Cari

Kemendikdasmen Tekankan Standar Teknis dan Buat Dokumentasi Presisi Tahapan Pembangunan Revitalisasi Sekolah Dari 0 % Pelaksanaan


Finalisasi Revitalisasi Satuan PAUD Angkatan ke-12, Kemendikdasmen Tekankan Standar Teknis dan Buat Dokumentasi Presisi dan Amanah

TANGERANG Schoolmedia News – Direktorat Jenderal PAUD Dikdas PNFI, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), menggelar kegiatan Finalisasi Dokumen Perencanaan dan Penandatanganan Perjanjian Kerjasama (PKS) Program Revitalisasi Satuan PAUD Angkatan ke-12 di Tangerang, Banten. Agenda ini menjadi langkah krusial untuk memastikan seluruh proses revitalisasi berjalan sesuai standar mutu, transparan, dan akuntabel.

Widyaprada Ahli Utama Direktorat PAUD, Djayeng Baskoro, dalam paparannya menekankan bahwa keberhasilan program revitalisasi sangat bergantung pada ketepatan perencanaan dan pengawasan di lapangan. 

Ia menjelaskan bahwa proses revitalisasi dimulai dari survei lapangan yang mendalam oleh Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) bersama tim teknis.

P2SP Pastikan Perencanaan Matang

Perencanaan bukan hanya soal fisik bangunan, tapi juga detail administrasi dan teknis. P2SP harus memastikan ketersediaan, kualitas, serta harga material sesuai dengan survei pasar, sekaligus memastikan kondisi di lapangan sesuai dengan dokumen perencanaan teknis yang telah disahkan. 

“Tanpa perencanaan yang matang dan pengawasan yang ketat terhadap progress fisik maupun keuangan, risiko deviasi menjadi sulit dimitigasi," tegas Djayeng di hadapan peserta.

Djayeng menambahkan, fase pelaksanaan harus dilakukan dengan mekanisme Pengadaan Barang/Jasa (PBJ) yang benar, di mana peran tim teknis sangat vital dalam evaluasi kemajuan pekerjaan, mulai dari fase awal hingga pemeriksaan akhir sebelum dilakukan Berita Acara Serah Terima (BAST) pekerjaan dan aset.

Selain aspek fisik, acara tersebut juga memberikan penekanan khusus pada pelaporan visual melalui dokumentasi yang terstandar. Dalam konteks revitalisasi modern, dokumentasi tidak lagi dipandang sebagai pelengkap administrasi semata, melainkan instrumen untuk membangun arsip digital yang rapi dan konsisten. 

Dokumentasi Bukan Pelengkap Laporan 

Kemendikdasmen kini menekankan standardisasi teknis foto dan video yang ketat bagi setiap satuan pendidikan pelaksana revitalisasi. Praktisi Fotografi, Herry Hartawan, yang hadir sebagai narasumber, menjelaskan bahwa dokumentasi bukan sekadar pelengkap laporan, melainkan arsip digital yang merekam dampak nyata transformasi lingkungan belajar.

"Dokumentasi harus konsisten mengikuti linimasa pembangunan: fase SEBELUM (0%), SELAMA (50%), dan SESUDAH (100%). Poin krusialnya adalah kesamaan sudut pandang atau angle foto pada ketiga fase tersebut," jelas Herry.

Menurut Herry, banyak kesalahan teknis terjadi karena pengambilan gambar yang tidak konsisten. Gambar buram, video goyang dan tidak fokus. Kualitas gambar tidak sesuai dan tidak menarik. 

Ia menginstruksikan agar kamera selalu dalam posisi horizontal (landscape), menggunakan resolusi minimal FHD 1080p, dan menghindari penggunaan *timestamp* atau logo yang menutupi gambar.

"Setiap bangunan wajib difoto dari minimal tiga sudut pandang: Tampak Depan (Center), Serong Kiri 45 derajat, dan Serong Kanan 45 derajat. Titik acuan ini harus sama persis dari awal hingga akhir. Disarankan menggunakan tanda bantu seperti patok kayu di lapangan agar angle tidak berubah-ubah," tambah Herry.

Tidak Ambil.Gambar Secara Vertikal 

Dalam sesi teknis, Herry juga memperingatkan agar tidak melakukan pengambilan gambar secara vertikal atau menggunakan gerakan kamera yang acak saat membuat video. 

Pergerakan kamera pada video harus stabil, baik itu bergerak maju atau mundur perlahan menuju atau menjauhi titik utama bangunan, tanpa mengubah focal length di tengah rekaman.

“Bukti utama hasil revitalisasi terletak pada konsistensi sudut pandang. Kami mewajibkan pengambilan gambar dari titik acuan yang sama persis pada setiap fase," ujarnya. 

Setiap bangunan wajib didokumentasikan dari tiga sudut pandang utama: tampak depan (center), serta sudut 45 derajat dari sisi kiri dan kanan. 

Penggunaan tanda fisik seperti patok kayu di lapangan sangat disarankan agar fotografer tidak kehilangan titik acuan saat berpindah fase pembangunan.  

​Kualitas visual menjadi prasyarat mutlak. Dokumentasi harus diambil dalam format horizontal (landscape) dengan resolusi minimal Full High Definition (FHD) 1080p untuk memastikan detail bangunan terlihat jelas. 

Gambar Bersih Dari Logo dan Geotag

Selain itu, gambar harus bersih tanpa timestamp, logo, atau geotag yang mengganggu estetika visual. Kegiatan ini diharapkan menjadi pedoman bagi seluruh satuan PAUD Angkatan ke-12 dalam mengelola bantuan revitalisasi. 

Pengambilan video juga diatur dengan pola gerakan yang terukur, seperti gerakan maju, mundur, atau menyamping secara perlahan, untuk menghindari hasil yang goyang atau membingungkan. 

Kesalahan umum seperti pergerakan kamera yang acak, fokus yang berubah-ubah, atau pengambilan gambar secara vertikal, kini menjadi perhatian serius untuk diperbaiki.  

Lakukan Penyimpanan Ganda 

​Tahap akhir dari manajemen dokumentasi adalah pengarsipan. Sekolah didorong untuk melakukan kurasi dengan menghapus file yang buram atau tidak layak, serta menerapkan sistem penyimpanan ganda, baik di hard drive fisik maupun cloud storage. 

Dengan struktur folder yang terpusat dan rapi, arsip digital ini tidak hanya berfungsi sebagai laporan pertanggungjawaban, tetapi juga sebagai memori kolektif akan transformasi lingkungan belajar yang lebih bermutu bagi anak-anak Indonesia.  

​Melalui sinergi antara perencanaan teknis yang presisi dan dokumentasi visual yang standar, program revitalisasi diharapkan mampu membawa dampak nyata bagi kualitas pembelajaran. 

Revitalisasi bukan hanya tentang mengubah fisik bangunan, melainkan merawat masa depan pendidikan dari ruang-ruang kelas yang lebih layak dan manusiawi.

Dengan dokumen perencanaan yang matang dan dokumentasi yang presisi, diharapkan hasil revitalisasi tidak hanya meningkatkan kualitas fisik sarana pendidikan, tetapi juga memberikan dampak berkelanjutan bagi transformasi lingkungan belajar yang lebih bermutu bagi anak-anak Indonesia.

Peliput : Eko B Harsono 





Lipsus Selanjutnya
Kolaborasi Nyata untuk Wujudkan Pendidikan Inklusif Bermutu dan Berkeadilan untuk Semua
Lipsus Sebelumnya
UniRank Rilis 20 PTN Terbaik Indonesia 2026, UI Masih di Puncak

Liputan Khusus Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar