Cari

Satuan Pendidikan dan Guru Diminta Implementasikan PP Tunas dan Manfaatkan Rumah Pendidikan Sebagai Media Pembelajaran


Schoolmedia News Jakarta = Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menegaskan komitmennya untuk memperketat tata kelola pemanfaatan teknologi digital pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Melalui mandat yang tertuang dalam prinsip "Tunggu Anak Siap" atau PP TUNAS, para pendidik diingatkan bahwa digitalisasi pendidikan bukanlah perlombaan teknologi, melainkan sebuah proses yang harus tunduk pada kesiapan biologis dan kognitif anak.

Hal tersebut menjadi isu sentral dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Digitalisasi Pembelajaran Angkatan ke-4 yang berlangsung di Surabaya, Jumat (17/4/2026). Dalam forum tersebut, ditegaskan bahwa implementasi teknologi di ruang kelas tidak boleh mengorbankan fase perkembangan alami anak yang semestinya didominasi oleh aktivitas fisik dan interaksi sosial.

Widyaprada Ahli Utama Direktorat PAUD, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Ir. Harris Iskandar, Ph.D. didampingi Ketua Tim Kerja Pembelajaran dan Penilaian Direktorat PAUD, Mareta Wahyuni dalam penutupan kegiatan menekankan bahwa kepatuhan terhadap etika digital ini merupakan harga mati bagi setiap satuan pendidikan. 

Menurut dia, tren digitalisasi yang masif belakangan ini kerap kali membuat para pemangku kepentingan terjebak pada modernitas semu yang justru mengabaikan kebutuhan dasar anak usia dini.

"Kita harus mematuhi etika pemanfaatan teknologi sesuai amanat PP TUNAS. Semangatnya adalah 'Tunggu Anak Siap'. Jangan sampai kita mengejar modernitas tetapi mengabaikan kesiapan motorik dan emosional anak. Teknologi baru boleh masuk saat anak sudah benar-benar siap secara kognitif," ujar Harris di hadapan ratusan guru PAUD peserta Bimtek.

Memutus Rantai Kecanduan Digital

Harris memaparkan bahwa ada fase-fase perkembangan emas yang tidak dapat digantikan oleh layar digital. Proses manipulasi benda fisik, koordinasi motorik kasar, hingga empati yang terbangun lewat tatap muka langsung merupakan fondasi yang tidak boleh dipangkas hanya demi mengejar target formal digitalisasi atau sekadar mengikuti tren global.

Poin paling krusial yang menjadi perhatian serius dalam pertemuan ini adalah implementasi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025. Regulasi teranyar ini secara eksplisit mengatur batasan waktu paparan layar (screen time) bagi anak usia dini. 

Di dalam aturan tersebut, ditetapkan bahwa durasi maksimal penggunaan perangkat digital bagi anak hanyalah 30 menit dalam kurun waktu satu hari.

Pembatasan ini lahir sebagai respons atas meningkatnya kekhawatiran para ahli mengenai dampak jangka panjang paparan layar yang berlebihan terhadap kesehatan mata, pola tidur, hingga risiko keterlambatan bicara pada anak. Harris menyebut ketentuan ini sebagai panggilan aksi bagi para pendidik di lapangan.

"Ini adalah panggilan aksi bagi seluruh guru PAUD Angkatan ke-4. Implementasikan aturan 30 menit ini tanpa kompromi. Kita sedang menjaga masa depan bangsa dari risiko kecanduan digital sejak dini. Jika kita lalai hari ini, dampak psikologis dan kesehatan pada generasi alfa ini akan sangat sulit diperbaiki di masa depan," tegas Harris dengan nada lugas.

Kurasi Konten sebagai Strategi

Dengan batasan waktu yang sangat singkat tersebut, peran guru PAUD bergeser menjadi seorang kurator konten yang sangat selektif. Harris menggarisbawahi bahwa setiap detik yang dihabiskan anak di depan layar harus memiliki nilai edukasi yang sangat tinggi.

Guru tidak lagi disarankan mencari referensi pembelajaran secara acak di platform video publik yang tidak teruji kualitas pedagogisnya. Para pendidik didorong untuk memanfaatkan ekosistem digital resmi yang telah dibangun oleh kementerian. Portal Ruang Murid Rumah Pendidikan disebut sebagai sumber utama untuk mendapatkan konten pembelajaran bermutu tinggi. Konten-konten di dalamnya telah melalui proses kurasi ketat yang selaras dengan Kurikulum Merdeka, sehingga guru tidak perlu lagi ragu akan kesesuaian materi dengan usia anak.

Selain pemanfaatan konten, Harris juga menyoroti fenomena psikologis di kalangan pendidik, yakni ketakutan akan tertinggal informasi atau fear of missing out (FOMO).

Di tengah banjir informasi dan tren aplikasi yang silih berganti, guru sering kali merasa tertekan untuk mencoba segala hal baru tanpa mempertimbangkan urgensinya.

"Jika merasa FOMO, kembalilah ke rujukan yang sahih. Ikuti perkembangan melalui laman PAUDPEDIA. Kanal resmi ini disiapkan untuk menjadi mercusuar bagi guru agar tetap relevan dengan zaman tanpa kehilangan orientasi pada hakikat pendidikan anak usia dini," jelasnya.

