Sebulan Belajar di Rumah Sakit Slovakia, Mahasiswa FK UNAIR Saksikan Bedah Otak dengan Teknologi AI
Schoolmedia News - Pengalaman belajar di dunia kedokteran tidak selalu berlangsung di ruang kuliah atau laboratorium kampus. Bagi Hanifa Lathfi Amali, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) angkatan 2023, kesempatan belajar selama satu bulan di Slovakia menjadi pengalaman yang memperluas wawasan sekaligus memperkenalkannya pada praktik kedokteran dengan teknologi yang lebih maju.
Lathfi mengikuti program pertukaran profesional melalui SCOPE IFMSA dan menjalani kegiatan di Kramáre Hospital, Bratislava, Slovakia. Selama berada di rumah sakit tersebut, ia tidak hanya mendapatkan pengalaman mengenai sistem pelayanan kesehatan di negara lain, tetapi juga berkesempatan mengamati secara langsung prosedur bedah saraf yang sebelumnya lebih banyak dipelajari melalui buku dan materi perkuliahan.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah kesempatan menyaksikan prosedur bedah otak dengan dukungan teknologi medis modern. Dalam kegiatan tersebut, Lathfi mengamati penggunaan mikroskop bedah dengan fitur fluoresensi serta teknologi ultrasonografi berbasis kecerdasan buatan atau AI yang digunakan untuk membantu memetakan lokasi tumor.
Pengalaman tersebut memberikan perspektif baru bagi Lathfi mengenai bagaimana perkembangan teknologi dapat mendukung dunia kedokteran. Bagi mahasiswa kedokteran, melihat penerapan teknologi secara langsung memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan hanya mempelajarinya secara teori.
Belajar Langsung Bersama Tim Bedah Saraf
Selama mengikuti program, kegiatan Lathfi dimulai dengan morning round bersama dokter spesialis bedah saraf. Dalam kegiatan tersebut, tim membahas kondisi pasien, mengevaluasi tindakan sebelumnya, serta mendiskusikan rencana penanganan pasien berikutnya.
Sebelum tindakan dilakukan, tim juga membahas teknik pembedahan yang akan digunakan. Dari kegiatan tersebut, Lathfi dapat melihat bagaimana proses pengambilan keputusan medis dilakukan secara kolaboratif oleh tenaga kesehatan.
Ia juga mengikuti prosedur persiapan sebelum masuk ruang operasi. Salah satunya adalah proses sterilisasi yang menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan pasien dan tenaga medis.
Bagi Lathfi, melihat anatomi tubuh manusia secara langsung memberikan pemahaman yang berbeda dibandingkan ketika mempelajarinya melalui gambar, buku, maupun materi pembelajaran. Pengalaman tersebut menjadi salah satu nilai penting dari program pertukaran yang diikutinya.
Salah satu prosedur yang paling membekas bagi Lathfi adalah operasi pengangkatan tumor kelenjar pituitari melalui pendekatan transsfenoidal. Prosedur tersebut dilakukan melalui area hidung menuju tulang sphenoid sehingga dokter tidak perlu melakukan pembukaan kepala seperti yang mungkin dibayangkan orang awam.
Ia juga mengamati teknik penjahitan selaput otak dengan memanfaatkan lapisan tulang tengkorak. Berbagai pengalaman tersebut memperlihatkan kepadanya bahwa ilmu yang dipelajari di bangku kuliah memiliki penerapan nyata dalam praktik kedokteran.
Kesempatan Belajar di Lingkungan Internasional
Kesempatan Lathfi mengikuti program di Slovakia tidak diperoleh begitu saja. Ia harus melewati proses seleksi yang mencakup tes kemampuan bahasa Inggris dan wawancara.
Persiapan keberangkatan juga membutuhkan berbagai hal, termasuk asuransi dan informasi kontak darurat internasional. Dukungan kampus dan organisasi mahasiswa menjadi bagian dari persiapan yang membantu mahasiswa menjalani program pertukaran tersebut.
Program seperti ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melihat langsung bagaimana sistem pendidikan dan pelayanan kesehatan berjalan di negara lain. Pengalaman tersebut juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk membangun relasi dengan sesama calon tenaga kesehatan dari berbagai negara.
Bagi Lathfi, pengalaman internasional menjadi semakin penting karena masa pendidikan preklinik yang terbatas membuat mahasiswa perlu memanfaatkan berbagai kesempatan untuk mendapatkan pengalaman tambahan di luar lingkungan kampus.
Program pertukaran juga menjadi ruang untuk mengenal perbedaan budaya dalam dunia kedokteran. Setiap negara memiliki sistem kesehatan, kebiasaan, dan lingkungan kerja yang berbeda. Berinteraksi langsung dengan masyarakat dan tenaga medis di negara lain membuat mahasiswa memiliki sudut pandang yang lebih luas.
Menghadapi Tantangan Bahasa
Belajar di negara lain tentu tidak selalu berjalan tanpa hambatan. Salah satu tantangan yang dirasakan Lathfi adalah perbedaan bahasa.
Para dokter spesialis di rumah sakit umumnya dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Namun, kondisi tersebut tidak selalu berlaku bagi seluruh tenaga kesehatan, terutama ketika berinteraksi dengan beberapa perawat senior.
Dalam situasi tertentu, Lathfi dan peserta lain harus menggunakan gerakan tangan atau bahasa isyarat sederhana agar komunikasi tetap berjalan.
