Cari

Kisah TKIT Permata Bunda Merauke Papua Selatan Menjemput Era Digitalisasi Gen Alfa

Schoomedia News Jakarta = Matahari baru saja tergelincir di ufuk barat Jalan Ngga, Kompleks KPR BTN, Merauke, saat sebuah truk ekspedisi berhenti di depan gerbang TKIT Permata Bunda. Di dalamnya, sebuah kotak besar berisi Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital (PID)—papan tulis digital layar sentuh mutakhir—baru saja tiba.

Bagi Ruyana (43), Kepala Sekolah TKIT Permata Bunda, kedatangan alat itu bukan sekadar tambahan aset sekolah. Ia adalah simbol bahwa anak-anak di selatan Papua tidak boleh tertinggal oleh deru digitalisasi yang berlari kencang di Jawa atau belahan dunia lainnya. Saat ini merupakan era digital yang menjadi kebutuhan generasi Alfa. 

"Anak-anak zaman sekarang atau generasi Alfa lahir sudah memegang ponsel. Mereka adalah penduduk asli zaman digital. Jika gurunya tidak 'melek' teknologi, kita akan tertinggal jauh oleh murid kita sendiri," ujar Ruyana saat ditemui di sekolahnya yang asri, akhir Februari 2026.

Ruyana, yang telah mengabdikan diri di dunia pendidikan anak usia dini (PAUD) sejak 2011, memahami betul pergeseran zaman. Menjadi kepala sekolah sejak 2018, ia menyaksikan bagaimana pola asuh berubah. Banyak anak yang kini lebih fasih menggeser layar ponsel daripada memegang krayon, sebuah tantangan yang jika tidak dikelola dengan bijak, bisa menghambat fokus dan adaptasi sosial anak.

Menembus Keterbatasan

Perjalanan mendapatkan bantuan IFP ini dimulai dari keaktifan Ruyana memantau media sosial dan Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Begitu ada sinyal bantuan dari pemerintah, ia tak membuang waktu. Prosesnya tergolong cepat. Setelah konfirmasi kesediaan, ia segera tergabung dalam grup koordinasi wilayah Papua.

Tantangannya bukan pada birokrasi, melainkan jarak dan infrastruktur. Untuk menguasai alat canggih tersebut, Ruyana harus terbang ke Sorong guna mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek). Sekembalinya dari sana, ia membawa misi: melakukan transformasi pengetahuan kepada delapan guru lainnya di sekolah.

"Semua guru harus bisa. Tidak ada pengecualian. Kami berbagi ilmu sampai semuanya lancar mengoperasikan IFP," tegasnya.

Kini, satu unit IFP tersebut menjadi "bintang utama" bagi tujuh rombongan belajar (rombel) di TKIT Permata Bunda—tiga kelas TKA, tiga kelas TKB, dan satu kelompok bermain (playgroup). Karena hanya ada satu unit, manajemen waktu menjadi kunci. Sebuah jadwal ketat disusun agar setiap kelas mendapatkan giliran merasakan sensasi belajar di depan layar raksasa tersebut.

"Nonton" di Balik Jendela

Kehadiran IFP menciptakan keriuhan yang positif. Ruyana menceritakan betapa antusiasnya para siswa saat pertama kali melihat layar sentuh tersebut menyala. "Anak-anak itu heboh sekali. Mereka penasaran, pengen tahu itu apa," kenangnya sambil tersenyum.

Bahkan, saking tingginya rasa ingin tahu mereka, seringkali anak-anak dari kelas yang belum mendapat giliran nekat mengintip lewat jendela atau celah pintu. Mereka terpaku melihat teman-temannya asyik bermain gim edukasi di Rumah Pendidikan atau melihat video senam "Orang Indonesia Hebat" dengan kualitas gambar yang tajam.

Bagi siswa kelas kecil (TKA), keterbatasan fisik menjadi cerita unik tersendiri. Layar IFP yang dipasang cukup tinggi membuat mereka harus berjinjit atau berdiri di atas kursi agar tangan mungil mereka bisa menyentuh ikon-ikon di layar. 

"Kadang mereka bukan menyentuh pelan, tapi memukul karena saking semangatnya. Kami harus pelan-pelan mengajari mereka bahwa ini cukup disentuh lembut saja," kata Ruyana.

Tak hanya untuk murid, IFP ini juga menjadi penyelamat bagi para guru. Bersamaan dengan IFP, sekolah juga menerima bantuan laptop dan hardisk. Sebelum ada bantuan ini, para guru seringkali harus meminjam laptop milik orang lain hanya untuk menyusun perangkat pembelajaran. Kini, laptop tersebut bisa disambungkan ke IFP melalui kabel HDMI untuk rapat guru hingga pelatihan internal.

Bijak di Tengah Arus Digital

Meski teknologi telah masuk ke ruang kelas, Ruyana tetap berpijak pada bumi. Ia sadar bahwa teknologi adalah pisau bermata dua. Di Merauke, ia kerap menemui anak-anak yang sulit fokus atau mengalami keterlambatan adaptasi karena terlalu banyak terpapar gawai di rumah.

Oleh karena itu, penggunaan IFP di sekolah dilakukan dengan pendampingan ketat. Termasuk bagi satu siswa berkebutuhan khusus yang memiliki masalah fokus. "Kami dampingi terus. Teknologi ini alat bantu, tapi sentuhan guru tetap yang utama," imbuhnya.

Lokasi sekolah yang berada di dataran yang agak tinggi membuat Ruyana sedikit bernafas lega karena aman dari ancaman banjir yang terkadang melanda jalanan sekitar saat hujan deras. Namun, ia tetap memiliki sejumput harapan kepada pemerintah. Ia berharap konten edukasi di fitur Rumah Pendidikan bisa diperbanyak dan lebih variatif sesuai kebutuhan anak-anak di daerah.

"Kami sangat bersyukur. Kalau tidak ada bantuan ini, mungkin suasana belajar kami masih seperti dulu. Sekarang, meski di Merauke, anak-anak kami bisa merasakan kemajuan yang sama," ujar perempuan yang tetap lincah di usia kepala empat ini.

Bagi Ruyana, IFP bukan sekadar layar kaca. Ia adalah jendela dunia bagi anak-anak di ujung timur Indonesia, membuktikan bahwa pendidikan berkualitas tidak boleh terhalang oleh garis batas geografi. Di TKIT Permata Bunda, masa depan itu kini bisa disentuh dengan ujung jari.

Tim Schoolmedia

Artikel Selanjutnya
Dugaan Gratifikasi Penggunaan Jet Pribadi oleh Menteri Agama
Artikel Sebelumnya
Jumlah Penerima Program Afirmasi untuk Guru 3T dan Wilayah Terdampak Bencana Akan Ditambah

Artikel Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar