Schoolmedia News
SCHOOL MEDIA® News
kembali
lipsus

Asap Kebakaran Hutan di Kalimantan Mengancam Kesehatan Anak, Warga Meminta Pemerintah Segera Bertindak

author Andeliyumna
Oct 22, 2026 |
23 Dilihat


SchoolmediaNews
- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan masih menimbulkan kabut asap dan mengancam kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak. Warga meminta pemerintah mengambil tindakan nyata untuk menghentikan kebakaran serta memberikan sanksi kepada pihak yang terbukti melakukan pembakaran atau lalai dalam mencegahnya.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Rabu (21/10/2026) pukul 11.00 WIB, konsentrasi partikel halus PM2.5 di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, mencapai 470,8. Angka tersebut termasuk dalam kategori berbahaya. Pada waktu yang sama, konsentrasi PM2.5 di Kotawaringin Barat mencapai 349,1 dan juga berada pada tingkat berbahaya.

Sementara itu, kondisi kualitas udara di beberapa daerah lain juga tergolong tidak sehat. Konsentrasi PM2.5 di Samarinda, Kalimantan Timur, tercatat sebesar 97,8, sedangkan di Kubu Raya dan Sintang, Kalimantan Barat, masing-masing mencapai 70,2 dan 58,8.

Pengelola Rumah Aman Asap dari organisasi Justice, Peace, and Integrity of Creation (JPIC) Kalimantan, Agnes Yesiska, menyampaikan kekhawatirannya terhadap dampak paparan asap dalam jangka panjang, terutama bagi kesehatan anak-anak. Ia menceritakan bahwa anaknya sudah hampir empat bulan tidak dapat beraktivitas di luar rumah, bahkan hanya untuk duduk di teras.

Agnes mengkhawatirkan kondisi paru-paru anaknya akibat terlalu lama terpapar lingkungan dengan kualitas udara yang buruk. Selama periode tersebut, anaknya telah mengalami flu dan batuk sebanyak dua kali. Bahkan, batuk yang muncul pada malam hari pernah menyebabkan anaknya muntah.

Ia berharap pemerintah segera melakukan penanganan agar anak-anak tidak mengalami gangguan kesehatan yang berkepanjangan akibat paparan asap karhutla.

Rumah Aman Asap yang dikelola JPIC Kalimantan juga telah dimanfaatkan oleh hampir 500 orang. Sekitar 30 persen pengunjung merupakan anak-anak, sedangkan 10 persen lainnya adalah balita. Tempat tersebut menjadi pilihan warga yang membutuhkan ruangan dengan kualitas udara lebih baik dibandingkan lingkungan tempat tinggal mereka.

Menurut Agnes, sejumlah pengunjung datang dalam kondisi sesak napas. Sebagian membutuhkan tindakan nebulisasi untuk membantu mengatasi gangguan pernapasan, sementara pengunjung lainnya memerlukan bantuan oksigen.

Ia juga menyoroti kesulitan yang dialami keluarga berpenghasilan rendah yang tinggal di sekitar wilayah terdampak kebakaran. Tidak semua keluarga mampu membeli alat penyaring udara atau air purifier. Di sisi lain, mereka harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli vitamin dan obat-obatan demi menjaga kesehatan keluarga.

Pengeluaran tersebut menjadi beban tersendiri bagi masyarakat yang kondisi ekonominya terbatas. Terlebih, paparan asap juga dapat mengganggu pekerjaan dan pendapatan warga yang harus tetap beraktivitas di tengah kondisi udara yang buruk.

Agnes menegaskan bahwa persoalan karhutla perlu ditangani secara serius karena dampaknya tidak hanya dirasakan dalam waktu singkat, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat dalam jangka panjang. Ia meminta pemerintah dan pihak yang berwenang segera mengambil kebijakan yang tegas, termasuk memberikan sanksi kepada pihak yang terbukti lalai atau sengaja melakukan pembakaran hutan dan lahan.

Menurutnya, masyarakat Kalimantan sudah terlalu lama menghadapi kondisi udara yang tercemar dan membutuhkan tindakan nyata agar dapat kembali menghirup udara bersih. Perlindungan terhadap kesehatan warga, terutama anak-anak, harus menjadi perhatian utama dalam penanganan bencana kabut asap tersebut.

Sumber: NU Online
Penulis berita awal: Rikhul Jannah
Editor: Patoni
Penyunting: Melia Susilawati

Ancaman Krisis Ekologis dan Pertaruhan Ketahanan Pangan Nasional
Lipsus Sebelumnya
Ancaman Krisis Ekologis dan Pertaruhan Ketahanan Pangan Nasional
author Andeliyumna
Oct 21, 2026