
Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran Hadirkan Harapan Baru bagi Siswa
NEWS SCHOOLMEDIA = Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq meninjau langsung pelaksanaan revitalisasi sarana prasarana sekolah serta digitalisasi pembelajaran di SD Yayasan Amal Keluarga, Kabupaten Bandung pada Kamis (2/6). Kunjungan ini dilakukan untuk untuk memantau pemanfaatan bantuan pemerintah guna meningkatkan kualitas pembelajaran.
Revitalisasi Satuan Pendidikan tersebut didukung melalui anggaran sebesar Rp180 juta, yang digunakan untuk merehabilitasi dua ruang kelas baru dan satu perpustakaan. Selain revitalisasi fisik, sekolah juga menerima dukungan digitalisasi pembelajaran melalui pemanfaatan Papan Interaktif Digital (PID) / _Interactive Flat Panel_ (IFP) guna mendukung proses belajar mengajar yang lebih interaktif dan menyenangkan.
Dalam kunjungan tersebut, Wamen Fajar berinteraksi langsung dengan guru dan peserta didik di dalam kelas. Ia berdialog dengan guru mengenai pemanfaatan sarana hasil revitalisasi serta penggunaan IFP dalam pembelajaran, sekaligus menyapa dan berinteraksi dengan siswa yang tengah mengikuti kegiatan belajar untuk melihat secara langsung suasana pembelajaran.
Pada kesempatan yang sama, Wamen Fajar juga menyampaikan pesan kepada para siswa mengenai pentingnya menjaga kebersihan sebagai bagian dari pembentukan karakter sejak dini dan penerapan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
âMembuang sampah pada tempatnya dan membersihkan lingkungan merupakan wujud dari 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yaitu bermasyarakat. Anak-anak jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan, baik di lingkungan sekitar, di rumah, maupun di sekolah. Kalau ada sampah, buanglah pada tempatnya, dan jika sampah tersebut bisa didaur ulang, maka manfaatkan untuk didaur ulang. Di mana pun berada, kebiasaan menjaga kebersihan harus terus dilakukan,â ujar Fajar.
Kepala SD Yayasan Amal Keluarga, Asep Miftahudin, mengungkapkan bahwa sebelum revitalisasi, kondisi sekolah sangat memprihatinkan. Pada masa pandemi COVID-19, sekolah hampir libur total selama kurang lebih dua tahun sehingga banyak bangunan dan infrastruktur mengalami kerusakan dan tidak terurus.
âKeadaan sekolah itu memang sangat memprihatinkan karena pada masa COVID-19 sekolah kami hampir libur total selama dua tahun. Kondisi ini jelas mengganggu proses pembelajaran karena sekolah digunakan aktif oleh anak-anak. Kami juga khawatir apabila tidak diperbaiki akan berdampak pada keberlangsungan belajar, bahkan keselamatan anak-anak, karena kondisi bangunan terutama atap sudah rusak parah,â ujar Asep.
Ia menuturkan bahwa kerusakan paling parah terjadi pada perpustakaan dan ruang kelas yang kemudian direhabilitasi. Akibat kondisi tersebut, pihak sekolah sempat mengevakuasi siswa dan memindahkan kegiatan belajar ke ruang kelas lain, yang juga dikeluhkan oleh siswa karena ruang belajar yang tersedia tidak sesuai dengan harapan mereka.
Melalui program revitalisasi, kondisi sekolah kini mengalami perubahan signifikan. Dua ruang kelas dan perpustakaan yang sebelumnya rusak telah direhabilitasi dan kembali dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
âAlhamdulillah, setelah ada program revitalisasi, sekolah kami sudah bisa digunakan kembali oleh anak-anak untuk belajar. Hari ini sudah dipakai dan anak-anak terlihat gembira, nyaman, dan sangat bersemangat untuk bersekolah. Guru-guru juga mengucapkan terima kasih, khususnya kepada Bapak Presiden, Bapak Menteri, Bapak Wakil Menteri, serta para kepala dinas terkait. Bantuan revitalisasi ini sangat membantu sekolah kami,â Ujarnya.
Terkait digitalisasi pembelajaran, Asep menyampaikan bahwa kehadiran IFP membawa dampak besar bagi proses belajar mengajar dan menyesuaikan karakter peserta didik dengan perkembangan zaman.
âWah, kehadiran IFP sangat luar biasa. Anak-anak senang. Di satu sisi ini memudahkan guru, dan di sisi lain juga memudahkan anak-anak. Anak-anak jadi lebih aktif dan kritis ketika pembelajaran menggunakan IFP. Beda dengan dulu, kemajuannya luar biasa. Anak-anak gembira dan lebih mudah belajar karena ini sesuai dengan tuntutan zaman dan karakter anak-anak sekarang yang sudah akrab dengan dunia digital,â ungkapnya.
Dampak positif digitalisasi pembelajaran juga dirasakan oleh guru kelas IV, Murti Kurnia. Ia menyampaikan bahwa penggunaan IFP meningkatkan antusiasme dan motivasi belajar siswa.
âSetelah ada IFP, anak-anak lebih antusias. Jadi belajar menyenangkan. Dulu juga anak-anak belajarnya menyenangkan, tapi tidak seperti sekarang. Banyak hal baru yang mereka temukan dari pelajaran. Anak-anak jadi ceria dan semangat. Bahkan ada anak-anak yang tadinya malas sekolah, sekarang jadi senang sekolah karena ingin belajar di TV besar,â tambahnya.
Menurutnya, digitalisasi pembelajaran sangat penting agar peserta didik tidak tertinggal perkembangan zaman dan tetap memiliki kesempatan belajar yang setara. âSekarang sudah masuk era globalisasi. Anak-anak harus belajar bernalar kritis, jadi digitalisasi pembelajaran sangat penting supaya mereka tidak ketinggalan zaman. Tidak semua anak punya handphone, sehingga pembelajaran digital di sekolah sangat membantu,â tuturnya.
Dampak pembelajaran berbasis digital juga dirasakan langsung oleh peserta didik. Jovinka, siswa kelas II SD Yayasan Amal Keluarga, ia mengaku senang belajar menggunakan IFP karena membuat pembelajaran terasa lebih menyenangkan. âAku suka belajar matematika di kelas pakai IFP karena seru, bisa sambil main game bareng teman-teman,â ujar Jovinka.
TIM SCHOOLMEDIA
Tinggalkan Komentar