Ketika Membaca Menjadi Gerakan: Perjalanan Nabila Dwiputri Menghidupkan Literasi di Sudut-Sudut Surabaya

Schoolmedia News Surabaya = Di tengah hiruk-pikuk Kota Surabaya, ketika sebagian besar orang
menghabiskan waktu luang dengan menatap layar gawai, Nabila Dwiputri
justru memilih membuka lembar demi lembar buku. baginya, membaca bukan sekadar
hobi, melainkan cara untuk memahami dunia. kecintaan itulah yang kemudian
menggerakkannya membangun sebuah ruang sederhana bagi siapa pun yang ingin
menikmati buku bersama. dari langkah kecil tersebut, lahirlah gerakan Baca
di Surabaya, sebuah komunitas yang mengajak masyarakat kembali menjadikan
membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Perjalanan nabila bermula dari pengalaman yang sederhana. ia menyadari
bahwa masih banyak orang merasa canggung membaca buku di ruang publik. bahkan,
tidak sedikit yang menganggap kegiatan tersebut sebagai sesuatu yang aneh atau
sekadar pencitraan. alih-alih menyerah pada stigma, nabila memilih mengubahnya
menjadi gerakan positif. ia mengajak orang-orang berkumpul di taman, ruang
terbuka, atau sudut kota lainnya untuk membaca bersama dalam suasana santai
tanpa tuntutan berdiskusi. yang terpenting, setiap orang merasa nyaman
menikmati buku pilihannya masing-masing.
Bagi nabila, membangun budaya literasi tidak harus dimulai dari
perpustakaan megah atau program berskala besar. justru, perubahan bisa lahir
dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. melalui
komunitas yang ia rintis, membaca perlahan berubah menjadi aktivitas sosial
yang menyenangkan. orang-orang yang sebelumnya asing satu sama lain
dipertemukan oleh halaman-halaman buku, saling menginspirasi, dan menemukan
bahwa membaca dapat menjadi jembatan untuk membangun relasi sekaligus
memperluas wawasan.
Gerakan yang dibangun nabila juga menunjukkan bahwa literasi bukan hanya
tentang meningkatkan jumlah buku yang dibaca, tetapi juga menciptakan ruang
yang membuat masyarakat merasa dekat dengan buku. di tengah pesatnya
perkembangan teknologi digital, ia percaya bahwa buku tetap memiliki tempat
istimewa sebagai sumber pengetahuan, refleksi, dan empati. karena itu, ia terus
mengajak semakin banyak anak muda untuk tidak ragu membawa buku ke ruang publik
dan menikmati pengalaman membaca tanpa rasa sungkan.
Perjalanan Nabila Dwiputri menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering
kali berawal dari langkah yang sederhana. mengajak satu orang membaca hari ini
mungkin terlihat kecil, tetapi ketika dilakukan secara konsisten, kebiasaan itu
dapat menumbuhkan budaya literasi yang lebih kuat di masa depan. dari
sudut-sudut Surabaya, nabila membuktikan bahwa buku bukan sekadar kumpulan
halaman, melainkan jendela yang membuka harapan, mempertemukan manusia, dan
menyalakan semangat belajar sepanjang hayat.
Penulis: Ashad Rizki
Editor: Ashad Rizki
Sumber: https://www.kompas.id/artikel/nabila-dwiputri-mari-membaca-di-surabaya?
Liputan Khusus Lainnya:
Kaji Deferred Action di Kemendikdasmen, Herdiana Resmi Sandang Gelar Doktor dari FIA
Menjaga Nyala Animasi Indonesia: Perjalanan Hizaro Merawat Mimpi dari Yogyakarta
Ketika Musik Menjadi Suara Perlawanan: Perjalanan Gabriëlle Menyuarakan Keresahan Lewat Karya