Schoolmedia News
SCHOOL MEDIA® News
kembali
tokoh

Butet Manurung, Membawa Cahaya Pendidikan hingga ke Pedalaman Indonesia

author Andeliyumna
Jul 21, 2026 |
6 Dilihat

Bagi sebagian besar anak Indonesia, pergi ke sekolah merupakan kegiatan yang dilakukan setiap hari. Namun, bagi anak-anak yang tinggal di wilayah pedalaman dan komunitas adat terpencil, kesempatan memperoleh pendidikan tidak selalu mudah. Kondisi inilah yang menggerakkan Saur Marlina Manurung, atau yang lebih dikenal sebagai Butet Manurung, untuk mengabdikan hidupnya menghadirkan pendidikan bagi masyarakat adat di berbagai pelosok Indonesia.


Lahir di Jakarta pada 21 Februari 1972, Butet menempuh pendidikan Antropologi dan Sastra Indonesia di Universitas Padjadjaran. Ketertarikannya pada kehidupan masyarakat adat membawanya bergabung dengan LSM konservasi WARSI di Jambi pada 1999. Di sanalah ia bertemu dengan Orang Rimba, komunitas adat yang hidup berpindah-pindah di kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas. Pertemuan tersebut mengubah arah hidupnya.


Saat tinggal bersama Orang Rimba, Butet menyadari bahwa pendidikan formal yang umum diterapkan di kota tidak selalu sesuai dengan kehidupan masyarakat adat. Anak-anak di pedalaman memiliki cara hidup, budaya, dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, ia mulai mengembangkan metode belajar yang menyesuaikan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Membaca, menulis, dan berhitung diajarkan melalui aktivitas yang dekat dengan keseharian mereka, sehingga proses belajar menjadi lebih mudah diterima.


Berbekal pengalaman tersebut, pada tahun 2003 Butet bersama rekan-rekannya mendirikan Sokola Institute, organisasi nirlaba pertama di Indonesia yang berfokus pada pendidikan bagi masyarakat adat dan kelompok marjinal. Melalui program Sokola Rimba, pendidikan tidak hanya mengajarkan kemampuan dasar membaca dan menulis, tetapi juga membekali masyarakat dengan pengetahuan yang dapat membantu mereka menghadapi perubahan sosial, melindungi hak-hak mereka, serta menjaga kelestarian budaya dan lingkungan.


Seiring berjalannya waktu, kegiatan Sokola tidak lagi terbatas di Jambi. Program pendidikan berkembang ke berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Papua, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, dan daerah terpencil lainnya. Pendekatan pendidikan kontekstual yang dikembangkan Butet menjadi contoh bahwa proses belajar akan lebih efektif ketika menghargai budaya, bahasa, dan cara hidup masyarakat setempat.


Kiprah Butet mendapat pengakuan luas, baik di dalam maupun luar negeri. Ia pernah dinobatkan sebagai Hero of Asia oleh TIME Magazine pada 2004, menerima Ramon Magsaysay Award pada 2014 yang sering disebut sebagai "Nobel Asia", serta berbagai penghargaan internasional lainnya atas dedikasinya dalam memperjuangkan akses pendidikan.


Prestasi tersebut semakin diperkuat ketika Sokola Institute meraih UNESCO International Literacy Prize 2024 melalui program pendidikan literasi bagi masyarakat adat Indonesia. Penghargaan ini menjadi pengakuan dunia terhadap pendekatan pendidikan yang dikembangkan Butet bersama timnya selama lebih dari dua dekade.

Meski telah menerima banyak penghargaan, Butet tetap aktif turun ke lapangan. Baginya, pendidikan bukan sekadar mengajarkan membaca dan menulis, tetapi juga memberikan kemampuan kepada masyarakat untuk memahami hak-haknya, mengambil keputusan, dan mempertahankan identitas budaya mereka. Filosofi tersebut menjadi dasar dari pendidikan kontekstual yang terus ia kembangkan hingga saat ini.


Perjalanan Butet Manurung memberikan pelajaran bahwa pendidikan tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas dengan cara yang sama. Setiap anak memiliki latar belakang dan kebutuhan yang berbeda. Seorang pendidik dituntut untuk memahami kondisi peserta didiknya agar ilmu yang diberikan benar-benar bermanfaat bagi kehidupan mereka.


Bagi guru, siswa, maupun pemerhati pendidikan, kisah Butet Manurung menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari kepedulian terhadap kelompok yang sering terabaikan. Melalui dedikasi, keberanian, dan semangat untuk terus belajar, ia membuktikan bahwa pendidikan mampu menjangkau siapa saja, bahkan hingga ke pelosok negeri yang paling terpencil.

Najelaa Shihab, Penggerak Pendidikan yang Percaya Semua Orang Bisa Menjadi Guru
tokoh Selanjutnya
Najelaa Shihab, Penggerak Pendidikan yang Percaya Semua Orang Bisa Menjadi Guru
author Andeliyumna
Jul 21, 2026
Kisah Inspiratif Rian Hendris Saputra : Mahasiswa S2 Magister Teknik Sipil Universitas Indonesia, Rampungkan S2 Sambil Ikut Kejuaraan Asia and Oceania Sambo Championship 2026
tokoh Sebelumnya
Kisah Inspiratif Rian Hendris Saputra : Mahasiswa S2 Magister Teknik Sipil Universitas Indonesia, Rampungkan S2 Sambil Ikut Kejuaraan Asia and Oceania Sambo Championship 2026
author Andeliyumna
Jul 20, 2026

Komentar