Schoolmedia News
SCHOOL MEDIA® News
kembali
lipsus

Lokakarya Forum Anak Nasional 2026, Saat Anak Indonesia Menolak Jadi Penonton Pembangunan

author Eko Schoolmedia
Jun 17, 2026 |



Schoolmedia News Jakarta =  Anak-anak bukan sekadar masa depan yang pasif menunggu giliran. Mereka adalah pemilik masa kini yang memiliki narasi, kegelisahan, dan solusinya sendiri. Di tangan mereka, arah pembangunan bangsa ini dipertaruhkan, terutama dalam menyongsong impian besar Indonesia Emas 2045.

Kesadaran inilah yang melandasi langkah Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menggelar Lokakarya Forum Anak Nasional (FAN) 2026. Berlangsung marathon sejak 13 Juni hingga 19 Juli 2026, ajang ini menjadi ruang krusial untuk memperkuat kapasitas Forum Anak dari tingkat pusat hingga ke daerah. Lebih dari sekadar ajang kumpul-kumpul, lokakarya ini menjadi dapur penyusunan "Suara Anak Indonesia 2026", sebuah dokumen sarat aspirasi otentik anak-anak nusantara.

Pemerintah menyadari bahwa partisipasi anak tidak boleh mandek menjadi slogan atau formalitas belaka. Harus ada pelibatan yang bermakna. Anak-anak perlu ditempatkan sebagai aktor utama pembangunan lewat peran strategis: sebagai pelopor aksi-aksi positif di lingkungannya, dan sebagai pelapor jika melihat atau mengalami pelanggaran hak-hak anak di sekitar mereka.

Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kemen PPPA, Titi Eko Rahayu, saat membuka lokakarya pada Sabtu (13/6/2026), menegaskan pentingnya memberikan bekal pengetahuan, keterampilan, dan ruang yang aman bagi anak untuk bersuara. “Anak-anak harus dikuatkan untuk berani berbicara dan berperan aktif di lingkungan sekitarnya. Suara mereka perlu didengar dan dipertimbangkan dalam setiap kebijakan pembangunan,” ujarnya lugas.

Menurut Titi, melalui lokakarya ini, nilai-nilai pembentukan karakter, rasa nasionalisme, serta semangat kebhinekaan ditanamkan dengan kuat. Forum Anak dirancang untuk menjadi wadah penampung ide dan inovasi yang segar, yang nantinya akan disodorkan sebagai rekomendasi nyata bagi kebijakan pemerintah. Kolaborasi antara anak, pendamping, fasilitator, dan pemerintah menjadi kunci agar setiap suara tidak menguap begitu saja, melainkan menjelma tindakan konkret.

“Forum Anak bukan hanya tempat anak berkumpul, tetapi ruang untuk melahirkan gagasan dan solusi. Melalui kolaborasi yang kuat, kita ingin memastikan anak-anak Indonesia tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga menjadi subjek aktif yang ikut menentukan masa depan mereka,” kata Titi menambahkan.

Pandangan ini diamini oleh Astrid Gonzaga Dionisio, Child Protection Specialist dari UNICEF Indonesia. Dari kacamata global, hak anak untuk berpartisipasi adalah hak fundamental. Namun, partisipasi bukan hanya soal memberikan mikrofon agar mereka berbicara, melainkan bagaimana orang dewasa mau duduk, mendengarkan, dan mempertimbangkan pandangan tersebut dalam pengambilan keputusan yang memengaruhi hidup anak.

“Anak-anak adalah ahli dalam pengalaman hidup mereka sendiri,” kata Astrid menekankan. Suara orisinal dari keseharian anak-anak sangat berharga untuk membantu merancang kebijakan, program, dan layanan publik yang benar-benar relevan serta responsif. Ketika hak ini dipenuhi, perbaikan kualitas bangsa akan linier bagi generasi sekarang dan masa depan.

Melalui sepak mula (kick-off) lokakarya panjang ini, tebersit harapan besar. Ketika anak-anak didengar dan dilibatkan, pembangunan tidak lagi berjalan satu arah dari atas ke bawah. Ini adalah momentum emas untuk mewujudkan ekosistem pembangunan yang ramah anak, yang berpihak pada kepentingan terbaik anak, demi mematangkan langkah Indonesia menuju masa depan yang lebih inklusif dan adil.

Tim Schoolmedia

YLBHI Luncurkan Buku Panduan Sektor Energi: Soroti Hukum yang Dibajak Kepentingan Pemodal
Lipsus Sebelumnya
YLBHI Luncurkan Buku Panduan Sektor Energi: Soroti Hukum yang Dibajak Kepentingan Pemodal
author Eko Schoolmedia
Jun 16, 2026