Dari Sebuah Gang di Kauman, Lahir Cahaya Pendidikan Anak Indonesia Selama Lebih dari Satu Abad
Schoolmedia News Yogyakarta - Di sebuah gang sederhana di kawasan Kauman, Yogyakarta, tawa anak-anak telah bergema selama lebih dari seratus tahun. Di tempat itulah berdiri TK 'Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) Kauman, taman kanak-kanak tertua di Indonesia yang memulai perjalanan panjangnya pada 1919. Bangunan itu mungkin tampak sederhana, tetapi dari ruang-ruang kelasnya telah lahir ribuan kisah dan jutaan harapan. Di sanalah pendidikan anak usia dini mulai ditanamkan sebagai fondasi membangun generasi bangsa.
Perjalanan TK ABA Kauman tak bisa dilepaskan dari semangat para perempuan pelopor Aisyiyah yang percaya bahwa pendidikan harus dimulai sejak usia dini. Berawal dengan nama Frobel, sekolah ini mengadaptasi konsep pendidikan anak dari Jerman, lalu mengembangkannya sesuai nilai-nilai yang hidup di masyarakat Indonesia. Di tengah masa ketika pendidikan bagi anak-anak, terutama yang dikelola perempuan, masih sangat terbatas, para pendirinya memilih membuka jalan baru yang kelak mengubah wajah pendidikan anak usia dini di Tanah Air.

Lebih dari satu abad berlalu, semangat itu tetap hidup. Setiap pagi, anak-anak datang dengan wajah penuh rasa ingin tahu, bermain, belajar, dan mengenal nilai-nilai karakter dalam suasana yang hangat. Para guru tidak hanya mengajarkan membaca atau berhitung, tetapi juga menanamkan akhlak, kemandirian, dan kepedulian sejak dini. Di balik aktivitas yang tampak sederhana itu, tersimpan misi besar untuk membentuk manusia yang utuh sejak langkah pertamanya di dunia pendidikan.
Jejak pengabdian TK ABA Kauman pun meluas jauh melampaui dinding sekolahnya. Dari tempat inilah tumbuh jaringan lebih dari 20 ribu TK ABA yang kini tersebar di berbagai penjuru Indonesia, bahkan hingga luar negeri. Ribuan guru melanjutkan semangat yang pernah ditanamkan oleh para pendiri, menghadirkan pendidikan anak usia dini yang berakar pada nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Sebuah sekolah kecil di sudut Kauman telah menjelma menjadi gerakan pendidikan yang menyentuh jutaan keluarga.
_
Penulis: Ashad Rizki
Editor: Ashad Rizki
Liputan Khusus Lainnya:
Berawal dari Inisiatif Sendiri, Tim Nimbus Buktikan Pelajar Indonesia Mampu Bersaing hingga Harvard
Diantar Ayah Naik Bajaj, Andromeda Buktikan Mimpi Besar Tak Selalu Berawal dari Fasilitas Mewah
Merajut Mimpi dengan 120 Benang Harapan: Kisah Kiko Mengubah Kriya Menjadi Karya yang Mendunia