4 Kali Gagal Tak Bikin Fachry Menyerah, Alumni MAN IC Tapsel Akhirnya Lolos Akmil 2026
Schoolmedia News - Kegagalan berkali-kali tidak membuat Fachry Irgina Ramadhan Parapat berhenti mengejar cita-citanya. Alumni Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) Tapanuli Selatan (Tapsel) itu akhirnya berhasil mewujudkan impiannya setelah dinyatakan lolos sebagai calon Taruna Akademi Militer (Akmil) tahun 2026.
Perjalanan Fachry menuju titik tersebut tidak mudah. Ia harus melewati sejumlah kegagalan dalam upayanya masuk sekolah kedinasan. Tercatat, Fachry pernah gagal dalam seleksi Akademi Kepolisian (Akpol) sebanyak dua kali, gagal dalam seleksi Politeknik Ilmu Pemasyarakatan (Poltekip), serta pernah gagal dalam seleksi Akmil. Empat kegagalan tersebut tidak membuatnya memilih berhenti.
Justru, setiap kegagalan menjadi pengalaman yang membuat Fachry semakin memahami apa yang harus diperbaiki. Ia kembali mencoba dengan persiapan yang lebih matang. Hingga akhirnya, kesempatan kedua mengikuti seleksi Akmil menjadi titik balik yang mengantarkannya menuju keberhasilan.
Fachry dinyatakan lulus dalam sidang Pantukhir Pusat Penerimaan Taruna Akademi TNI Tahun Anggaran 2026. Sidang tersebut berlangsung di Gedung Lily Rochli, Akademi Militer, Magelang, Jawa Tengah, pada 29 Juli 2026.
Kabar tersebut menjadi kebahagiaan besar bagi keluarga. Bagi orang tua Fachry, keberhasilan anaknya merupakan buah dari kerja keras, doa, ketekunan, dan kemauan untuk terus mencoba meski berkali-kali menghadapi kegagalan.
Ayah Fachry, Iskandar Zulkarnaen Parapat, menggambarkan putranya sebagai sosok yang tekun, gigih, rajin, berbakti kepada orang tua, dan memiliki komitmen kuat dalam menjalankan ibadah. Dukungan keluarga menjadi salah satu sumber kekuatan Fachry selama menjalani proses panjang menuju cita-citanya.
Perjalanan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu datang pada percobaan pertama. Ada orang yang harus mencoba berulang kali sebelum akhirnya menemukan kesempatan yang tepat. Fachry memilih untuk melihat kegagalan sebagai bagian dari proses, bukan sebagai alasan untuk mengakhiri perjuangan.

Empat Kegagalan, Satu Cita-cita
Bagi Fachry, keinginan menjadi bagian dari TNI bukan sekadar sebuah rencana sesaat. Ia terus mengejar cita-cita tersebut meskipun harus menghadapi beberapa kali kegagalan.
Dua kali gagal dalam seleksi Akpol, satu kali gagal dalam seleksi Poltekip, dan satu kali gagal dalam seleksi Akmil menjadi bagian dari perjalanan yang harus dilaluinya. Jika dilihat sekilas, empat kegagalan tersebut mungkin terasa berat. Namun, Fachry justru kembali mempersiapkan diri dan mencoba lagi.
Kesempatan kedua dalam seleksi Akmil akhirnya memberikan hasil berbeda. Setelah melalui rangkaian proses seleksi, Fachry berhasil melewati tahap akhir dan dinyatakan lolos.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa kegagalan dalam sebuah seleksi tidak selalu menggambarkan kemampuan seseorang secara keseluruhan. Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi hasil, dan setiap kegagalan dapat menjadi kesempatan untuk melakukan evaluasi.
Dukungan Keluarga Menjadi Kekuatan
Di balik perjuangan Fachry, terdapat keluarga yang terus memberikan dukungan. Orang tua tidak hanya memberikan motivasi, tetapi juga mendampingi berbagai proses yang harus dijalani.
Dukungan tersebut semakin terasa dalam proses administrasi. Pihak MAN IC Tapsel menyebut Fachry bersama keluarganya termasuk yang aktif berkoordinasi dengan madrasah untuk melengkapi berbagai kebutuhan administrasi selama proses seleksi.
Kehadiran keluarga dalam proses panjang tersebut menunjukkan bahwa perjalanan meraih cita-cita sering kali tidak dilakukan seorang diri. Ada orang tua, guru, dan lingkungan pendidikan yang ikut memberikan dukungan.
Bagi seorang anak yang sedang berjuang mengejar cita-cita, dukungan tersebut dapat menjadi sumber motivasi ketika menghadapi kegagalan. Ketika kesempatan pertama belum berhasil, keluarga dapat menjadi tempat untuk kembali menyusun langkah.
