Dari Minum Air Keran hingga Menembus Belanda: Perjalanan Ahmad Rif'an Membuktikan Mimpi Tak Pernah Mengenal Kemiskinan

Schoolmedia News Yogyakarta - Bagi Ahmad Rif'an Khoirul Lisan, mimpi untuk kuliah bukanlah perjalanan yang dimulai dengan kemapanan, melainkan dengan keterbatasan. lahir dari keluarga sederhana di Pleret, Bantul, ia sempat diminta sang ayah untuk tidak melanjutkan kuliah karena enam adiknya juga membutuhkan biaya pendidikan. namun, Rif'an percaya bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk mengubah nasib keluarganya. keyakinan itulah yang membawanya diterima di Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui program beasiswa, meski ia harus berjuang keras untuk bertahan selama menempuh pendidikan.

Hari-hari sebagai mahasiswa dijalani dengan penuh penghematan. saat uang saku menipis, Rif'an rela meminum air keran karena tak mampu membeli air minum kemasan. ia aktif mengikuti kepanitiaan dan organisasi kampus bukan semata untuk menambah pengalaman, tetapi juga agar bisa menikmati konsumsi gratis yang disediakan setiap kegiatan. ketika rasa lapar datang, ia mencari warung makan paling murah, bahkan menanam buah bersama teman-temannya agar hasil panennya dapat dimakan bersama. semua dilakukan demi satu tujuan: tetap bisa kuliah tanpa menyerah pada keadaan.
Untuk mencukupi kebutuhan hidup, Rif'an juga bekerja paruh waktu. ia pernah berjualan arem-arem, bubur kacang hijau, hingga menjadi penjaga warung internet. di balik kesibukan itu, kebaikan banyak orang terus mengiringi langkahnya. seorang dosen menghadiahkan komputer bekas agar ia bisa mengerjakan tugas kuliah dengan lebih baik. ia juga mendapat kesempatan tinggal di rumah pembinaan kepemimpinan yang memberinya tempat tinggal dan uang saku bulanan. berbagai pertolongan tersebut menjadi pengingat bahwa ketulusan sering hadir di tengah perjuangan yang paling berat.

Setelah lulus dari UGM, perjuangan Rif'an belum selesai. ia berhasil memperoleh beasiswa LPDP untuk melanjutkan studi magister di Arizona State University, Amerika Serikat. Meski belajar di negeri orang, hidup hemat tetap menjadi prinsipnya. ia memasak sendiri, memanfaatkan food bank kampus, dan bahkan berangkat ke Amerika dengan uang saku yang sebagian berasal dari pinjaman gurunya. Kini, setelah kembali mengabdi sebagai dosen, Rif'an kembali meraih beasiswa LPDP untuk melanjutkan studi doktoral di Wageningen University & Research, Belanda, dengan fokus pada pengelolaan sumber daya air dan pertanian.

Perjalanan Ahmad Rif'an menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi tidak pernah mampu membatasi besarnya mimpi seseorang. di balik setiap kesulitan yang dijalaninya, selalu ada kerja keras, doa, dan uluran tangan yang menguatkan langkahnya. dari seorang mahasiswa yang pernah bertahan hidup dengan air keran hingga menjadi akademisi yang menempuh pendidikan doktor di Belanda, Rif'an mengajarkan bahwa mimpi tidak diukur dari keadaan saat ini, melainkan dari keberanian untuk terus melangkah meski jalan terasa begitu berat.
Penulis: Ashad Rizki
Editor: Ashad Rizki
Liputan Khusus Lainnya:
Prof. Yohanes Surya: Fisikawan yang Membuktikan Anak Indonesia Mampu Menjadi Juara Dunia
Dari PHK ke Dapur Harapan: Perjalanan Anselmus Way Membangun Mimpi Lewat Keripik dan Ayam Geprek
Ketika Masa Tua Tak Lagi Sendiri: Perjalanan Gina Veterani Menghadirkan Kehangatan bagi Para Lansia