
Schoolmedia News Jakarta = Lampu-lampu Taman Ismail Marzuki masih menyala ketika ratusan orang tua, pegiat komunitas, dan perwakilan pemerintah duduk berdampingan pada Sabtu sore, 14 Februari 2026. Di ruang yang lebih sering dipenuhi diskusi seni dan sastra itu, percakapan hari itu bergeser ke isu yang jauh lebih sunyi namun menentukan: keselamatan anak-anak di dunia digital.
Peringatan Safer Internet Day 2026 di Jakarta bukan sekadar seremoni tahunan. Ia menjadi cermin kegelisahan bersamaâtentang layar gawai yang semakin dekat dengan anak, sementara jarak pemahaman orang dewasa justru kerap melebar.
Safer Internet Day lahir sebagai gerakan dunia, diinisiasi lebih dari dua dekade lalu, ketika internet mulai merambah ruang-ruang privat keluarga. Awalnya, kampanye ini menekankan keamanan teknis: kata sandi, perlindungan data, dan bahaya peretas.
Namun, seiring waktu, persoalan menjadi jauh lebih kompleks. Internet bukan lagi sekadar alat, melainkan ruang hidup kedua bagi anak dan remajaâtempat mereka belajar, bersosialisasi, sekaligus rentan terpapar kekerasan, eksploitasi, dan manipulasi.
Indonesia merespons kegelisahan global itu dengan caranya sendiri. Di negeri dengan lebih dari separuh penduduk terkoneksi internet, anak-anak tumbuh bersama algoritma. Mereka mahir menggulir layar, tetapi sering kali berjalan sendirian tanpa peta.
Di sinilah negara mulai menaruh perhatian. Melalui FutureFam Summitâbagian dari peringatan Safer Internet Dayâpemerintah mencoba menggeser fokus: dari sekadar teknologi menuju penguatan keluarga.
Di hadapan peserta, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, menyampaikan pesan yang berulang kali ia tekankan.
Internet, kata Woroâyang akrab disapa Lisaâtak mungkin dibendung. Yang bisa dilakukan adalah memastikan anak-anak tidak mengarunginya sendirian.
âKeluarga adalah lingkungan pertama dan terdekat yang menentukan bagaimana anak mengenal, menggunakan, dan bersikap di ruang digital,â ujarnya. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan persoalan panjang: bagaimana orang tua yang gagap teknologi dapat mendampingi anak yang lahir sebagai digital native?
Lisa menyebut ruang digital ideal sebagai ekosistem yang saling menopang. Anak harus berdaya, orang dewasa paham, komunitas peduli, dan sistem bertanggung jawab. Namun, realitasnya sering timpang. Banyak orang tua menyerahkan gawai sebagai pengalih perhatian, tanpa bekal literasi untuk memahami risiko di baliknya. Konten berisiko, perundungan siber, hingga eksploitasi seksual daring mengintai di balik aplikasi yang tampak ramah.
Kegelisahan itu terasa di ruang diskusi FutureFam Summit. Sejumlah orang tua berbagi cerita tentang anak yang lebih percaya pada influencer ketimbang orang tuanya sendiri, atau remaja yang mengalami tekanan psikologis akibat komentar di media sosial. Internet, yang semula menjanjikan keterhubungan, kerap berubah menjadi ruang sunyi yang kejam.
Di titik inilah pemerintah mencoba masuk lebih jauh. Lisa menegaskan, perlindungan anak di ruang digital tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus terhubung dengan agenda pembangunan keluarga secara menyeluruh. Keluarga yang rapuhâsecara ekonomi, emosional, maupun relasionalâakan kesulitan membangun pengasuhan digital yang sehat.
âJika keluarga kuat, anak terlindungi. Jika anak terlindungi, masa depan bangsa terjaga,â kata Lisa, menautkan isu digital dengan narasi besar pembangunan manusia.
FutureFam Summit, 1 Jam Bersama Keluarga
FutureFam Summit juga menjadi panggung peluncuran dan penguatan sejumlah inisiatif, seperti program 1 Jam Berkualitas Bersama Keluarga dan Gerakan Ramadan Ramah Anak yang diluncurkan awal Februari 2026.
Program-program ini terdengar normatif, tetapi pemerintah berharap ia menjadi pengingat konkret: bahwa kehadiran orang tuaâsecara utuh, tanpa distraksi layarâmasih relevan di tengah banjir teknologi.
Respons negara terhadap Safer Internet Day tidak datang sendirian. Di ruangan itu hadir perwakilan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Komunikasi dan Digital, Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Badan Siber dan Sandi Negara, hingga organisasi masyarakat sipil dan mitra internasional. Kehadiran mereka menandai kesadaran bahwa ruang digital adalah wilayah lintas sektorâtak bisa diurus satu lembaga saja.
Namun, tantangan sesungguhnya ada di luar gedung. Sejauh mana pesan-pesan itu sampai ke ruang keluarga yang sesungguhnya? Seberapa jauh negara mampu menjangkau orang tua di pelosok yang bahkan belum menyadari risiko digital sebagai ancaman nyata?
Safer Internet Day 2026 di Jakarta menutup acaranya menjelang malam. Peserta beranjak pulang, kembali ke rumah masing-masingâke ruang keluarga yang kini bersisian dengan layar gawai. Di sanalah pertaruhan sesungguhnya berlangsung.
Apakah internet akan menjadi ruang aman untuk tumbuh, atau ladang risiko yang tak terkelola, bergantung pada satu hal yang terus diulang hari itu: sejauh mana keluarga hadir dan peduli.
Tim Schoolmedia
Tinggalkan Komentar