
Kemendikdasmen Perkuat Transformasi Layanan Digital lewat Sistem MELIA
Schoolmedia News Tangerang Selatan â Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkenalkan sistem Manajemen Layanan Infrastruktur Anda atau MELIA sebagai upaya memperkuat tata kelola layanan digital di lingkungan internal kementerian. Sistem ini disiapkan menjadi pusat pengelolaan layanan teknologi informasi yang lebih terukur, transparan, dan dapat dipantau secara real time oleh para pemangku kepentingan.
Peluncuran MELIA dilakukan oleh Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikdasmen pada Rabu (â¦). Sistem tersebut dikembangkan sebagai respons atas meningkatnya kebutuhan layanan digital yang andal seiring perluasan ekosistem pendidikan berbasis teknologi.
Kepala Pusdatin Kemendikdasmen, Yudhistira Nugraha, menyatakan bahwa MELIA dirancang untuk menjawab persoalan lama terkait tata kelola layanan digital pemerintah yang kerap mengandalkan komunikasi informal. âSelama ini banyak layanan yang masih berjalan secara ad hoc. Dengan MELIA, setiap proses harus terdokumentasi, terstandardisasi, dan dapat diukur,â ucapnya saat peluncuran.
Menurut Yudhistira, peningkatan akses teknologi di sekolah serta integrasi berbagai aplikasi digital di kementerian menuntut kehadiran sistem yang mampu mengelola permintaan layanan secara lebih profesional. Dalam konteks itu, MELIA disebut menjadi pilar penting untuk memastikan seluruh infrastruktur digital berada dalam kendali yang konsisten.
Empat Modul Layanan
MELIA memiliki empat modul utama yang saling terhubung. Pertama, Katalog Layanan, yang memuat daftar seluruh layanan infrastruktur digital yang ditawarkan Pusdatin. Kedua, Permintaan Layanan, yaitu kanal yang memungkinkan unit kerja mengajukan kebutuhan teknologi secara resmi.
Modul ketiga adalah Manajemen Insiden, yang digunakan untuk pencatatan, penelusuran, dan penyelesaian gangguan teknis. Sementara modul keempat, Manajemen Pengetahuan, menjadi basis data berisi dokumentasi teknis, panduan, serta catatan penyelesaian masalah sebelumnya. Keempat modul tersebut terintegrasi dalam satu portal yang dapat diakses oleh seluruh unit kerja.
Dengan pengelolaan seperti itu, proses layanan diharapkan tidak lagi bergantung pada percakapan perorangan antara staf teknis dan pengguna, melainkan melalui kanal resmi yang terekam. âKita ingin mengakhiri budaya semua-masalah-ditanyakan-lewat-chat. Layanan publik, termasuk layanan internal, harus memiliki standar,â kata Yudhistira.
Penguatan Akuntabilitas
Penerapan MELIA juga dihubungkan dengan Service Level Agreement (SLA), atau standar waktu penyelesaian layanan. Setiap permintaan dan insiden yang masuk akan tercatat sejak awal, dipantau progres penyelesaiannya, dan dievaluasi kinerjanya.
âDengan SLA yang terukur, kita bisa memastikan apakah layanan sudah sesuai standar, mana yang perlu dipercepat, dan bagaimana kinerja tim dalam jangka panjang,â ujar Yudhistira. Mekanisme seperti itu, menurut dia, menjadi dasar penting untuk meningkatkan akuntabilitas dan kepercayaan pengguna.
Dalam jangka panjang, Pusdatin menargetkan MELIA akan terhubung dengan ekosistem layanan digital yang lebih luas. Sistem ini disiapkan sebagai tulang punggung Rumah Pendidikan, super-aplikasi yang dikembangkan Kemendikdasmen untuk mengintegrasikan berbagai layanan pembelajaran digital, mulai dari konten pembelajaran, laboratorium maya, hingga asesmen daring.
Bagian dari Transformasi Digital Pendidikan
Peluncuran MELIA menandai fase baru digitalisasi layanan di sektor pendidikan setelah pemerintah memperluas program digitalisasi pembelajaran di lebih dari 200.000 sekolah dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah juga terus menambah perangkat pembelajaran digital dan pelatihan guru terkait teknologi.
Namun, digitalisasi berskala besar tersebut menuntut kesiapan infrastruktur pendukung, termasuk memastikan layanan backend pemerintah dapat bekerja stabil. Di sinilah MELIA diharapkan mengisi kekosongan tata kelola layanan digital yang selama ini dinilai belum seragam antarunit.
Analis kebijakan pendidikan dari sebuah lembaga independen, â¦, menilai upaya standarisasi layanan digital penting dilakukan agar berbagai aplikasi pemerintah tidak berjalan sendiri-sendiri. âTantangannya bukan hanya menyediakan teknologi, tetapi memastikan sistem pendukungnya bekerja konsisten. Tanpa itu, layanan akan kacau walaupun aplikasi di depan tampak rapi,â ujarnya.
Meski demikian, pelaksanaan transformasi digital pendidikan masih menghadapi persoalan pemerataan infrastruktur. Banyak sekolah di daerah terpencil belum memiliki akses internet yang stabil. Kondisi itu kerap menjadi hambatan utama ketika sekolah harus menggunakan perangkat digital atau mengakses layanan daring kementerian.
Pusdatin mengakui bahwa isu infrastruktur di luar institusi tidak dapat diselesaikan sendirian. Namun, internal kementerian tetap perlu memastikan seluruh layanan yang berada dalam kendali pemerintah bekerja optimal. âKita tidak bisa menunggu semua infrastruktur merata. Layanan pusat harus diperbaiki terlebih dahulu agar ketika konektivitas membaik, semua layanan siap digunakan,â kata Yudhistira.
Harapan ke Depan
Dengan implementasi MELIA, Kemendikdasmen berharap tata kelola layanan digital di internal kementerian menjadi lebih efisien. Dokumentasi layanan yang lebih rapi juga diharapkan dapat menjadi dasar pengambilan keputusan yang lebih tepat di masa depan.
âTransformasi digital bukan hanya soal aplikasi baru, tetapi perubahan budaya kerja,â ujar Yudhistira. Penerapan MELIA, katanya, merupakan langkah awal menuju layanan pendidikan yang lebih profesional dan mampu menjawab kebutuhan era digital.
Tim Schoolmedia
Tinggalkan Komentar