Di Balik Bullying, Tumbuh Keberanian: Cerita Bagus di Sekolah Rakyat

Schoolmedia News Denpasar = Di sebuah ruang kelas sederhana di Sekolah Rakyat Menengah Pertama 17 Tabanan, Bali, suasana mendadak hening ketika seorang siswa bernama Bagus berdiri dan mulai bercerita. Suaranya pelan, namun sarat makna. Ia tidak sekadar menyampaikan kisah pribadi, tetapi menghadirkan potret luka yang kerap tersembunyi di balik bangku sekolah: perundungan.
Bagus mengenang masa kecilnya sebagai anak yang pendiam. Ia kerap menjadi sasaran ejekan teman-temannya saat masih duduk di sekolah dasar. Situasi itu sempat membuatnya menarik diri dari lingkungan, bahkan hampir kehilangan semangat untuk bersekolah. Beberapa hari ia memilih absen, menjauh dari ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat belajar dan tumbuh.
Namun, di tengah keterpurukan itu, hadir sosok ibu yang menjadi penopang utama. Dukungan dan dorongan sang ibu perlahan membangkitkan kembali semangat Bagus. Ia mulai kembali ke sekolah, mencoba berdamai dengan keadaan, dan menata ulang kepercayaan dirinya.
Perjalanan Bagus menemukan titik balik ketika ia bergabung dengan Sekolah Rakyat. Lingkungan baru memberinya ruang untuk berkembang. Ia belajar disiplin, mandiri, dan berani membuka diri. Dari seorang anak yang pendiam, Bagus bertransformasi menjadi sosok yang lebih percaya diri.
Perubahan itu tidak berhenti pada dirinya sendiri. Kini, Bagus dipercaya menjadi duta anti-bullying di sekolahnya. Ia mengemban misi sederhana namun penting: memastikan teman-temannya tidak mengalami luka yang pernah ia rasakan.
“Saya harap dengan gelar ini saya dapat mencegah bullying di sekolah ini,” ujarnya.
Menarik Perhatian Presiden
Kisah Bagus menarik perhatian Presiden Prabowo Subianto yang hadir dalam kunjungan ke sekolah tersebut. Dalam suasana hangat, Presiden merespons cerita itu dengan pesan yang lugas dan penuh empati. Ia menegaskan bahwa ejekan dan hinaan bukanlah akhir dari segalanya.
“Jangankan kamu, saya sering diejek,” ujar Presiden, mengundang senyum sekaligus kelegaan di antara para siswa.
Bagi Presiden, yang terpenting bukanlah bagaimana orang lain memperlakukan kita, melainkan bagaimana kita meresponsnya. Keteguhan hati, keberanian, dan sikap sopan menjadi kunci untuk menghadapi berbagai tantangan hidup.
Ia mengajak para siswa untuk tidak larut dalam kesedihan atau rasa rendah diri. Sebaliknya, setiap hinaan harus dihadapi dengan sikap positif. “Semakin dihina, semakin teguh,” pesannya.
Lebih jauh, Presiden menekankan bahwa latar belakang bukanlah penentu masa depan. Banyak orang berhasil meski berasal dari keluarga sederhana. Kuncinya terletak pada ketekunan, optimisme, dan kemauan untuk terus belajar.
Pesan itu selaras dengan kondisi para siswa di Sekolah Rakyat, yang sebagian besar berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Di tempat ini, pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai proses akademik, tetapi juga pembentukan karakter.
Presiden juga mengingatkan pentingnya menghormati guru dan mencintai orang tua. Ia menyebut para siswa sebagai harapan keluarga, yang kelak diharapkan mampu mengangkat derajat orang tua melalui pendidikan.
“Hidup rukun itu kunci keberhasilan,” ujarnya.
Kepada para tenaga pendidik, Presiden berpesan agar menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Peran guru, menurutnya, sangat menentukan dalam membentuk generasi yang tangguh dan berintegritas.
Di akhir pertemuan, kisah Bagus dan pesan Presiden seolah menyatu menjadi satu benang merah: bahwa setiap anak memiliki peluang untuk bangkit, sejauh ia tidak menyerah. Dari luka perundungan, dapat tumbuh keberanian. Dari keterbatasan, dapat lahir harapan.
Di ruang kelas itu, harapan tidak lagi terdengar sebagai konsep abstrak. Ia hadir dalam diri Bagus—dan mungkin, dalam diri setiap anak yang berani melangkah meski pernah terluka.
Tim Schoolmedia
Liputan Khusus Lainnya:
Ketika Max Havelaar Menyapa Generasi Z, Dari Rangkasbitung Jejak Perlawanan Itu Masih Menyala