan mulus. Selama lebih dari seratus tahun, Toko Wiwoho melewati masa kolonial, perjuangan kemerdekaan, perubahan gaya hidup masyarakat, hingga hadirnya era digital. Tren konsumsi masyarakat berubah, generasi berganti, bahkan kebiasaan yang dahulu menjadi andalan perlahan memudar. Namun keluarga Wiwoho memilih tidak melawan perubahan. Mereka justru beradaptasi sambil mempertahankan nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu: kejujuran dalam berdagang, pelayanan yang ramah, dan menjaga kualitas usaha keluarga. Berkat prinsip itu, toko ini tetap menjadi bagian dari denyut kehidupan Kota Yogyakarta.
Kini estafet usaha telah sampai ke generasi keempat. Anak-anak muda dalam keluarga mulai mengambil peran dengan cara yang berbeda. Mereka memperkuat identitas merek, membuat logo baru, mengelola media sosial, dan memperkenalkan kembali sejarah toko kepada generasi muda. Mereka menyadari bahwa mempertahankan warisan tidak cukup hanya dengan menjaga bangunan tetap berdiri, tetapi juga memastikan kisah di baliknya terus dikenal. Perpaduan antara nilai tradisional dan pendekatan modern menjadi cara mereka menjaga agar usaha keluarga tetap relevan di tengah perubahan zaman.
_
Penulis: Ashad Rizki
Editor: Ashad Rizki
Sumber: https://mojok.co/liputan/sosok/103-tahun-toko-tembakau-wiwoho-berkah-dari-nenek-yang-suka-menyusur/
Liputan Khusus Lainnya:
Belajar di Rumah Sakit, Kehilangan Ayah 11 Hari Sebelum Ujian, Francisca Rani Indira Akhirnya Wujudkan Mimpi Kuliah di UGM
Dari Rumah Sederhana di Ujung Sawah ke Kampus UGM: Kisah Putri Kembar Buruh Serabutan yang Menolak Menyerah pada Keadaan
Bukan Sekadar Pentas Seni, LASCAR 2026 Menjadi Ruang Tumbuh 500 Siswa SMP Labschool Cibubur