
Schoolmedia News Bandung = Semangat R.A. Kartini yang memperjuangkan kesetaraan dan peran perempuan dalam pembangunan terus hidup melalui berbagai sosok inspiratif masa kini. Salah satunya adalah Shana Fatina, salah seorang alumni Teknik Industri ITB 2004, yang menunjukkan bahwa perempuan mampu memimpin, bertahan, dan memberi dampak nyata di tengah berbagai tantangan.
Shana Fatina adalah alumni Teknik Industri ITB angkatan 2004 yang dikenal sebagai Founder dan CEO Komodo Water. Ia juga pernah menjabat sebagai President Director Labuan Bajo Flores Tourism Authority periode 2019–2024. Dalam kariernya, Shana berfokus pada pemberdayaan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan, khususnya di wilayah 3T, dengan menempatkan akses air bersih sebagai fondasi perubahan sosial, ekonomi, dan pariwisata.
Selama berkuliah di ITB, Shana aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan, antara lain Keluarga Mahasiswa Teknik Industri (MTI) ITB, Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB (KM ITB), serta sejumlah unit kegiatan mahasiswa seperti Apres! ITB, LFM ITB, dan ITB Student Orchestra. Shana pun tercatat sebagai Presiden Keluarga Mahasiswa (KM) ITB perempuan pertama, yang menjabat pada periode 2008/2009.
Pengalaman organisasinya di ITB menjadi bekal penting dalam membangun jejaring, kepemimpinan, dan kepekaan sosial yang kemudian mewarnai perjalanan profesionalnya.
Baginya, kontribusi tidak selalu harus dimulai dari hal besar, tetapi dari kesadaran untuk berbuat lebih bagi sekitar. “Tolong bantu berbuat lebih dari untuk diri sendiri, berapa pun nilainya itu, itu akan berharga sekali,” ujarnya.
Tantangan Perempuan di Posisi Strategis
Sebagai
perempuan yang pernah menduduki posisi strategis, termasuk sebagai
President Director Labuan Bajo Flores Tourism Authority periode
2019–2024, Shana mengakui bahwa perjalanannya tidak selalu mudah. Ia
menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keraguan hingga penolakan
terhadap kapasitasnya sebagai perempuan.
“Banyak
penolakan, banyak yang meragukan. Tapi itu justru membuat saya lebih
matang untuk menunjukkan apa yang ingin kita bangun,” ujarnya.
Menurutnya,
tantangan tersebut justru menjadi proses pembelajaran yang membentuk
kedewasaan dalam mengambil keputusan. Ia menekankan pentingnya memiliki
tim yang kuat serta kejelasan tujuan dalam bekerja.
Ia
juga menilai bahwa saat ini ruang bagi perempuan dalam kepemimpinan
mulai semakin terbuka. Meski demikian, ia menekankan pentingnya terus
mendorong keseimbangan representasi.
“Menurut saya, posisi perempuan dalam kepemimpinan perlu semakin diperluas agar tercipta keseimbangan,” ujarnya.
Membangun Lingkungan yang Inklusif
Sejauh pengalamannya, Shana melihat
pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan setara. Ia
mencontohkan bagaimana pembagian peran yang seimbang antara laki-laki
dan perempuan dapat mendorong terciptanya program yang lebih ramah dan
adil.
Ia
juga menyoroti pentingnya ruang diskusi yang terbuka bagi semua pihak,
tanpa memandang gender. Menurutnya, kolaborasi yang sehat justru lahir
dari keberagaman perspektif.
“Ruang ide itu harus ada dan diskusi harus melibatkan semua,” ujarnya.
Pendekatan
tersebut tidak hanya menciptakan lingkungan kerja yang lebih nyaman,
tetapi juga menghasilkan keputusan yang lebih matang dan komprehensif.
Integritas sebagai Nilai Utama
Di
balik berbagai pencapaian, Shana menegaskan bahwa nilai yang paling ia
pegang adalah integritas. Baginya, integritas bukan sekadar prinsip
kerja, tetapi merupakan identitas diri yang tidak dapat dipisahkan.
“Integritas itu penting karena itu adalah identitas kita. Itu tidak akan berubah sampai kapan pun,” katanya.
Ia
juga menambahkan bahwa bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki
nilai yang sama menjadi kunci dalam menjaga konsistensi dan arah dalam
setiap langkah yang diambil.
Inspirasi
Shana mengaku sosok perempuan yang
menginspirasinya adalah Siti Khadijah. Menurutnya, Siti Khadijah
merupakan contoh perempuan yang tidak hanya sukses sebagai pengusaha,
tetapi juga memiliki keberanian dan ketulusan dalam mendukung perjuangan
yang lebih besar.
“Beliau pengusaha besar pada zamannya, dan percaya pada nilai yang diperjuangkan, bahkan memberikan seluruh hartanya,” tuturnya.
Melalui
perjalanan dan nilai yang dipegang, Shana Fatina mencerminkan sosok
Kartini masa kini perempuan yang tidak hanya memperjuangkan kesetaraan,
tetapi juga menghadirkan perubahan nyata melalui tindakan.
“Bukan tentang seberapa besar kita mulai, tapi seberapa dalam kita mau memahami,” tuturnya
Kisahnya menunjukkan bahwa tantangan bukanlah penghalang, melainkan bagian dari proses untuk tumbuh dan memberi dampak yang lebih luas. Dalam konteks pembangunan hari ini, peran perempuan tidak lagi sekadar pelengkap, tetapi menjadi bagian penting dalam menciptakan masa depan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Tim Schoolmedia
Tinggalkan Komentar