Bekal dari MAN IC Tapanuli Selatan
Keberhasilan Fachry juga menjadi kebanggaan bagi MAN IC Tapanuli Selatan. Madrasah tersebut melihat keberhasilannya sebagai bagian dari upaya mencetak generasi muda yang dapat berkontribusi di berbagai bidang.
Lingkungan pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk karakter seorang siswa. Selain kemampuan akademik, kedisiplinan, tanggung jawab, dan ketekunan juga menjadi bekal ketika siswa melanjutkan perjalanan setelah lulus sekolah.
Fachry kini menjadi salah satu alumni MAN IC Tapsel yang melanjutkan langkah melalui pendidikan militer. Keberhasilannya menjadi catatan positif bagi madrasah sekaligus inspirasi bagi siswa yang masih menempuh pendidikan.
Kisahnya memperlihatkan bahwa pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun karakter dan mempersiapkan siswa menghadapi berbagai pilihan masa depan.
Kegagalan Bukan Akhir
Empat kali gagal mungkin cukup untuk membuat seseorang mempertanyakan kembali cita-citanya. Namun, Fachry mengambil pilihan berbeda. Ia terus mencoba hingga akhirnya berhasil dalam kesempatan kedua mengikuti seleksi Akmil.
Perjalanan tersebut menjadi pesan penting bagi generasi muda. Tidak semua cita-cita dapat dicapai dalam satu kali percobaan. Ada kalanya seseorang perlu mengulang proses, memperbaiki kekurangan, dan kembali mencoba.
Kegagalan juga dapat menjadi kesempatan untuk mengenali diri sendiri. Dari pengalaman sebelumnya, seseorang dapat mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki dan bagaimana mempersiapkan diri dengan lebih baik.
Fachry menunjukkan bahwa ketekunan memiliki peran besar dalam perjalanan menuju keberhasilan. Ia tidak membiarkan kegagalan menjadi identitasnya. Sebaliknya, ia menjadikannya sebagai bagian dari pengalaman yang membentuk dirinya.
Langkah Baru Menuju Masa Depan
Setelah dinyatakan lolos Akmil 2026, Fachry memasuki babak baru dalam kehidupannya. Perjuangan yang selama ini dilakukan untuk mendapatkan kesempatan menjadi taruna akhirnya membuahkan hasil.
Namun, keberhasilan lolos seleksi bukan berarti perjalanan telah selesai. Justru, hal tersebut menjadi awal dari proses pendidikan dan tanggung jawab baru yang akan dijalaninya.
Bekal pendidikan dari MAN IC Tapsel, dukungan keluarga, pengalaman menghadapi kegagalan, serta ketekunan dalam mengejar cita-cita akan menjadi bagian dari perjalanan berikutnya.
Bagi keluarga, keberhasilan Fachry tentu menjadi kebanggaan. Bagi sekolah, pencapaian tersebut menjadi salah satu bukti bahwa siswa dari madrasah dapat memiliki kesempatan untuk mengejar berbagai cita-cita.
Sementara bagi generasi muda yang sedang menghadapi kegagalan, perjalanan Fachry dapat menjadi pengingat bahwa satu kegagalan tidak menentukan seluruh masa depan seseorang.
Empat kali gagal tidak membuat Fachry berhenti. Ia kembali mencoba dan akhirnya berhasil mendapatkan kesempatan yang selama ini diperjuangkan.
Kisah Fachry menjadi cerita tentang kegigihan, dukungan keluarga, dan keberanian untuk mencoba kembali. Dari seorang alumni MAN IC Tapanuli Selatan yang sempat berkali-kali gagal, ia akhirnya berhasil membuka jalan menuju cita-citanya sebagai calon Taruna Akmil.
Perjalanan itu mengajarkan bahwa keberhasilan terkadang membutuhkan waktu lebih panjang daripada yang dibayangkan. Yang terpenting bukan seberapa cepat seseorang mencapai tujuan, melainkan seberapa kuat ia mampu bangkit dan melanjutkan perjalanan ketika menghadapi kegagalan.
_
Liputan Khusus Lainnya:
Sayang Tanpa Pamrih, Satoe Atap Semarang Setia Dampingi Anak-anak Menjemput Masa Depan
Dari Keluarga Petani Banyumas, Mohamad Toriq Anwar Jadi Lulusan Terbaik IPDN dan Dilantik Presiden
Sempat Gagal Akpol hingga IPDN, Charina Anggie Kini Jadi Sapta Abdi Praja dan Wujudkan Mimpi Sang Ayah