Schoolmedia News
SCHOOL MEDIA® News
kembali
tokoh

Menjaga Warisan di Balik Senyum: Perjuangan Tukang Gigi Madura Melawan Zaman demi Sebuah Profesi Turun-Temurun

author Andeliyumna
Jul 28, 2026 |
7 Dilihat

Schoolmedia News Yogyakarta - Di sebuah ruang praktik sederhana, suara gerinda kecil memecah kesunyian. Di atas kursi yang telah menemani ribuan pelanggan selama bertahun-tahun, seorang pria dengan telaten merapikan sepasang gigi tiruan. Gerak tangannya begitu mantap, seolah setiap lekuk gigi telah ia hafal di luar kepala. Bagi sebagian orang, pekerjaan itu mungkin hanya sebatas memasang gigi palsu. Namun bagi Subur Adicahyono, profesi tukang gigi adalah warisan keluarga yang menyimpan sejarah panjang, harga diri, sekaligus sumber penghidupan yang telah mengalir lintas tiga generasi.

Subur lahir dari keluarga yang sejak lama menggantungkan hidup pada profesi tukang gigi. Ilmu itu tidak diperoleh dari bangku kuliah ataupun pelatihan singkat, melainkan diwariskan dari ayah kepada anak, dari kakek kepada cucu. Meski demikian, mewarisi keahlian tersebut bukan perkara mudah. Sebelum berani membuka praktik sendiri, ia menghabiskan sekitar tujuh tahun membantu sang ayah. Selama bertahun-tahun ia belajar mengenali bentuk rahang, memahami karakter setiap pelanggan, hingga menguasai teknik membuat dan memasang gigi tiruan dengan penuh ketelitian. Baginya, kepercayaan pelanggan tidak bisa dibangun hanya dengan keterampilan, tetapi juga melalui kejujuran dan tanggung jawab.

Tradisi tukang gigi sendiri memiliki akar sejarah yang panjang. Menurut penuturan para pelakunya, profesi ini berkembang sejak era 1940-an dan banyak diwariskan di kalangan masyarakat Madura, khususnya dari Sumenep dan Pamekasan. Mereka belajar dari generasi sebelumnya, bahkan sebagian menimba ilmu dari para ahli gigi keturunan Tionghoa sebelum kemudian menyebarkan keterampilan itu ke berbagai kota di Indonesia. Dari Jember, Yogyakarta, hingga Jakarta, para perantau Madura membawa satu keahlian yang menjadi identitas sekaligus bekal bertahan hidup di tanah rantau.

Namun perjalanan profesi ini pernah berada di titik paling genting. Pada 2011, terbit Peraturan Menteri Kesehatan yang mencabut aturan lama mengenai pekerjaan tukang gigi. Bagi ribuan keluarga yang menggantungkan hidup dari profesi tersebut, regulasi itu terasa seperti vonis yang menghapus mata pencaharian mereka dalam sekejap. Ketidakpastian menyelimuti ruang-ruang praktik sederhana. Papan nama mulai terancam diturunkan, sementara para tukang gigi dihantui kemungkinan kehilangan pekerjaan yang selama puluhan tahun menjadi sandaran hidup keluarga mereka.


Situasi itu membuat Subur tidak tinggal diam. Sebagai Ketua Ikatan Tukang Gigi di Yogyakarta, ia mengajak rekan-rekannya untuk memperjuangkan hak mereka melalui jalur yang damai dan konstitusional. Mereka menggelar aksi, berdialog dengan pemerintah daerah, hingga mendukung upaya uji materi terhadap aturan tersebut. Bagi mereka, perjuangan itu bukan semata-mata demi mempertahankan sebuah pekerjaan, tetapi demi menjaga warisan yang telah menjadi bagian dari sejarah keluarga dan identitas komunitas mereka.

Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil. Pemerintah menerbitkan aturan baru yang kembali memberikan ruang bagi tukang gigi untuk berpraktik, meski dengan kewenangan yang lebih terbatas. Mereka hanya diperbolehkan membuat dan memasang gigi tiruan lepasan sesuai ketentuan yang berlaku, serta dilarang melakukan tindakan medis seperti pencabutan gigi atau pemasangan behel. Bagi Subur dan rekan-rekannya, pembatasan itu diterima sebagai bentuk adaptasi terhadap perkembangan dunia kesehatan. Mereka memilih menjaga profesi tetap hidup dengan mematuhi aturan, bukan melawannya.


Seiring waktu, profesi tukang gigi juga mengalami perubahan. Jika dahulu sebagian besar pelanggannya adalah para lansia yang kehilangan gigi karena usia, kini semakin banyak pelanggan dari berbagai kalangan. Sebagian datang akibat kecelakaan, sebagian lagi karena kondisi kesehatan gigi yang memburuk sejak usia muda. Meski teknologi kedokteran gigi berkembang pesat, banyak masyarakat tetap memilih tukang gigi karena pelayanan yang lebih dekat, fleksibel, dan personal. Bahkan tak jarang mereka bersedia mendatangi rumah pelanggan ketika dibutuhkan.

Menariknya, banyak keluarga tukang gigi kini justru mendorong anak-anak mereka menempuh pendidikan formal di bidang kesehatan. Sebagian menjadi dokter gigi, sebagian lagi memilih pendidikan teknik gigi. Bukan karena ingin meninggalkan profesi leluhur, melainkan agar tradisi itu dapat diteruskan dengan bekal ilmu yang lebih lengkap dan sesuai perkembangan zaman. Mereka percaya bahwa warisan keluarga tidak harus berhenti, tetapi dapat tumbuh mengikuti perubahan.

_

Penulis: Ashad Rizki

Editor: Ashad Rizki

Sumber: https://mojok.co/liputan/sosok/kisah-tukang-gigi-madura-lawan-permenkes-demi-pekerjaan-warisan/


Dari Kebiasaan Seorang Nenek, Lahir Warisan Berusia Seabad: Kisah Toko Wiwoho Menjaga Sejarah di Sudut Yogyakarta
tokoh Selanjutnya
Dari Kebiasaan Seorang Nenek, Lahir Warisan Berusia Seabad: Kisah Toko Wiwoho Menjaga Sejarah di Sudut Yogyakarta
author Andeliyumna
Jul 28, 2026
Dari Ruang Belajar ke Panggung Dunia: Empat Pelajar Indonesia Persembahkan Medali di Olimpiade Ekonomi Internasional
tokoh Sebelumnya
Dari Ruang Belajar ke Panggung Dunia: Empat Pelajar Indonesia Persembahkan Medali di Olimpiade Ekonomi Internasional
author Andeliyumna
Jul 27, 2026

Komentar