Dari Luka Batin Menjadi Kekuatan: Perjalanan Noor Liesnani Pamella Membangun Supermarket dengan Keteguhan Hati

Schoolmedia News Yogyakarta - Tidak semua perjuangan dimulai dari modal besar. Ada yang lahir dari luka yang tak terlihat. Noor Liesnani Pamella mengawali langkahnya bukan hanya dengan keterbatasan ekonomi, tetapi juga dengan beban psikologis yang sempat membuatnya harus mengorbankan pendidikan. Setelah sang ayah meninggal dunia, ia membantu ibunya mengelola toko kelontong keluarga. Kesibukan yang datang bersamaan dengan tekanan hidup membuatnya didiagnosis mengalami gangguan psikosomatik. Di usia yang seharusnya dipenuhi mimpi sebagai pelajar, ia justru dihadapkan pada pilihan yang berat: melanjutkan sekolah atau membantu keluarga bertahan hidup.
Keputusan meninggalkan bangku sekolah bukanlah akhir dari mimpinya. Justru pengalaman mengelola toko sejak remaja menjadi bekal berharga ketika ia menikah dengan Sunardi Sahuri dan mendirikan Toko Pamella pada 14 September 1975. Bermodalkan toko kecil berukuran sekitar 5 x 5 meter, pasangan muda itu memulai usaha dengan penuh keyakinan. Hari demi hari mereka jalani bersama, melayani pelanggan, mengatur stok barang, hingga menyisihkan sedikit demi sedikit keuntungan untuk mewujudkan impian yang lebih besar.

Perjalanan bisnis Pamella tidak selalu berjalan mulus. Krisis ekonomi, perubahan harga barang, hingga persaingan usaha menjadi tantangan yang harus dihadapi. Namun, satu prinsip terus mereka pegang: bertumbuh dengan kerja keras dan kehati-hatian. Noor Liesnani memilih menghindari utang bank karena pengalaman pahit keluarganya di masa lalu. Baginya, keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari besarnya keuntungan, tetapi juga dari ketenangan hati dalam menjalankannya. Prinsip itulah yang membuat Pamella berkembang perlahan hingga menjadi salah satu jaringan supermarket lokal terbesar di Yogyakarta.
Kesuksesan tidak membuat Noor Liesnani melupakan akar perjuangannya. Ia membuka ruang bagi produk-produk UMKM lokal agar dapat dipasarkan di gerai Pamella. Bahkan, ia membantu pelaku usaha kecil memperoleh sertifikasi halal dan meningkatkan kualitas produknya. Baginya, bisnis yang baik adalah bisnis yang mampu tumbuh bersama masyarakat. Dari pengalaman pernah menjadi usaha kecil, ia memahami betul bahwa kesempatan sering kali menjadi hal paling berharga bagi mereka yang sedang merintis.
_
Penulis: Ashad Rizki
Editor: Ashad Rizki
Liputan Khusus Lainnya:
Berawal dari Inisiatif Sendiri, Tim Nimbus Buktikan Pelajar Indonesia Mampu Bersaing hingga Harvard
Diantar Ayah Naik Bajaj, Andromeda Buktikan Mimpi Besar Tak Selalu Berawal dari Fasilitas Mewah
Merajut Mimpi dengan 120 Benang Harapan: Kisah Kiko Mengubah Kriya Menjadi Karya yang Mendunia