Jejak Sejarah di Alun-Alun Rangkasbitung, Dari Tanah Multatuli, Spirit Pancasila Digelorakan Kembali

Schoolmedia News Jakarta = Pagi di Alun-Alun Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, Senin (2/6), terasa berbeda. Di tengah peringatan Hari Lahir Pancasila, semangat kebangsaan berbaur dengan kesadaran akan sejarah panjang perjuangan melawan ketidakadilan yang pernah tumbuh di tanah Lebak.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, memimpin upacara yang dihadiri unsur pemerintah daerah, pelajar, pendidik, serta masyarakat. Dari daerah yang dikenal sebagai latar kisah perjuangan kemanusiaan dalam novel Max Havelaar karya Multatuli itu, Fajar mengajak seluruh elemen bangsa menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Fajar, pemilihan Lebak sebagai lokasi peringatan bukanlah kebetulan. Daerah ini menyimpan memori kolektif tentang perlawanan terhadap praktik ketidakadilan yang pernah terjadi pada masa kolonial. Sejarah tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa negara harus selalu berpihak kepada kemanusiaan dan keadilan.
Pancasila Hadir di Ruang Kelas
Dalam amanatnya, Fajar menegaskan bahwa Pancasila tidak boleh berhenti sebagai simbol kenegaraan atau sekadar materi hafalan di sekolah. Nilai-nilainya harus hadir nyata dalam setiap kebijakan publik, terutama di bidang pendidikan.
Menurut dia, ukuran keberhasilan Pancasila bukan hanya terlihat dari banyaknya upacara atau peringatan seremonial, melainkan dari sejauh mana negara mampu menghadirkan layanan pendidikan yang adil dan merata bagi seluruh warga.
“Pancasila harus terasa getarannya dalam pelayanan publik, di ruang-ruang kelas yang jauh dari ibu kota, dan di hati setiap anak Indonesia yang sedang menyalakan harapan untuk masa depan,” ujarnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa pendidikan merupakan instrumen utama untuk mewujudkan cita-cita keadilan sosial. Setiap anak, tanpa memandang kondisi ekonomi maupun latar belakang sosial, harus memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang dan meraih masa depan yang lebih baik.
Pendidian Sebagai Wadah Keadilan Sosial
Fajar mengaitkan komitmen pemerintah di bidang pendidikan dengan implementasi nilai-nilai Pancasila, khususnya Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, serta Sila Kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Dalam pandangannya, pendidikan tidak sekadar proses transfer pengetahuan. Pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia dan membuka akses mobilitas sosial bagi setiap warga negara.
Karena itu, pemerintah terus mendorong berbagai program yang bertujuan memperluas akses pendidikan bagi kelompok rentan. Salah satu yang disorot Fajar adalah Program Sekolah Rakyat, yang menjadi prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Program tersebut dirancang untuk memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap memiliki kesempatan belajar yang layak. Negara, kata Fajar, tidak boleh membiarkan keterbatasan ekonomi menjadi penghalang bagi anak-anak Indonesia dalam meraih cita-cita.
Selain akses pendidikan, perhatian pemerintah juga diarahkan pada kualitas tumbuh kembang peserta didik. Dalam kesempatan itu, Fajar menyinggung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah diuji coba di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Lebak.
Berdasarkan laporan pemerintah daerah, pelaksanaan program tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Menurut Fajar, pemenuhan kebutuhan gizi merupakan fondasi penting bagi keberhasilan proses belajar.
Anak-anak yang sehat memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara optimal, baik secara akademik maupun sosial. Karena itu, pemerintah akan terus melakukan evaluasi dan penyempurnaan program agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh peserta didik di berbagai wilayah Indonesia.
Menjaga Keberagamaan Dalam Persatuan
Peringatan Hari Lahir Pancasila di Lebak juga menjadi momentum untuk menegaskan kembali pentingnya menjaga persatuan dalam keberagaman. Fajar menekankan bahwa Pancasila adalah titik temu yang menyatukan berbagai identitas bangsa Indonesia.
Pancasila, menurutnya, tidak dimaksudkan untuk menyeragamkan perbedaan, melainkan menjadi rumah bersama yang menaungi keragaman suku, agama, budaya, dan golongan.
Nilai tersebut tercermin dalam kehidupan masyarakat adat Baduy yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Lebak. Pengembangan pendidikan, kata Fajar, harus berjalan beriringan dengan pelestarian budaya dan penghormatan terhadap kearifan lokal.
Di saat yang sama, pemerintah juga tengah mengkaji penguatan pengajaran bahasa asing guna memperluas wawasan global peserta didik. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat diplomasi budaya Indonesia sekaligus menyiapkan generasi muda yang mampu berkontribusi dalam mewujudkan perdamaian dunia.
Sejalan dengan tema Hari Lahir Pancasila tahun ini, “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, Fajar mengingatkan bahwa Pancasila bukan sekadar warisan sejarah, melainkan panduan hidup yang harus terus dihidupi. Dari bumi Lebak, pesan itu kembali digelorakan: keadilan sosial harus terasa nyata, terutama bagi anak-anak yang menaruh harapan besar pada pendidikan sebagai jalan menuju masa depan.
Liputan Tim Schoolmedia Dari Lebak
Liputan Khusus Lainnya:
Tanda-tanda Godzilla El Niño Semakin Nampak, Solusi Iklim di Hulu Harus Jadi Prioritas
Peringati Hari Skizofrenia Dunia : Orangtua dan Sekolah Wajib Kenali Deteksi Dini Kesehatan Mental pada Anak
Eksploitasi Nikel Demi Kendaraan Listrik Belum Mencerminkan Semangat Transisi Energi Berkeadilan