Ketika Max Havelaar Menyapa Generasi Z, Dari Rangkasbitung Jejak Perlawanan Itu Masih Menyala

Schoolmedia News Jakarta = Di sebuah bangunan tua di jantung Rangkasbitung, sejarah kembali dipanggil untuk berbicara. Senin pagi, 1 Juni 2026, beberapa jam setelah memimpin Upacara Hari Lahir Pancasila, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq melangkah memasuki Museum Multatuli. Di belakangnya menyusul Bupati Lebak Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya, unsur Forkopimda, dan anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana.
Kunjungan itu tampak seperti agenda seremonial biasa. Namun di balik deretan panel sejarah dan ruang pamer yang tenang, tersimpan pertanyaan yang jauh lebih besar: apakah bangsa ini masih memiliki hubungan yang sehat dengan sejarahnya sendiri?
Museum Multatuli berdiri di kota kecil yang kerap luput dari peta perhatian nasional. Padahal dari tanah Lebak inilah lahir salah satu kritik paling tajam terhadap kolonialisme Belanda. Eduard Douwes Dekker—yang kemudian dikenal dengan nama pena Multatuli—menulis Max Havelaar setelah menyaksikan praktik penindasan terhadap rakyat Lebak pada pertengahan abad ke-19.
Lebih dari satu setengah abad kemudian, kisah itu masih dipajang di dinding-dinding museum. Bukan sebagai nostalgia masa lalu, melainkan sebagai pengingat bahwa ketidakadilan selalu menemukan bentuk baru di setiap zaman.
"Semangat yang dituangkan dalam Max Havelaar sangat relevan dengan nilai-nilai Pancasila, terutama terkait keadilan dan kemanusiaan," kata Fajar saat meninjau ruang pamer museum.
Pernyataan itu terasa penting di tengah kecenderungan generasi muda yang semakin jauh dari sejarah. Di era media sosial yang bergerak dalam hitungan detik, sejarah sering kalah menarik dibandingkan tren yang berganti setiap hari. Akibatnya, bangsa ini berisiko kehilangan memori kolektif yang menjadi fondasi identitasnya.
Museum Multatuli mencoba melawan arus tersebut. Berbeda dari museum konvensional yang sekadar menyimpan benda-benda lama, museum ini menawarkan narasi. Pengunjung diajak memahami bagaimana kolonialisme bekerja, bagaimana ketidakadilan diproduksi, dan bagaimana perlawanan lahir dari kesadaran akan kemanusiaan.
Di sinilah letak keistimewaannya. Museum ini bukan hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga mengajak pengunjung membaca masa kini.
Fajar tampaknya menyadari potensi itu. Baginya, museum harus menjadi ruang belajar yang hidup. Tempat generasi muda tidak sekadar menghafal nama tokoh atau tahun peristiwa, melainkan memahami gagasan yang membentuk perjalanan bangsa.
Lebak sendiri menyimpan lapisan sejarah yang lebih kaya daripada yang selama ini dikenal publik. Selain Multatuli, daerah ini memiliki keterkaitan dengan sejumlah tokoh besar Indonesia, mulai dari Soekarno, Haji Agus Salim, Tan Malaka hingga Maria Ulfah. Nama-nama itu menunjukkan bahwa sejarah nasional tidak hanya lahir di Jakarta atau kota-kota besar, melainkan juga tumbuh dari daerah yang selama ini berada di pinggiran narasi resmi.
"Lebak merupakan mutiara sejarah yang luar biasa," ujar Fajar.
Ungkapan itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan kritik yang tidak kecil. Sebab selama bertahun-tahun, kekayaan sejarah daerah sering kalah prioritas dibanding pembangunan fisik. Padahal tanpa kesadaran sejarah, pembangunan mudah kehilangan arah dan makna.
Dalam konteks itulah kehadiran Bonnie Triyana menjadi menarik. Sejarawan yang kini duduk di Komisi X DPR RI itu sejak lama mendorong pelestarian situs-situs sejarah. Museum Multatuli adalah salah satu wujud keyakinannya bahwa bangsa yang besar tidak cukup hanya membangun jalan dan gedung, tetapi juga menjaga ingatan.
Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni sesungguhnya bukan hanya tentang upacara dan pidato kenegaraan. Ia adalah momentum untuk bertanya sejauh mana nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan persatuan masih hidup dalam praktik sehari-hari.
Di Museum Multatuli, pertanyaan itu terasa lebih nyata. Sebab sejarah di tempat ini tidak hadir sebagai benda mati. Ia terus mengajukan gugatan yang sama sejak masa kolonial: apakah negara benar-benar berpihak kepada rakyatnya?
Jawaban atas pertanyaan itu mungkin belum selesai. Namun setidaknya, dari sebuah museum di Rangkasbitung, jejak perlawanan dan harapan itu masih terus menyala.
Tim Schoolmedia
Liputan Khusus Lainnya:
Tanda-tanda Godzilla El Niño Semakin Nampak, Solusi Iklim di Hulu Harus Jadi Prioritas
Peringati Hari Skizofrenia Dunia : Orangtua dan Sekolah Wajib Kenali Deteksi Dini Kesehatan Mental pada Anak