Meski pemerintah memperketat penggunaan teknologi pada sisi peserta didik, hal ini bukan berarti kreativitas guru dibatasi. 

Sebaliknya, Direktorat PAUD justru membuka ruang seluas-luasnya bagi para pendidik untuk berinovasi di balik layar. Para guru ditantang untuk menciptakan karya-karya kreatif yang mampu menerjemahkan konsep pembelajaran rumit menjadi aktivitas yang menyenangkan.

Informasi Lengkap di PAUDPEDIA 

Harris mengajak para peserta Bimtek untuk mengirimkan karya terbaik mereka, baik dalam bentuk video pembelajaran yang inspiratif maupun rancangan program pembelajaran berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics).

“Sayangnya 160 satuan PAUD  mendapat Bimtek Angkatan 4 ini tidak ada yang mengikuti apresiasi konten Aksi Ilmuwan Cilik tahun ini. Malam ini pendaftaran Aksi Ilmuwan Cilik telah ditutup. Semoga tahun depan bisa ikut. Saya harap semua satuan PAUD dan guru PAUD sering menbuka laman PAUDPEDIA dan mengikuti seluruh sosial media Direktorat PAUD “PAUDPEDIA”,” ujarnya.

Inovasi dalam pendidikan STEAM sangat diharapkan karena bidang ini merupakan pintu masuk bagi anak untuk memahami logika berpikir tanpa harus selalu bergantung pada perangkat gawai.

Pemerintah berkomitmen untuk memberikan apresiasi tinggi terhadap setiap karya yang dinilai mampu menghadirkan kegembiraan belajar. Karya-karya unggulan tersebut nantinya akan dipublikasikan secara nasional melalui laman PAUDPEDIA dan portal Rumah Pendidikan agar dapat direplikasi oleh guru-guru lain di seluruh pelosok negeri.

"Direktorat akan memberikan apresiasi terhadap setiap karya terbaik. Kami ingin guru-guru Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi menjadi kreator konten yang memahami jiwa anak didik. Inovasi Anda adalah kunci untuk menghadirkan kualitas pendidikan yang merata," tambah Harris.

Harris Iskandar yang pernah menjadi Direktur Jenderal PAUD dan Pendidikan Masyarakat berharap para peserta yang hadir mampu membawa semangat "Tunggu Anak Siap" ke satuan pendidikan masing-masing.

Kegiatan ini diharapkan mampu mengubah paradigma bahwa digitalisasi bukan berarti memindahkan seluruh proses belajar ke dalam layar, melainkan bagaimana teknologi memperkaya interaksi manusia di dunia nyata. 

Dengan sinergi antara regulasi yang kuat, kurasi konten yang tepat, dan inovasi guru yang tiada henti, masa depan generasi alfa diharapkan tetap tumbuh sehat secara fisik dan cemerlang secara intelektual.

"Di tangan Bapak dan Ibu guru, teknologi akan menjadi berkah bagi pendidikan kita, selama kita tetap tunduk pada etika dan regulasi yang ada. Mari kita lindungi anak-anak kita dengan cara mendampingi mereka dengan bijak di ruang digital," pungkas Harris menutup arahannya.

Download Buku Gratis SIBI

Selain itu, Harris Iskandar mengajak satuan PAUD untuk jangan ragu mengakses serta mendownload ribuan buku yang ada di SIBI melalui bantuan laptop yang diberikan. Dikatakan download buku gratis resmi Kemendikdasmen dapat dilakukan di laman Sistem Informasi Perbukuan Indonesia (SIBI) di buku.kemendikdasmen.go.id. 

Situs ini menyediakan ribuan buku teks dan nonteks format PDF dari jenjang PAUD hingga SMA/SMK. Cara mengunduhnya cukup cari buku yang diinginkan, pilih opsi "Unduh PDF", dan isi data diri jika diminta. 

Berikut adalah panduan langkah demi langkah untuk mengunduh buku di SIBI:

  • Akses Situs Resmi: Buka browser dan kunjungi https://buku.kemendikdasmen.go.id/.
  • Cari Buku: Gunakan fitur pencarian berdasarkan jenjang (PAUD, SD, SMP, SMA) atau kurikulum (Kurikulum Merdeka/K-13).
  • Pilih Buku: Klik pada judul buku yang diinginkan, lalu pilih "Baca Online" atau langsung pilih tombol "Unduh PDF".
  • Unduh PDF: Beberapa buku mengharuskan pengguna mengisi nama, email, dan nomor HP sebelum mengirim dan mengunduh file.
  • Simpan: File PDF akan tersimpan di perangkat Anda dan dapat digunakan tanpa perlu koneksi internet. 

SIBI menyediakan buku resmi yang berkualitas dan gratis, memudahkan akses bahan ajar bagi murid, guru, maupun orang tua.

Peliput : Eko B Harsono 

Berita Selanjutnya
Menteri PPPA: Kampus Harus Jadi Ruang Aman, Dukung Deklarasi Anti Kekerasan terhadap Perempuan
Berita Sebelumnya
Keselamatan Rakyat dalam Rencana Kerjasama Blanket Overflight Access dengan AS Terancam

Berita Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar