Schoolmedia News
SCHOOL MEDIA® News
kembali
tokoh

Wakil Rektor ITB, Dr. A Rikrik Kusmara Terima Penghargaan Tertinggi dari Pemerintah Prancis

author Eko Schoolmedia
Jun 12, 2026 |



Schoolmedia News Bandung = Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Andryanto Rikrik Kusmara menerima penghargaan Chevalier dans l’Ordre des Palmes Académiques dari Pemerintah Republik Prancis. Penghargaan tersebut disematkan langsung oleh Fabien Penone, Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, di Gedung Gedung Center for Arts, Design and Language (CADL) ITB, Kamis (11/6/2026).

Chevalier dans l’Ordre des Palmes Académiques merupakan salah satu tanda kehormatan yang diberikan Pemerintah Prancis kepada tokoh yang dinilai memberikan kontribusi luar biasa dalam pengembangan pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan, serta pengayaan warisan budaya. Penghargaan ini ditetapkan oleh Napoleon pada tahun 1808 dan telah diberikan kepada sejumlah tokoh terkemuka dunia, antara lain Marie Curie, Jean-Baptiste Charcot, dan Léopold Sédar Senghor.

Dalam sambutannya, Duta Besar Fabien Penone menyampaikan selamat atas penghargaan tersebut.

“Hari ini, Dr. Andryanto Rikrik Kusmara, Anda bergabung dengan kelompok terhormat (seperti seperti Marie Curie, Jean-Baptiste Charcot, dan Léopold Sédar Senghor). Saya senang bahwa upacara ini dapat diselenggarakan di ITB, sebuah simbol keunggulan Indonesia sekaligus mitra lama Prancis. Melalui diri Anda, Prancis memberikan penghormatan kepada seorang seniman, pendidik, dan pembangun,” ujarnya.

Ia menilai kontribusi Dr. A. Rikrik Kusmara bagi kebudayaan Indonesia tidak terbatas pada institusi maupun ruang kelas. Sebagai kurator, Dr. A. Rikrik Kusmara telah turut membentuk lanskap seni kontemporer di Indonesia dengan memberi ruang bagi berbagai karya dan gagasan untuk hadir ke publik.

Ia juga menyoroti peran Dr. A. Rikrik Kusmara dalam memperkuat kerja sama antara Bandung dan Saint-Étienne, Prancis. Pada tahun 2015, saat Bandung ditetapkan sebagai Kota Kreatif UNESCO, Dr. A. Rikrik Kusmara berkesempatan mengunjungi Saint-Étienne, kota pertama di Prancis yang bergabung dalam jaringan kota kreatif UNESCO pada tahun 2010. Kunjungan tersebut berkembang menjadi kolaborasi berkelanjutan yang mempertemukan desain, pendidikan, inovasi, dan kebudayaan.

Lahirnya Material Library di ITB

Salah satu hasil nyata dari kerja sama tersebut adalah lahirnya Material Library pertama di Indonesia di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB. Fasilitas ini menjadi sarana pembelajaran dalam pendidikan desain sekaligus pusat transdisipliner yang memetakan material alami dan inovatif dari Asia Tenggara. Ruang ini juga menjadi tempat pendokumentasian pola tenun tradisional dan motif kriya dari berbagai wilayah Nusantara, sehingga warisan budaya dapat terus “berdialog” dengan praktik desain kontemporer.

Duta Besar Fabien Penone juga menyampaikan bahwa Dr. A. Rikrik Kusmara telah mengembangkan jejaring kemitraan dengan berbagai institusi terkemuka di Prancis, di antaranya Université Paris 1 Panthéon-Sorbonne dan École Supérieure d’Art et Design Saint-Étienne. Ia juga menjadi salah satu tokoh penting dalam program Bandung–Saint-Étienne Design Cities, program residensi yang mempertemukan institusi akademik, pusat riset, industri, dan masyarakat sipil.

Sementara itu, Dr. A. Rikrik Kusmara menyampaikan syukur dan kehormatan atas penghargaan yang diberikan. Penghargaan tersebut bukan semata-mata pengakuan atas pencapaian pribadi, melainkan juga penghormatan terhadap perjalanan panjang kolaborasi, persahabatan, dan pertukaran intelektual antara Indonesia dan Prancis.

