Cari

Penandatanganan PKS Revitalisasi Satuan PAUD Terdampak Bencana Angkatan 5 Tahun 2026 Untuk 57 PAUD di Provinsi Aceh


Penandatanganan PKS Revitalisasi Satuan PAUD Terdampak Bencana Angkatan 5 Tahun 2026 Untuk 57 PAUD di Provinsi Aceh 

BANDA ACEH Schoolmedia – Sebanyak 57 satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang mengalami kerusakan bahkan kehancuran akibat terdampak banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah Provinsi Aceh mengikuti Kegiatan Finalisasi Dokumen Perencanaan dan Penandatanganan Perjanjian Kerjasama (PKS) Program Revitalisasi PAUD Tahun 2026 Angkatan 5.

Kegiatan yang digelar di Kota Banda Aceh, Kamis - Sabtu (12-14/2) merupakan tahapan krusial sebelum penyaluran bantuan pemerintah serta bentuk komitmen dalam memulihkan akses pendidikan yang layak bagi anak-anak di daerah terdampak bencana.

Kegiatan yang juga menjadi tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto pada Puncak Hari Guru Nasional ini bertujuan memastikan kesiapan administrasi, teknis, dan akuntabilitas pelaksanaan program sebelum bantuan disalurkan langsung kepada satuan pendidikan. 

Finalisasi dokumen mencakup penyempurnaan usulan kegiatan, Rencana Anggaran Biaya (RAB), detail gambar kerja, rencana jadwal pelaksanaan, hingga rencana kerja keseluruhan. Setelah dinyatakan sesuai ketentuan, dilakukan penandatanganan PKS antara Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan kepala satuan PAUD penerima bantuan.

Anggran Revitalisasi Rp 571,6 Triliun Selama Lima Tahun

Kebijakan penyaluran bantuan langsung kepada satuan pendidikan menjadi bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang bertujuan membangun satuan pendidikan unggul dan merevitalisasi fasilitas pendidikan secara nasional. Berdasarkan rancangan awal RPJMN 2025–2029 yang disusun Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, kebutuhan total revitalisasi satuan pendidikan dalam lima tahun ke depan diproyeksikan mencapai Rp571,6 triliun. 

Pada tahun 2026, pemerintah memprioritaskan revitalisasi sarana dan prasarana serta pembangunan Unit Sekolah Baru (USB) guna meningkatkan akses layanan pendidikan dari PAUD hingga pendidikan menengah serta menyediakan fasilitas belajar yang aman, nyaman, dan berkualitas.

Dalam sambutannya pada acara tersebut, Staf Khusus Menteri Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah 3T Kemendikdasmen Dr Rita Pranawati, S.S., M.A., menyampaikan bahwa kondisi pascabencana yang dihadapi oleh masyarakat Aceh tidaklah mudah, terutama dalam upaya memulihkan layanan pendidikan dasar. 

"Kita tahu bahwa situasi bencana yang terjadi beberapa waktu lalu memberikan beban yang berat. Namun, kini kita bersinergi untuk bangun bersama, mewujudkan revitalisasi yang sepenuh hati untuk mendukung anak-anak belajar dengan nyaman dan penuh semangat," ujarnya dalam sambutan yang dimulai dengan bacaan basmala.

Acara yang dihadiri oleh Kepala BPNB Provinsi Aceh, perwakilan dari berbagai institusi terkait, serta perwakilan dari 10 kabupaten/kota di Aceh tersebut juga menjadi momentum untuk menegaskan komitmen pemerintah dalam memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan. 

Menurut Rita, program revitalisasi sarana prasarana pendidikan telah menjadi prioritas nasional. Tahun lalu, sebanyak 16.000 satuan pendidikan di seluruh Indonesia berhasil direvitalisasi, melebihi target awal yang direncanakan sebanyak 11.000 unit.

"Presiden sangat berkomitmen untuk memastikan anak-anak kita memiliki tempat bermain dan belajar yang aman. Kita ingin menghilangkan kondisi kelas yang rusak parah dan toilet yang tidak layak pakai. Setiap anak berhak mendapatkan fasilitas pendidikan yang memenuhi standar keamanan dan kenyamanan," jelasnya dengan tegas.

3.865 PAUD Nasional Jadi Calon Penerima

Direktorat PAUD mencatat sedikitnya 3.865 satuan PAUD telah masuk dalam daftar calon penerima bantuan revitalisasi Tahun Anggaran 2026. Setelah melalui proses verifikasi dan konfirmasi bersama dinas pendidikan kabupaten/kota, satuan-satuan tersebut ditetapkan sebagai sasaran program. 

Untuk tahun ini, meskipun prioritas revitalisasi diberikan pada daerah-daerah seperti Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Jakarta, pemerintah memberikan perhatian khusus bagi Aceh dengan menangani 57 satuan PAUD.

Pada Angkatan 5 ini, fokus bantuan diberikan kepada satuan PAUD terdampak bencana di sejumlah wilayah Aceh, meliputi Aceh Barat, Aceh Selatan, Aceh Timur, Aceh Tengah, Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Nagan Raya, Pidie Jaya, dan Kota Lhokseumawe. Beberapa satuan penerima bantuan antara lain TK Negeri 1 Sungai Mas, TK Negeri 2 Arongan Lambalek

TK Dharmawanita Trumon Tengah, TK Negeri Pembina Peureulak, TK IT Ananda, TK Negeri Pembina Blang Mangat, TK Negeri Pembina Muara Satu, dan berbagai satuan lainnya di wilayah tersebut.

Dari jumlah keseluruhan, 54 satuan mengalami kerusakan sedang hingga ringan yang akan segera diperbaiki, sedangkan 3 satuan dengan kerusakan berat akan diproses secara bertahap sesuai dengan prosedur teknis dan ketersediaan anggaran.

Disesuaikan Kebutuhan Masa Kini

Selain perbaikan fisik infrastruktur pendidikan, pemerintah juga akan mengimplementasikan program pendukung lainnya, antara lain digitalisasi pembelajaran. Rita menjelaskan bahwa langkah ini disesuaikan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan anak-anak yang kini telah akrab dengan teknologi digital.

"Anak-anak sekarang hidup dengan gawai, jadi kita harus menyelaraskan metode pembelajaran dengan kondisi mereka. Melalui digitalisasi, pembelajaran menjadi lebih menarik, dengan adanya video pembelajaran dari pusat yang akan dikirimkan ke setiap satuan PAUD di Aceh," paparnya.

Tidak hanya fokus pada aspek akademik, acara tersebut juga menyoroti pentingnya pembentukan karakter anak-anak sejak usia dini. Rita mengungkapkan bahwa banyak anak saat ini lebih banyak berinteraksi dengan perangkat elektronik dibandingkan dengan orang tua atau lingkungan sekitarnya.

Untuk itu, pemerintah meluncurkan program "Anak Indonesia Hebat" yang bertujuan untuk menguatkan pembiasaan baik seperti menjalankan ibadah, berolahraga secara teratur, menjaga pola hidup sehat, serta mengembangkan budaya literasi.

"Kita melihat data dari BPCS Kesehatan Anak yang menunjukkan bahwa masalah kesehatan mata, gigi, dan telinga banyak terkait dengan penggunaan gawai yang tidak terkontrol. Oleh karena itu, peran orang tua dan guru sangat penting dalam membimbing anak-anak agar dapat menggunakan teknologi dengan bijak," jelasnya.

Literasi dan STEM Diajarkan Sambil Bermain

Rita juga menekankan pentingnya literasi sejak usia dini, dengan mengajak seluruh pihak untuk aktif dalam membangun budaya membaca. "Kita mendorong orang tua untuk membawa setidaknya satu buku untuk dibacakan kepada anak-anak mereka, baik di rumah maupun di sekolah. Hal ini tidak hanya meningkatkan kemampuan membaca, tetapi juga mengajak anak-anak untuk berpikir kritis dan mengembangkan imajinasi mereka," ujarnya.

Selain itu, pengenalan konsep STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) juga akan dilakukan secara sederhana melalui aktivitas praktis seperti mencampur warna, mengenal bentuk geometris, dan eksperimen sederhana yang dapat dilakukan di lingkungan PAUD. 

"Bahkan mencampur warna kuning dan merah yang menghasilkan oranye sudah merupakan bagian dari pemahaman awal terhadap ilmu kimia. Ini adalah cara yang menyenangkan untuk mengenalkan anak-anak pada konsep ilmiah sejak dini," tambahnya.

Pertanggungjawaban Selama 10 Tahun

Rita menegaskan bahwa revitalisasi sarana prasarana merupakan bagian integral dari transformasi pendidikan nasional tahun 2026. Melalui kegiatan finalisasi dan penandatanganan PKS ini, pemerintah berharap pelaksanaan revitalisasi dapat berjalan tepat sasaran, transparan, dan akuntabel.

 Dokumen perencanaan dan kerja sama yang telah disepakati akan menjadi dasar pelaksanaan sekaligus pertanggungjawaban bantuan, yang wajib disimpan satuan pendidikan minimal selama 10 tahun.

Dalam penutup sambutannya, Rita mengajak seluruh pihak untuk memastikan pelaksanaan program revitalisasi berjalan dengan baik dan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. 

"Kita berharap seluruh proses pembangunan dan revitalisasi dapat berjalan lancar, tanpa hambatan yang tidak perlu. Semoga dengan program ini, Aceh dapat melahirkan generasi muda yang berkualitas dan siap menjadi pemimpin bangsa di masa depan," pungkasnya sebelum acara ditutup dengan doa bersama.

Dengan langkah ini, pemerintah menegaskan komitmennya dalam menghadirkan layanan PAUD yang bermutu, merata, dan berkelanjutan bagi seluruh anak Indonesia, termasuk di wilayah terdampak bencana.

Penyunting : Eko B Harsono 



Artikel Selanjutnya
Pemerintah Pusat dan Daerah Bahas Percepatan Transformasi Pendidikan di Jawa Barat
Artikel Sebelumnya
Ruang Praktik Baru SMK Tingkatkan Semangat dan Kesiapan Murid dalam Belajar

Artikel Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar