Bawa Petuah Maluku ke Inggris, Alumnus IPDN Jadi Orator Wisuda University of York

Schoolmedia News - Nama Muhammad Afandi Angkotasan menjadi perhatian setelah alumnus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) itu dipercaya menjadi Student Orator dalam prosesi wisuda University of York, Inggris. Afandi baru saja menyelesaikan pendidikan S2 Administrasi Publik melalui beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Ia mengikuti prosesi wisuda pada 17 Juli 2026 waktu Inggris. Kesempatan menjadi penyampai pidato kelulusan tersebut menjadi pencapaian istimewa karena Afandi harus melewati proses seleksi dan bersaing dengan ratusan kandidat dari berbagai departemen.
Di atas panggung wisuda, Afandi tidak sekadar berbicara mengenai perjalanan akademiknya di Inggris. Ia justru membawa cerita tentang tempat asalnya, Negeri Pelauw, Maluku Tengah. Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah ketika ia memperkenalkan sebuah petuah dari Maluku dalam bahasa Hatuhaha, yaitu “alumiye umie, seiya nyie inyie”. Nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi tersebut menjadi bagian penting dalam cara Afandi memandang kehidupan. Baginya, setiap orang memiliki jalan dan rezekinya masing-masing, sehingga seseorang perlu terus berusaha untuk mencapai masa depan yang diharapkan.
Perjalanan pendidikan Afandi juga tidak terlepas dari kisah keluarga. Dalam pidatonya, ia menceritakan bahwa kedua orang tuanya tidak pernah memperoleh kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi. Namun, keduanya memiliki keyakinan bahwa pendidikan dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka. Ketika berusia 14 tahun, Afandi harus kehilangan kedua orang tuanya. Meski demikian, nilai dan harapan yang ditanamkan keluarganya terus ia bawa dalam perjalanan hidup. Hingga akhirnya, Afandi menjadi orang pertama dalam keluarganya yang berhasil meraih gelar master.
Kemampuan Afandi menyampaikan pidato dalam bahasa Inggris juga menjadi bagian dari perjalanan panjangnya. Ia mengaku mulai melatih kemampuan berbahasa Inggris sejak menjadi praja di IPDN. Selain dukungan pembelajaran di kampus, ia memiliki cara sederhana untuk membangun kepercayaan diri, yakni berlatih berbicara seorang diri ketika sedang berjalan. Kebiasaan tersebut dilakukan secara bertahap hingga kemampuan komunikasinya semakin berkembang. Upaya sederhana itu akhirnya membantunya tampil percaya diri ketika harus berbicara di hadapan para wisudawan dan civitas akademika University of York.
Pengalaman Afandi sebagai mahasiswa internasional di University of York juga memberikan kesan tersendiri. Berada jauh dari Indonesia membuatnya sempat merasa gugup mengenai bagaimana dirinya akan diterima di lingkungan baru. Namun, ia menemukan lingkungan yang menghargai keberagaman, termasuk dalam menjalankan keyakinannya. University of York memberikan ruang baginya untuk menjalankan ibadah, sesuatu yang menurut Afandi memiliki arti besar ketika seseorang berada ribuan kilometer dari rumah. Pengalaman tersebut memperkaya perjalanan pendidikannya sekaligus membuatnya semakin memahami pentingnya sikap saling menghormati.
Kini, setelah menyelesaikan studi di Inggris, Afandi akan kembali ke Indonesia dan menjalankan kewajiban pengabdian sesuai ketentuan beasiswa LPDP. Kisahnya menjadi gambaran bahwa pendidikan internasional tidak harus membuat seseorang meninggalkan akar budaya. Justru, pengalaman belajar di luar negeri dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan nilai, budaya, dan cerita dari daerah asal kepada dunia. Dari Negeri Pelauw di Maluku hingga panggung wisuda University of York, Afandi menunjukkan bahwa perjalanan pendidikan dapat menjadi jembatan yang menghubungkan identitas lokal dengan dunia internasional.
Liputan Khusus Lainnya:
Dari Jualan Jamu hingga Jadi Lulusan Terbaik IPB, Kisah Inspiratif Nabil Bintang Prayoga
Dari Ayam Goreng ke “Nobel Matematika”, Kisah Yu Deng Pecahkan Teka-teki 125 Tahun
Demi Sejarah Toba, JLM Siahaan Kembali Kuliah hingga Raih Doktor di Usia 73 Tahun