Kabut Asap Karhutla Selimuti Palembang, Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

Schoolmedia News – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan. Kondisi tersebut berdampak pada kualitas udara yang terpantau masuk kategori tidak sehat.
Berdasarkan pemantauan BMKG Sumatera Selatan, konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 di Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang mencapai 57,2 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada Rabu (5/8/2026) pukul 18.00 WIB. Angka tersebut telah melewati ambang batas 55 µg/m³ yang digunakan dalam klasifikasi tersebut.
Penurunan kualitas udara tersebut diduga berkaitan dengan asap dari karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Sebagian kebakaran dapat dipadamkan, tetapi masih terdapat lahan yang mengeluarkan asap sehingga berpotensi memengaruhi kondisi udara di wilayah sekitarnya.
Kabut asap mulai dirasakan warga Palembang sejak Rabu sore. Sejumlah warga melaporkan mencium bau asap yang cukup menyengat dan mengalami keluhan seperti batuk serta gangguan pernapasan ringan.
Kondisi ini menjadi perhatian karena paparan partikulat halus dapat mengganggu kesehatan, terutama bagi kelompok rentan. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan gangguan saluran pernapasan perlu lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk.
Dinas Kesehatan Sumatera Selatan juga mengingatkan adanya potensi peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama puncak musim kemarau yang berlangsung pada Agustus hingga September. Palembang menjadi wilayah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi di Sumsel berdasarkan data Januari-Juni 2026.
Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk. Penggunaan masker juga dianjurkan ketika harus beraktivitas di luar rumah untuk mengurangi paparan partikel halus dari asap.
Warga juga diminta memperhatikan kondisi udara secara berkala dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami keluhan pernapasan yang tidak membaik.
Ancaman kabut asap kembali menjadi perhatian di tengah puncak musim kemarau. Upaya pencegahan dan penanganan karhutla diperlukan agar kualitas udara tidak semakin memburuk dan aktivitas masyarakat tetap dapat berjalan dengan aman.
Kondisi tersebut sekaligus menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap dampak karhutla, bukan hanya terhadap lingkungan, tetapi juga terhadap kesehatan dan kualitas hidup warga.
_
Liputan Khusus Lainnya:
Banjir Padang Hari Ketiga, Pengungsi Mulai Keluhkan Demam dan Gatal
Gempa Pangandaran Sempat Hentikan Perjalanan Kereta di Daop 2 Bandung
2 Demo Digelar Hari Ini di Jakarta, Warga Diminta Cari Jalur Alternatif