Cari

Kemendikdasmen Soroti Kesejahteraan Psikososial Anak Pasca-Wafatnya Murid SD di Ngada, NTT



Schoolmedia News Jakarta - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memberikan perhatian serius terhadap peristiwa bunuh diri seorang murid sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tragedi ini dipandang sebagai pengingat mendesak bagi otoritas pendidikan, sekolah, dan orang tua untuk memperkuat perlindungan psikososial bagi peserta didik, terutama mereka yang berada dalam kondisi keluarga rentan.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, menyatakan bahwa pemerintah merasakan duka cita yang mendalam dan empati bagi seluruh warga sekolah yang terdampak. Menurut beliau, peristiwa ini bukan sekadar kehilangan nyawa seorang murid, melainkan sebuah alarm mengenai kompleksitas kesejahteraan anak di Indonesia.

"Kondisi emosional anak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait. Hal ini memerlukan perhatian dan dukungan berkelanjutan dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara," ujar Atip dalam pernyataan resminya di Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Dalam penjelasannya, Atip mengungkapkan bahwa mendiang murid tersebut merupakan bagian dari penerima manfaat kebijakan afirmasi pendidikan melalui Program Indonesia Pintar (PIP). Seluruh hak finansial terkait beasiswa tersebut telah disalurkan sesuai dengan mekanisme yang berlaku.

Namun, Kemendikdasmen memberikan catatan kritis bahwa bantuan materiil semata tidak cukup untuk menjamin perlindungan anak secara utuh. Atip menekankan bahwa intervensi pemerintah terhadap anak-anak dari keluarga rentan harus menyentuh aspek non-fisik.

"Pemenuhan hak dan perlindungan anak tidak dapat berhenti pada dukungan finansial semata. Harus mencakup pendampingan psikososial, perhatian moral, serta lingkungan tumbuh kembang yang suportif," tegas Atip. Hal ini menunjukkan arah kebijakan kementerian yang ingin lebih humanis dalam menyikapi kerentanan sosial peserta didik.

Menindaklanjuti kejadian di Ngada, Kemendikdasmen bergerak cepat melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT. Lembaga tersebut telah diinstruksikan untuk berkoordinasi secara intensif dengan pemerintah daerah dan perangkat daerah terkait di NTT.

Fokus utama tim di lapangan saat ini adalah memberikan pendampingan psikologis kepada keluarga korban. Selain itu, kementerian berkomitmen memastikan agar anggota keluarga lainnya tetap mendapatkan akses pendidikan yang layak dan bantuan sosial yang dibutuhkan melalui koordinasi lintas sektor.

"Kami memastikan adanya dukungan keberlanjutan pendidikan bagi anggota keluarga lainnya serta akses layanan sosial yang dibutuhkan," jelas Atip.


Peristiwa di NTT ini juga menjadi momentum bagi Kemendikdasmen untuk mengingatkan kembali peran penting ekosistem sekolah. Satuan pendidikan diharapkan tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga menjadi "rumah kedua" yang aman secara emosional.

Atip mengajak para guru dan orang tua untuk membangun komunikasi yang lebih terbuka. Tujuannya agar setiap anak merasa aman untuk mengekspresikan kerentanan atau masalah yang mereka hadapi tanpa rasa takut. Penguatan kepedulian terhadap kondisi emosional anak menjadi kunci agar setiap murid merasa didengar dan dihargai di lingkungannya.

"Sekolah, keluarga, dan masyarakat memiliki peran krusial dalam memastikan setiap anak mendapatkan pendampingan yang memadai," tambahnya

Menutup pernyataannya, Wakil Menteri mengimbau masyarakat luas dan media untuk menyikapi informasi seputar wafatnya murid tersebut dengan bijak. Kemendikdasmen meminta semua pihak menghindari penyebaran spekulasi yang belum terbukti kebenarannya.

Penyebaran informasi yang simpang siur dinilai hanya akan menambah beban psikologis bagi keluarga korban yang sedang berduka serta mengganggu stabilitas psikis komunitas sekolah di Ngada. Dukungan kolektif dari semua pihak diperlukan untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang benar-benar ramah dan berakhlak.

Pemerintah berkomitmen bahwa pendidikan bermutu untuk semua hanya bisa dicapai jika faktor keamanan, kenyamanan, dan dukungan psikososial menjadi fondasi utama dalam setiap kebijakan pendidikan di masa depan.

Tim Schoolmedia

Berita Selanjutnya
Tokoh Politik Luar Negeri Apresiasi Dialog Terbuka dengan Presiden Terkait Palestina
Berita Sebelumnya
3,6 Juta Anak Indonesia Alami Kelainan Refraksi, Kemenkes Perluas Akses Layanan Kesehatan Mata

Berita Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar