Cari

Pendidikan di Indonesia Tertinggal 128 Tahun, Pemerintah Lakukan Lompatan Transformasi Pendidikan Melalui Revitaliasi dan Digitalisasi Pembelajaran



Harris Iskandar Ph.D: “Jangan Lagi Anak Indonesia Schooling Without Learning, Pendekatan Pedagogi  Pembelajaran Mendalam Diimplementasikan 21 Negara”

 

PAUDPEDIA SURABAYA – Pemerintah menegaskan komitmen kuatnya untuk mewujudkan layanan pendidikan prasekolah yang berkualitas, minimal satu tahun, dan gratis bagi seluruh anak Indonesia usia 5-6 tahun pada 2030 mendatang. Target ambisius ini tidak hanya sekadar wacana, melainkan telah memiliki landasan hukum yang kuat dan selaras dengan agenda global pembangunan berkelanjutan.

 

Hal tersebut disampaikan oleh Widyaprada Ahli Utama Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Ir. Harris Iskandar, Ph.D., dalam acara Bimbingan Teknis Digitalisasi Pembelajaran Angkatan ke-4 yang berlangsung di Surabaya, Kamis hingga Sabtu (16-18 April 2026).

 

Harris menjelaskan, dasar hukum program ini sudah sangat kokoh, merujuk pada Undang-Undang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJMN) tahun 1959 dan 2004, serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang telah ditetapkan melalui peraturan presiden. Posisi pendidikan anak usia dini menjadi sangat krusial karena menjadi fondasi yang memberikan sumbangan besar bagi jenjang pendidikan berikutnya.

 

"Undang-undangnya sudah ada, RPJMN-nya sudah terpresidenkan. Jadi kedudukannya kuat sekali. Insya Allah kita bertekad sampai tahun 2030, sesuai dengan akhir periode Sustainable Development Goals (SDGs), seluruh anak laki-laki dan perempuan Indonesia umur 5-6 tahun mendapat layanan pendidikan prasekolah minimal satu tahun yang berkualitas dan gratis," ujar Harris dalam pemaparannya di hadapan ratusan pendidik.

 

Target ini, lanjutnya, sejalan dengan prinsip SDGs yang menekankan pendidikan yang free and compulsory atau bebas biaya dan wajib. Meskipun tantangan untuk mewujudkan aspek "gratis" ini cukup berat, pemerintah berupaya keras mewujudkannya demi pemerataan akses pendidikan.

 

Bukan Kurikulum Baru, tapi Perubahan Paradigma

 

Salah satu poin utama yang disorot dalam kegiatan ini adalah penguatan konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Harris menegaskan, konsep ini bukanlah kurikulum baru yang menggantikan kurikulum nasional yang berlaku, melainkan sebuah pendekatan pedagogis yang bersifat transformatif.

 

"Pembelajaran mendalam itu bukan kurikulum, tapi pendekatan pedagogi. Kurikulum tetap kurikulum nasional, boleh dipakai ke mana saja. Tapi pendekatannya yang kita ubah menjadi lebih transformatif," tegasnya.

 

Menurut pengamatan dan kajian yang dilakukan, pendekatan ini telah terbukti sangat menjanjikan dan telah diterapkan di 21 negara di dunia. Inti dari metode ini adalah menjadikan proses belajar lebih bermakna (meaningful) dan menyenangkan (joyful) dan berkesaran (mindful). “Tiga prinsip utama yang mendukung Pembelajaran Mendalam adalah berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Ketiga prinsip ini saling melengkapi dalam membangun pembelajaran mendalam bagi peserta didik,” ujarnya.

 

Dalam paradigma baru ini, hubungan antara guru dan murid berubah. Jika sebelumnya bersifat hierarkis, kini keduanya diposisikan sejajar sebagai mitra (partners). Guru dan murid bersama-sama menentukan tujuan serta strategi pembelajaran.

 

"Jadi posisinya sejajar, sehingga pembelajaran menjadi lebih mengembirakan dan lebih menggerakkan. Anak tidak merasa digurui, tapi diajak berpikir dan beraktivitas bersama," tambahnya.

 

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) telah menargetkan sosialisasi dan pelatihan pendekatan ini ke seluruh satuan pendidikan. Targetnya, minimal satu hingga dua orang pendidik per satuan pendidikan akan mendapatkan pembekalan pada tahun ini. 


Diharapkan, dalam empat tahun ke depan, hasil positif dari penerapan metode ini sudah bisa terlihat secara nyata. “Kita berharap tidak ada lagi pernyataan bahwa pendidikan di Indonesia hanya Schooling Without Learning. Dan pendidikan kita dapat mengejar ketertinggalan seperti hasil kajian sejumlah lembaga yang menyebut kita tertinggal 128 tahun dari negara OECD,” ujarnya. 

 

Empat Pilar Implementasi

 

Keberhasilan transformasi pendidikan menuju pembelajaran mendalam ditopang oleh empat aspek utama yang menjadi pilar implementasinya.


Pertama, adalah transformasi praktik pedagogi di dalam kelas. Ini menyangkut perubahan cara mengajar yang lebih inovatif dan tidak monoton.

 

Kedua, berkembangnya kemitraan yang kuat dengan orang tua serta kolaborasi dengan masyarakat. Pendidikan tidak hanya tanggung jawab sekolah, melainkan juga ekosistem di sekitarnya.

 

Ketiga, terciptanya lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk perundungan atau intimidasi. Anak harus merasa nyaman untuk belajar.

 

Keempat dan yang menjadi fokus utama kegiatan ini, adalah pemanfaatan teknologi digital.

 

"Yang keempat dan sangat penting adalah pemanfaatan teknologi digital. Ini adalah salah satu pilar utamanya. Teknologi ini bisa dimanfaatkan tidak hanya untuk pembelajaran, tapi juga untuk administrasi kependudukan," jelas Harris.

 

Ia mengibaratkan teknologi seperti sebuah smartphone. Seringkali, pengguna hanya memanfaatkan kurang dari 15% fitur yang tersedia, padahal potensinya sangat besar, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Oleh karena itu, pelatihan ini menjadi sangat krusial agar guru tidak tertinggal zaman.

 

"Guru yang memanfaatkan teknologi digital dengan yang tidak, akan sangat berbeda. Yang tidak ikut transformasi digital akan terkebelakang, ketinggalan zaman. Teknologi akan membawa kita ke arah yang jauh lebih maju," tegasnya.

 

Teknologi Permudah Administrasi dan Asesmen

 

Dalam pemaparannya, Harris secara spesifik menjelaskan bagaimana digitalisasi menjadi solusi atas keluhan para pendidik. Salah satu beban kerja yang sering dianggap berat adalah penyusunan administrasi, seperti Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK).

 

"Dulu membuat RPK itu sering menjadi momok para kawula. Tapi dengan sistem digital ini, urusannya bisa hanya 5 menit, 10 menit, mungkin bisa selesai. Pekerjaan menjadi jauh lebih ringan," paparnya.

 

Selain administrasi, teknologi juga sangat membantu dalam pelaksanaan asesmen otentik dan penyusunan rubrik penilaian. Melalui aplikasi yang dikembangkan, seperti yang nantinya didemonstrasikan dalam kegiatan, guru dapat dengan mudah memantau instrumen perkembangan pencapaian anak.

 

"Ini akan memudahkan Bunda dalam mengikuti perkembangan aspek anak di setiap alat permainan atau kegiatan. Data yang tercatat sangat lengkap dan kompleks," ujarnya.

 

Data yang terkumpul ini kemudian menjadi sangat berharga untuk bahan refleksi berkala. Setiap minggu, guru bisa duduk bersama menganalisis data tersebut.

 

"Kita bisa lihat datanya, ternyata metode A ini lebih efektif daripada metode B. Nah itulah, sehingga kita bisa menyebarkan praktik baik, dan memperbaiki strategi pembelajaran yang kurang efektif. Sehingga ke depannya, yang kita lakukan hanya hal-hal yang baik-baik saja," tambahnya.

 

Teknologi juga membuka akses tak terbatas terhadap konten pembelajaran dari seluruh dunia melalui internet, serta memanfaatkan berbagai media yang telah dikembangkan dalam portal Rumah Belajar.

 

Sasaran dan Harapan Kegiatan

 

Bimbingan Teknis Digitalisasi Pembelajaran Angkatan ke-4 Tahun 2026 ini memiliki target peserta yang spesifik. Sasarannya adalah perwakilan dari Satuan PAUD penerima bantuan digitalisasi tahun 2025 dan 2026.

 

Secara keseluruhan, kegiatan ini diikuti oleh 159 Satuan PAUD yang tersebar di 78 Kabupaten/Kota dari 5 provinsi, meliputi: Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.

 

Penguatan digitalisasi pembelajaran ini dinilai sangat penting untuk memastikan bahwa proses pembelajaran yang dilakukan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik usia dini. Melalui pelatihan dan pendampingan yang intensif ini, diharapkan pendidik PAUD dapat bertransformasi menjadi agen perubahan.

 

Mereka dituntut mampu mengimplementasikan teknologi pembelajaran secara efektif dan inovatif. Hal ini dilakukan agar memberikan dampak positif yang nyata terhadap perkembangan anak serta mendukung tercapainya tujuan pendidikan nasional.

 

"Dengan demikian, kita mempersiapkan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan mendukung terciptanya pendidikan yang inklusif dan berkualitas sejak usia dini," pungkas Harris mengakhiri sambutannya dengan semangat.

 

 Peliput : Eko B Harsono 


Lipsus Sebelumnya
Membedah Gunung Es: Upaya UI dan Kemen PPPA Meruntuhkan Budaya Diam di Kampus

Liputan Khusus Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar