3 Jam Mengapung di Laut, Kisah Penyintas KMP Mutiara Sentosa II Selamat dari Kebakaran
Schoolmedia News Lipsus – Perjalanan KMP Mutiara Sentosa II dari Surabaya menuju Makassar berubah menjadi situasi darurat setelah kapal terbakar di perairan Sumenep, Madura, pada Minggu (2/8/2026). Di tengah proses evakuasi, sejumlah penumpang harus bertahan di laut sebelum akhirnya mendapatkan pertolongan.
Salah satu penyintas, Bambang, menceritakan bahwa dirinya baru bangun dan hendak mengambil makanan ketika mulai mencium bau seperti plastik terbakar. Tak lama kemudian, asap terlihat dan situasi di kapal berubah menjadi kepanikan.

Bertahan di Laut Menunggu Pertolongan
Dalam kondisi darurat, sejumlah penumpang berusaha meninggalkan kapal dan menyelamatkan diri. Bambang mengatakan dirinya kemudian berada di laut dan harus bertahan sekitar dua hingga tiga jam sebelum akhirnya dievakuasi.
Ia mengaku berhasil selamat tanpa mengalami luka serius. Kisah tersebut menjadi salah satu gambaran perjuangan para penyintas yang harus menunggu pertolongan di tengah proses evakuasi.
Penyintas lainnya, Karham, juga menceritakan perjuangannya bertahan bersama istri dan dua anaknya. Keluarga tersebut menggunakan pelampung dan bertahan lebih dari dua jam sebelum akhirnya dievakuasi oleh kapal yang melintas di sekitar lokasi.
Evakuasi Melibatkan Banyak Unsur
Kebakaran KMP Mutiara Sentosa II memicu operasi pencarian dan penyelamatan yang melibatkan Basarnas, TNI AL, kapal-kapal yang berada di sekitar lokasi, serta sejumlah unsur terkait.
Hingga Senin (3/8), proses evakuasi dan pendataan korban masih berlangsung. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyebut masih ada kapal yang berada dalam perjalanan untuk membantu proses penyelamatan dan memastikan seluruh korban terdata.
Data awal menyebut kapal membawa 271 orang, terdiri dari 232 penumpang dan 39 awak kapal. Laporan terbaru menyatakan ratusan orang telah berhasil diselamatkan, sementara pencarian terhadap korban yang belum ditemukan terus dilakukan.
Keselamatan Pelayaran Kembali Jadi Sorotan
Insiden ini kembali mengingatkan pentingnya kesiapan keselamatan dalam transportasi laut. Kapal penyeberangan dan pelayaran antarpulau memiliki peran vital bagi masyarakat Indonesia, sehingga sistem keselamatan harus menjadi prioritas sejak sebelum kapal berangkat hingga proses evakuasi dalam keadaan darurat.
Selain kesiapan alat keselamatan, kecepatan komunikasi, ketepatan data manifes, koordinasi antarpihak, serta kemampuan awak kapal menangani keadaan darurat menjadi faktor penting dalam melindungi penumpang.
Dalam insiden ini, proses pendataan juga menjadi perhatian pemerintah. Bahkan ditemukan sejumlah anak yang belum tercatat dalam manifes sehingga validasi data penumpang terus dilakukan.
Pelajaran dari Kisah Para Penyintas
Cerita para penumpang yang berhasil bertahan dan kemudian dievakuasi menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan dalam perjalanan laut. Insiden ini sekaligus menjadi momentum untuk mengevaluasi prosedur keselamatan, sistem pendataan penumpang, komunikasi darurat, serta koordinasi penyelamatan.
Lebih dari sekadar sebuah kecelakaan pelayaran, kebakaran KMP Mutiara Sentosa II menjadi pengingat bahwa keselamatan penumpang harus selalu menjadi prioritas utama dalam setiap perjalanan laut.
Proses pencarian, evakuasi, dan pendataan korban masih menjadi perhatian hingga Senin (3/8/2026). Penyebab kebakaran juga masih dalam penyelidikan sehingga informasi resmi dari pihak berwenang tetap menjadi rujukan utama.
_
Penulis: Ashad Rizki
Editor: Ashad Rizki
Liputan Khusus Lainnya:
Gugatan Anggaran MBG di Mahkamah Konstitusi, Menjaga Hak Pendidikan atau Menghambat Program Strategis?
Jangan Remehkan Suara Anak Muda, Dari Penonton Menjadi Penentu Masa Depan Bangsa
Menelusuri Jejak Nenek Moyang Pelaut Nusantara di Museum Bahari, Merawat Warisan Bangsa Maritim