Usai Ancaman Bom di Sekolah, Sosiolog UGM Tekankan Pentingnya Budaya Dialog

Schoolmedia News - Ancaman bom yang sempat terjadi di sebuah sekolah memunculkan keprihatinan dari kalangan akademisi. Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) menilai peristiwa tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek keamanan, tetapi juga menjadi cerminan masih lemahnya budaya dialog dalam menyelesaikan persoalan di masyarakat. Menurutnya, komunikasi yang sehat dan ruang diskusi yang terbuka perlu terus diperkuat agar konflik tidak berkembang menjadi tindakan yang meresahkan.
Dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UGM, Dr. Hempri Suyatna, menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia masih menghadapi tantangan dalam membangun kebiasaan berdialog ketika muncul perbedaan pendapat atau persoalan. Akibatnya, sebagian orang memilih cara-cara yang tidak tepat untuk mengekspresikan kekecewaan maupun kemarahan. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama, terutama di lingkungan pendidikan.
Hempri menilai sekolah memiliki peran penting dalam membangun budaya komunikasi yang sehat. Peserta didik perlu dibiasakan menyampaikan pendapat, berdiskusi, serta menyelesaikan perbedaan secara damai melalui dialog. Dengan begitu, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menanamkan nilai-nilai demokrasi, empati, dan saling menghargai.
Selain itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif. Orang tua serta pendidik diharapkan mampu membangun komunikasi yang terbuka dengan anak sehingga berbagai persoalan dapat dideteksi dan diselesaikan lebih awal melalui pendekatan yang positif.
Menurut Hempri, penguatan pendidikan karakter juga menjadi langkah strategis untuk membentuk generasi yang mampu mengelola emosi, menghargai perbedaan, dan mengedepankan musyawarah dalam menghadapi konflik. Nilai-nilai tersebut dinilai penting agar peserta didik tumbuh menjadi individu yang bertanggung jawab dan mampu hidup berdampingan di tengah masyarakat yang beragam.
Melalui peristiwa ini, akademisi UGM berharap seluruh pemangku kepentingan semakin memperkuat budaya dialog di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Dengan komunikasi yang terbuka, saling menghormati, dan penyelesaian masalah secara damai, lingkungan pendidikan diharapkan menjadi tempat yang aman, nyaman, dan kondusif bagi perkembangan peserta didik.
-
Penulis: Ashad Rizki
Editor: Ashad Rizki
Liputan Khusus Lainnya:
Pemprov DKI Buka Pendataan KJP Plus 2026, Simak Syarat dan Alur Pendaftarannya
Pemprov Banten Perluas Akses Pendidikan, Siswa Putus Sekolah Kini Bisa Lanjut SMA Secara Daring
Mendikti Ajak PTN dan PTS Perbanyak Joint Degree, Lulusan Disiapkan Berdaya Saing Global