Salah satu pengalaman yang cukup menghibur terjadi ketika Lathfi berusaha meminta baju scrub sekali pakai dengan lengan panjang karena mengenakan hijab. Namun, ia justru mendapatkan kapas steril.
Kesalahpahaman tersebut akhirnya menjadi pengalaman tersendiri selama berada di rumah sakit. Dari kejadian sederhana itu, Lathfi belajar bahwa kemampuan beradaptasi dan mencari cara berkomunikasi sangat penting ketika berada di lingkungan internasional.
Bertemu Mahasiswa Kedokteran dari Berbagai Negara
Program SCOPE IFMSA tidak hanya memberikan pengalaman klinis. Lathfi juga berkesempatan bertemu mahasiswa kedokteran dari berbagai negara.
Sekitar 25 mahasiswa kedokteran dari berbagai belahan dunia mengikuti program tersebut. Mereka berasal dari sejumlah negara, termasuk Spanyol, Brasil, Meksiko, Tunisia, Kanada, dan Mesir.
Interaksi dengan mahasiswa dari berbagai negara membuat pengalaman Lathfi semakin beragam. Mereka tidak hanya bertemu di lingkungan rumah sakit, tetapi juga mengikuti berbagai kegiatan yang dirancang untuk mempererat hubungan antar peserta.
Kegiatan tersebut antara lain acara penyambutan, kunjungan ke sejumlah tempat di Bratislava dan Trnava, kegiatan rekreasi, serta memasak makanan khas dari negara masing-masing.
Kegiatan lintas budaya tersebut menjadi pelengkap pengalaman akademik. Di luar ruang rumah sakit, para peserta dapat saling mengenal budaya dan kebiasaan masing-masing.
Bagi mahasiswa kedokteran, pengalaman seperti ini dapat menjadi bekal penting dalam membangun kemampuan komunikasi dan jejaring internasional. Dunia kedokteran tidak hanya membutuhkan kemampuan memahami ilmu medis, tetapi juga kemampuan bekerja sama dengan orang lain dari berbagai latar belakang.
Membawa Pengalaman Pulang ke Indonesia
Satu bulan di Slovakia menjadi pengalaman yang dapat dibawa Lathfi dalam perjalanan pendidikan berikutnya. Ia mendapatkan kesempatan untuk melihat praktik kedokteran dari perspektif yang berbeda, mengenal teknologi medis, serta belajar mengenai sistem kerja tenaga kesehatan di negara lain.
Pengalaman tersebut juga menunjukkan bahwa pembelajaran kedokteran dapat diperluas melalui berbagai kesempatan internasional. Mahasiswa tidak hanya dapat mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga meningkatkan kemampuan komunikasi, adaptasi, dan kerja sama.
Lathfi mendorong mahasiswa lain yang ingin mengikuti program serupa untuk mempersiapkan kemampuan bahasa Inggris, mencari informasi mengenai negara tujuan, serta aktif dalam organisasi. Menurutnya, berbagai pengalaman tersebut dapat membantu mahasiswa lebih siap ketika mendapatkan kesempatan mengikuti program internasional.
Kisah Lathfi menjadi contoh bagaimana keberanian mengambil kesempatan dapat membuka pengalaman belajar yang berbeda. Dari ruang kuliah di UNAIR, ia kemudian mendapatkan kesempatan untuk melihat langsung praktik kedokteran di rumah sakit Slovakia.
Selama satu bulan, ia tidak hanya belajar mengenai prosedur medis, tetapi juga belajar beradaptasi dengan lingkungan baru, berkomunikasi lintas bahasa, dan berinteraksi dengan mahasiswa kedokteran dari berbagai negara.
Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga bagi perjalanan akademiknya. Teknologi yang ditemui, praktik klinis yang diamati, serta jejaring internasional yang dibangun dapat menjadi bagian dari perspektif yang akan dibawanya ketika kelak terjun ke dunia kedokteran.
Perjalanan Lathfi juga menunjukkan bahwa pendidikan tinggi bukan hanya tentang apa yang dipelajari di dalam kampus. Ketika mahasiswa berani keluar dari lingkungan yang familiar dan mengambil kesempatan belajar di tempat baru, mereka dapat menemukan pengalaman yang memperkaya pengetahuan sekaligus membentuk cara pandang.
Sebulan di Slovakia akhirnya bukan hanya menjadi perjalanan akademik bagi Lathfi. Pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana ilmu kedokteran, teknologi, budaya, dan kerja sama internasional dapat bertemu dalam satu perjalanan pembelajaran.
Dari pengalaman menyaksikan prosedur bedah saraf hingga berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai negara, Lathfi mendapatkan pelajaran bahwa menjadi calon dokter membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan akademik. Diperlukan pula rasa ingin tahu, kemampuan beradaptasi, komunikasi, dan kemauan untuk terus belajar dari berbagai lingkungan.
Pengalaman internasional tersebut menjadi salah satu langkah bagi Lathfi untuk memperluas wawasan dan mempersiapkan diri menghadapi dunia kedokteran yang terus berkembang.
_
Liputan Khusus Lainnya:
Dari Keluarga Petani Banyumas, Mohamad Toriq Anwar Jadi Lulusan Terbaik IPDN dan Dilantik Presiden
Sempat Gagal Akpol hingga IPDN, Charina Anggie Kini Jadi Sapta Abdi Praja dan Wujudkan Mimpi Sang Ayah
Sempat Gagal Berkali-kali, Dua Pemuda Banyuwangi Justru Jadi Lulusan Terbaik AAL