Schoolmedia News
SCHOOL MEDIA® News
kembali
lipsus

Tragedi Ruang Hidup Karhutla: Ancaman Kepunahan Satwa Liar dan Bayang-Bayang Konflik dengan Manusia

author Andeliyumna
Oct 16, 2026 |
4 Dilihat

SCHOOLMEDIA – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerpa wilayah Indonesia tidak hanya meninggalkan jejak kehancuran pada tutupan vegetasi dan krisis kesehatan manusia, tetapi juga menghancurkan fondasi kehidupan satwa liar. Hancurnya ekosistem hutan gambut dan daratan secara masif memaksa ribuan satwa kehilangan tempat bernaung, sumber pakan esensial, hingga ruang jelajah alamiah untuk bertahan hidup. Guru Besar Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), Prof. Dr. drh. Raden Wisnu Nurcahyo, memaparkan bahwa dampak karhutla terhadap fauna terbilang sangat kompleks. Selain memusnahkan vegetasi pakan, kebakaran merusak vegetasi khusus yang biasa dimanfaatkan satwa untuk insting pengobatan mandiri (self-medicated animal behavior). Tak berhenti di situ, ancaman fisik mematikan datang dari sisa bara api bawah tanah (ground fire). Suhu ekstrem di permukaan gambut kerap memicu luka bakar parah pada tapak dan tubuh satwa, bahkan ditengarai banyak satwa endemik yang tewas bergelimpangan di pedalaman hutan tanpa sempat terevakuasi oleh petugas akibat keterbatasan akses medan.




Terdesak ke Permukiman: Potensi Konflik Manusia dan Satwa

Ketidakmampuan hutan bekas terbakar dalam menyediakan kebutuhan dasar memicu gelombang migrasi satwa secara masif. Dalam kondisi panik dan kelaparan, satwa liar cenderung bergerak menuju area yang dianggap aman, termasuk memasuki kawasan permukiman penduduk, lahan pertanian, dan perkebunan warga. Fenomena bergesernya ruang jelajah satwa ke ranah domestik ini meningkatkan potensi terjadinya konflik terbuka antara masyarakat lokal dan satwa terdesak. Tanpa penanganan mitigasi yang tepat, situasi ini tidak hanya membahayakan keselamatan warga, tetapi juga mengancam kelangsungan populasi satwa yang terancam punah.


Urgensi Restorasi Berbasis Ekologis

Menghadapi ancaman krisis keanekaragaman hayati ini, pemulihan kawasan pascakebakaran tidak boleh sekadar berfokus pada penanaman kembali pepohonan secara asal (reboisasi formalis). Restorasi harus berorientasi pada kebutuhan ekologis spesifik dari ekosistem asli yang selama ini menopang kehidupan fauna setempat. Penanaman ulang vegetasi yang menjadi pakan alami satwa serta pemulihan fungsi tata air gambut menjadi kunci utama agar satwa dapat kembali ke habitat asalnya. Di sisi lain, pencegahan berulangnya karhutla membutuhkan kolaborasi aktif lintas sektor, mulai dari pemerintah, pelaku usaha di sektor perkebunan dan pertambangan, hingga masyarakat sekitar hutan.

"Edukasi dan pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan, pertambangan, dan perkebunan menjadi bagian penting untuk menekan risiko kebakaran sekaligus melindungi keanekaragaman hayati," tegas Prof. Wisnu.


Sumber: Bsinews.id / Laman Resmi UGM
Penulis Asli: Tim Redaksi Bsinews.id
Penyunting: Athalla
Foto: Hanya sebagai ilustrasi (Sumber: Laman Resmi UGM)

Kapolri Suyudi Lakukan Perombakan Besar di Polri, Reformasi Budaya Jadi Tantangan
Lipsus Sebelumnya
Kapolri Suyudi Lakukan Perombakan Besar di Polri, Reformasi Budaya Jadi Tantangan
author Andeliyumna
Oct 14, 2026

Komentar