“Hari ini merupakan momen yang sangat bermakna dalam perjalanan karier dan profesional saya. Dengan penuh rasa syukur, kerendahan hati, dan kehormatan yang mendalam, saya menerima tanda kehormatan Chevalier dans l’Ordre des Palmes Académiques yang dianugerahkan oleh Pemerintah Republik Prancis,” ujarnya.

Kedekatannya dengan kebudayaan Prancis terjalin sejak masa muda. Ia tumbuh tidak jauh dari Centre Culturel Français (CCF) Bandung, yang kini dikenal sebagai Institut Français d’Indonésie (IFI). Baginya, CCF menjadi salah satu jendela Bandung menuju dunia, tempat yang memperkenalkan nilai rasa ingin tahu, keterbukaan, kreativitas, dan dialog budaya.

Sebagai mahasiswa seni di ITB pada awal 1990-an, ia mengenal tradisi pemikiran Prancis melalui pameran, pemutaran film, kuliah umum, pertunjukan, publikasi, dan berbagai program kebudayaan. Pengalaman tersebut membentuk pandangannya bahwa seni dan kebudayaan bukan sekadar pencarian estetika, melainkan cara penting bagi masyarakat memahami diri, berinteraksi dengan pihak lain, dan membayangkan masa depan.

Dalam perjalanan profesionalnya, Dr. A. Rikrik Kusmara terus memperdalam pemahaman mengenai hubungan antara kebudayaan, pendidikan, dan diplomasi. Ia terlibat aktif dalam sektor seni, budaya, dan kreatif Indonesia melalui pengelolaan, jejaring, serta kurasi. Melalui kolaborasi dengan kementerian, lembaga pemerintah, komunitas seni, dan institusi kebudayaan, ia turut berkontribusi dalam pengembangan kebijakan kebudayaan, pameran, festival, program pendidikan, dan berbagai inisiatif untuk memperkuat ekosistem kreatif Indonesia.

Ia juga mengapresiasi IFI yang menjadi mitra dalam membuka jejaring internasional dan peluang intelektual. Sejak tahun 2013, kerja sama dengan IFI turut mendukung pengembangan Program Magister Seni di ITB serta mempertemukan ITB dengan berbagai akademisi dan institusi kebudayaan terkemuka di Prancis.

Menurutnya, berbagai pengalaman kolaborasi tersebut memberikan inspirasi bagi pendidikan seni dan desain, kebijakan kebudayaan, serta pengembangan kreatif di Indonesia. Sejumlah inisiatif di Bandung, seperti Bandung Photography Triennale, Bandung Connex, Bandung Design Biennale, Bandung Light Festival, kebangkitan kembali Pasar Seni ITB setelah sebelas tahun vakum, Akulturasa sebuah festival yang menyatukan sains, teknologi, dan seni, serta Museum ITB yang akan diresmikan pada 3 Juli 2026, menjadi contoh bagaimana kerja sama kebudayaan dapat memberi dampak luas.

“Inisiatif-inisiatif ini menunjukkan bahwa kerja sama kebudayaan bukan hanya tentang pertukaran pengetahuan. Nilai sejatinya terletak pada penguatan institusi, perluasan peluang bagi masyarakat dan generasi muda, pengembangan inovasi, serta penciptaan dampak sosial dan ekonomi yang berkelanjutan,” ujarnya.

Dr. Andryanto Rikrik Kusmara saat ini menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi ITB periode 2025–2030. Ia merupakan Lektor Kepala di FSRD ITB dan tergabung dalam Kelompok Keahlian Seni Rupa. Ia meraih gelar Sarjana Seni dari ITB pada tahun 1995, Magister Seni pada tahun 1999, dan Doktor dari ITB pada tahun 2011. Sebelum menjabat sebagai wakil rektor, ia pernah mengemban amanah sebagai Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Tim Schoolmedia

Kisah Fulviana Ramadlonia Agung Putri Lulus S1 Kedokteran UGM di Usia 20 Tahun
tokoh Sebelumnya
Kisah Fulviana Ramadlonia Agung Putri Lulus S1 Kedokteran UGM di Usia 20 Tahun
author Eko Schoolmedia
Jun 04, 2026