
Schoolmedia News NGADA, NTT â Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menunjukkan langkah nyata dalam perlindungan psikososial murid dengan mengunjungi rumah duka almarhum Yohanes Bastian Roja (10), seorang siswa kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, Kamis (5/2). Kunjungan ini merupakan respons cepat pemerintah pusat atas tragedi yang menimpa anak didik di daerah tersebut.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Muâti, menyampaikan rasa duka cita mendalam. Ia menegaskan bahwa wafatnya Yohanes bukan sekadar kabar duka, melainkan sebuah peringatan keras bagi seluruh ekosistem pendidikan di Indonesia.
"Secara pribadi dan atas nama kementerian, saya menyampaikan belasungkawa. Meninggalnya Yohanes merupakan catatan dan pelajaran bagi semua pihak akan pentingnya perhatian, penanaman nilai-nilai agama, dan ketahanan keluarga bagi anak-anak oleh orang tua, masyarakat, guru, tokoh agama, dan penyelenggara pendidikan," tegas Muâti dalam pernyataan resminya.
Tim UPT Kemendikdasmen wilayah NTT, yang dipimpin oleh Kepala Subbagian Umum Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT, Damita Limbu, dan perwakilan Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) NTT, Risyono, hadir langsung di kediaman keluarga. Kedatangan mereka didampingi oleh perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Ngada untuk menyerahkan santunan guna meringankan beban keluarga.
Bantuan tersebut diterima dengan haru oleh ibunda almarhum, Maria Goreti Teâa, didampingi nenek dan paman almarhum. Dominikus Nou, sang paman, mengapresiasi perhatian pemerintah pusat. "Bantuan ini sangat berarti bagi kami untuk proses adat dan kebutuhan lainnya. Kami hanya bisa membalas dengan doa," ucapnya.
Urgensi Detiksi Dini Kesehatan Mental Siswa
Menanggapi peristiwa ini, pakar psikologi anak dan remaja, Dr. Setiawati Raharjo, M.Psi., menekankan bahwa kasus yang menimpa anak usia sekolah dasar sering kali berkaitan dengan ketidakmampuan anak dalam mengomunikasikan tekanan emosional yang mereka rasakan.
"Anak usia 10 tahun sedang berada pada masa transisi kognitif. Jika mereka mengalami tekanan, baik dari lingkungan sekolah maupun keluarga, namun tidak memiliki ruang aman untuk bercerita, mereka bisa merasa buntu. Negara tidak boleh hanya hadir secara finansial seperti PIP, tetapi harus memperkuat literasi kesehatan mental bagi guru dan orang tua," jelas Dr. Setiawati.
Ia menambahkan bahwa peran sekolah harus bergeser dari sekadar institusi akademik menjadi "sanctuary" atau tempat perlindungan. Guru perlu dibekali kemampuan deteksi dini terhadap perubahan perilaku murid yang mendadak murung atau menarik diri.
Senada dengan hal tersebut, pengamat pendidikan dari Universitas Nusa Cendana (Undana), Dr. Marselus Robot, menyoroti pentingnya sinergi antara sekolah dan rumah yang selama ini sering terputus.
"Kita sering terjebak pada angka partisipasi sekolah atau penyaluran bantuan dana, namun melupakan jiwa dari pendidikan itu sendiri, yaitu pendampingan karakter. Di daerah seperti NTT, tantangan geografis dan ekonomi seringkali membuat orang tua luput memberikan perhatian emosional karena sibuk bekerja. Di sinilah negara dan tokoh agama harus masuk memperkuat ketahanan keluarga," ujar Marselus.
Ia menilai langkah Mendikdasmen turun langsung ke lapangan adalah sinyal positif, namun ia menuntut adanya kebijakan konkret yang mewajibkan adanya konselor atau guru bimbingan konseling (BK) bahkan di tingkat SD.
Komitmen Keberlanjutan
Kemendikdasmen melalui BPMP NTT menyatakan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan anggota keluarga almarhum lainnya tetap mendapatkan akses pendidikan. Selain itu, pendampingan psikososial akan diberikan kepada keluarga dan teman-teman sekolah almarhum untuk memulihkan trauma.
Mendikdasmen Abdul Muâti menutup pesannya dengan pengingat bahwa perlindungan anak adalah tanggung jawab kolektif. "Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya menghadirkan lingkungan yang aman, nyaman, dan suportif agar setiap anak merasa didengar dan dihargai," pungkasnya.
Tim Schoolmedia
Tinggalkan Komentar