Kesadaran Menonton Film Sesuai Kategori Usia Masih Rendah, Literasi Tontonan Jadi Tanggung Jawab Bersama

Schoolmedia News Lipsus - Di tengah pesatnya perkembangan industri perfilman dan layanan streaming digital, kesadaran masyarakat Indonesia untuk menonton film sesuai kategori usia masih tergolong rendah. Padahal, klasifikasi usia bukan sekadar formalitas, melainkan panduan penting agar penonton, khususnya anak-anak, memperoleh tayangan yang sesuai dengan tahap perkembangan mereka.
Lembaga Sensor Film (LSF) mengungkapkan bahwa berdasarkan penelitian yang dilakukan pada 2023, hanya sekitar 46 persen anak Indonesia yang menonton film sesuai klasifikasi usia. Temuan tersebut menunjukkan bahwa literasi masyarakat mengenai pentingnya batas usia dalam tontonan masih perlu ditingkatkan.
Klasifikasi Usia Bukan Sekadar Label
Setiap film yang tayang di bioskop maupun platform digital telah melalui proses penilaian dan diberikan klasifikasi usia berdasarkan isi cerita, kekerasan, bahasa, tema, maupun unsur lain yang dapat memengaruhi penonton.
Kategori usia dibuat agar orang tua dan penonton memiliki acuan sebelum memilih film. Namun dalam praktiknya, masih banyak anak yang menyaksikan film dengan klasifikasi usia di atas mereka, baik karena kurangnya pengawasan maupun anggapan bahwa label usia hanyalah formalitas.
Peran Orang Tua Sangat Menentukan
LSF menilai orang tua memiliki peran paling penting dalam memastikan anak memperoleh tontonan yang sesuai. Pengawasan tidak hanya diperlukan saat menonton di bioskop, tetapi juga ketika anak mengakses layanan streaming melalui televisi, komputer, maupun telepon pintar.
Penerapan parental control, aturan penggunaan gawai di rumah, serta dialog terbuka mengenai isi tontonan menjadi langkah sederhana yang dapat membantu anak memahami mana tayangan yang layak mereka konsumsi.
Dampak Tontonan yang Tidak Sesuai Usia
Anak-anak masih berada dalam masa perkembangan kognitif, emosional, dan sosial. Paparan terhadap adegan yang belum sesuai usia dapat memengaruhi cara mereka memahami konflik, kekerasan, bahasa, maupun hubungan antarmanusia.
Karena itu, klasifikasi usia berfungsi sebagai bentuk perlindungan agar proses tumbuh kembang anak berlangsung dengan lebih sehat. Edukasi mengenai pemilihan tontonan menjadi bagian dari literasi digital yang kini semakin penting di era internet.
Tantangan di Era Streaming
Kemudahan mengakses ribuan film melalui platform digital menghadirkan tantangan baru. Berbeda dengan bioskop yang memiliki mekanisme pemeriksaan tiket dan klasifikasi usia, layanan streaming memungkinkan anak mengakses berbagai konten kapan saja apabila tidak diawasi.
Situasi ini membuat budaya sensor mandiri semakin relevan. Masyarakat didorong untuk tidak hanya mengandalkan regulasi, tetapi juga membangun kesadaran dalam memilih tontonan secara bijak sesuai usia dan kebutuhan keluarga.
Membangun Budaya Literasi Tontonan
Meningkatkan kesadaran terhadap klasifikasi usia memerlukan kolaborasi antara pemerintah, industri perfilman, sekolah, keluarga, dan masyarakat. Sekolah dapat memperkuat pendidikan literasi media, sementara keluarga menjadi lingkungan pertama yang membentuk kebiasaan memilih tontonan secara bertanggung jawab.
Di era digital, kemampuan memilih konten sama pentingnya dengan kemampuan mengakses teknologi. Film dapat menjadi media hiburan sekaligus pembelajaran, asalkan dinikmati oleh penonton yang tepat sesuai dengan kategori usianya.
Pada akhirnya, kepatuhan terhadap klasifikasi usia bukanlah pembatas kebebasan, melainkan bentuk perlindungan agar setiap penonton memperoleh pengalaman menonton yang aman, sehat, dan sesuai dengan tahap perkembangan mereka.
_
Penulis: Ashad Rizki
Editor: Ashad Rizki
Sumber: https://www.kompas.id/artikel/kesadaran-untuk-menonton-film-sesuai-kategori-umur-masih-rendah
Liputan Khusus Lainnya:
Esports Masuk Dunia Pendidikan: Sekadar Hobi atau Peluang Karier Masa Depan?