Yesita Vera Saraswati Lulus S3 di Usia 27 Tahun dengan IPK 3,99

Schoolmedia News Yogyakarta - Bagi sebagian orang, meraih gelar doktor adalah perjalanan panjang yang membutuhkan waktu bertahun-tahun. Namun, Yesita Vera Saraswati membuktikan bahwa dengan disiplin, konsistensi, dan semangat belajar, pencapaian luar biasa dapat diraih di usia muda. Perempuan asal Klaten ini berhasil menyelesaikan Program Doktor Ilmu Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) pada usia 27 tahun 10 bulan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99. Prestasi tersebut membuatnya dinobatkan sebagai wisudawan doktor termuda pada wisuda pascasarjana UGM. Di balik pencapaian itu, tersimpan perjalanan yang dipenuhi kerja keras, pengorbanan, dan keteguhan hati dalam menghadapi berbagai tantangan akademik.
Perjalanan Yesita menuju gelar doktor tidak dimulai dengan target menjadi lulusan termuda. Kesempatan mengikuti program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) justru datang di tengah masa pandemi Covid-19. Awalnya ia tidak pernah membayangkan akan melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktor dalam waktu yang relatif singkat. Namun, kesempatan tersebut ia manfaatkan sebaik mungkin. Selama menempuh studi, ia tidak hanya fokus menyelesaikan mata kuliah dan disertasi, tetapi juga aktif terlibat dalam berbagai kegiatan penelitian bersama tim di Fakultas Peternakan UGM. Pengalaman itu membentuk kemampuan akademik sekaligus kepemimpinan yang semakin matang.

Tantangan terbesar datang ketika penelitian disertasinya memasuki tahap pengumpulan data. Yesita meneliti karakteristik eksterior dan genetika ayam lokal beserta hasil persilangannya untuk menghasilkan galur unggul yang berpotensi mendukung kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia. Penelitian tersebut membutuhkan proses yang panjang, mulai dari mengawinkan ayam, memeliharanya hingga puluhan minggu, melakukan seleksi antargenerasi, hingga menganalisis data genetik yang kompleks. Di saat bersamaan, ia juga harus mengoordinasikan sekitar 70–80 mahasiswa S1 dan S2 dalam berbagai kegiatan laboratorium. Kemampuan mengatur waktu, memimpin tim, dan menjaga fokus menjadi kunci agar seluruh tanggung jawab tersebut dapat berjalan seiring tanpa mengorbankan kualitas penelitian.
Kesibukan akademik ternyata tidak membuat Yesita mengabaikan kehidupan sosialnya. Selama menjalani studi doktor, ia tetap aktif mengikuti organisasi, menghasilkan publikasi ilmiah dan hak cipta, bahkan meluangkan waktu mengikuti kegiatan seni seperti karawitan. Baginya, keberhasilan tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari kemampuan menjaga keseimbangan antara belajar, berkarya, menjalin relasi, dan mengembangkan diri. Filosofi tersebut membantunya tetap menikmati proses pendidikan meskipun harus menghadapi tekanan penelitian yang menguras energi, emosi, dan waktu.

Kini, setelah resmi menyandang gelar doktor, Yesita ingin mewujudkan cita-citanya menjadi seorang dosen dan peneliti. Keinginan itu telah tumbuh sejak duduk di bangku SMA ketika ia senang mengajar anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya. Baginya, gelar doktor bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk berbagi ilmu dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Kisah Yesita Vera Saraswati menjadi inspirasi bahwa usia bukanlah penghalang untuk mencapai prestasi tertinggi. Dengan ketekunan, integritas, dan semangat belajar yang tidak pernah padam, setiap mimpi memiliki kesempatan untuk diwujudkan.
Liputan Khusus Lainnya:
Martin Anggiat Tampubolon Buktikan Disiplin dan Konsistensi Lebih Penting daripada Kecepatan