Cari

Menakar Efektivitas Pembelajaran Mendalam, Kunjungan Wamen Jadi Ajang Evaluasi


Schoolmedia News Bandung = Suasana kelas di SMPN 5 Bandung pada Senin pagi, 23 Februari, berbeda dari biasanya. Di ruang Pendidikan Pancasila, sekelompok murid mempresentasikan proyek e-book bertajuk “Sumatra: Hidden Wonders of Indonesia”.

Di hadapan guru dan tamu kementerian, Raden Alvira mewakili kelompoknya menjelaskan sejarah dan sastra Sumatra, ragam alat musik tradisional, busana adat, rempah-rempah, hingga kekayaan fauna dan kuliner.

Presentasi itu menjadi bagian dari agenda kunjungan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, yang meninjau langsung implementasi Pembelajaran Mendalam (PM) di sejumlah sekolah di Kota Bandung. Turut mendampingi, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Asep Saeful Gufron dan Kepala Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Barat Sugito Adiwarsito.

Atip tampak beberapa kali menyimak dengan saksama paparan murid. Sesekali ia mencatat, lalu mengajukan pertanyaan lanjutan. Baginya, proyek berbasis kolaborasi semacam itu menunjukkan arah baru pembelajaran yang tidak berhenti pada hafalan.

“Pembelajaran mendalam memberikan informasi sekaligus inspirasi. Murid dapat mengetahui secara lebih mendalam dan memaknai apa yang disampaikan, sehingga mampu mengontekstualisasikan mata pelajaran,” ujarnya.

Pendekatan serupa juga terlihat di kelas Bahasa Indonesia. Guru memanfaatkan Papan Interaktif Digital dan aplikasi Kahoot untuk kuis benar atau salah. Murid mengakses soal melalui gawai masing-masing.

Setelah pemutaran video tentang teks prosedur, diskusi berlanjut pada kalimat larangan, kalimat anjuran, dan unsur kebahasaan. Kelas menjadi riuh namun terarah; murid terlibat aktif, bukan sekadar mencatat.

Dalam dialog dengan murid, Atip menekankan pentingnya pertanyaan pemantik. Ia membuka percakapan dengan menyinggung Pulau Sumatra. Jawaban spontan bermunculan: banjir, makanan, Padang. Pertanyaan itu lalu dikembangkan menjadi pembahasan tentang letak geografis, pulau-pulau terluar, hingga konteks sosial budaya. “Pertanyaan awal menentukan kedalaman pembahasan,” kata Atip.

Kunjungan berlanjut ke SDN 001 Merdeka Bandung. Kepala sekolah Sri Winggowati menyebut kehadiran wakil menteri sebagai bentuk perhatian langsung pemerintah terhadap praktik di lapangan. “Beliau ingin melihat bagaimana metode ini diterapkan, apa tantangannya, dan bagaimana dampaknya terhadap siswa,” ujar Sri.

Dalam diskusi internal, Atip menekankan penguasaan konsep sebagai fondasi. Guru didorong memulai pelajaran dengan pertanyaan yang menggugah rasa ingin tahu. Pembelajaran, menurut dia, harus berkesadaran dan bermakna, bukan sekadar menyelesaikan target kurikulum. Sri mengaku mendapat penguatan bahwa mengajar bukan hanya transfer ilmu, melainkan melibatkan olah rasa, pikir, raga, dan karsa.

Kepala SMPN 5 Bandung, Asep Hidayat, memaknai kunjungan itu sebagai momentum refleksi. “Ini ajang evaluasi bersama dan ruang dialog untuk perbaikan berkelanjutan,” katanya. Ia menilai kehadiran pimpinan kementerian menumbuhkan rasa dihargai bagi guru dan tenaga kependidikan. Sekolah, kata dia, kian percaya diri bahwa inovasi yang dirintis berada di jalur yang tepat.

Namun, di balik optimisme itu, terdapat sejumlah catatan kritis. Pertama, penggunaan teknologi seperti Kahoot dan papan interaktif memang meningkatkan partisipasi, tetapi belum tentu otomatis memperdalam pemahaman konseptual. Tanpa desain pertanyaan yang menantang analisis dan refleksi, kuis digital bisa terjebak pada pola benar-salah yang dangkal.

Kedua, proyek e-book kolaboratif menjanjikan penguatan literasi dan kerja tim. Namun efektivitasnya bergantung pada asesmen yang jelas. Apakah setiap murid benar-benar memahami materi, atau hanya bergantung pada satu-dua anggota yang dominan? Pembelajaran mendalam mensyaratkan evaluasi individual yang seimbang dengan kerja kelompok.

Ketiga, kesiapan guru menjadi faktor penentu. Atip sendiri mengingatkan bahwa pelatihan tidak cukup jika tidak diimplementasikan secara konsisten. “Pelatihan saja tidak cukup jika belum diimplementasikan secara optimal. Kita ingin memastikan guru tidak hanya memahami konsepnya, tetapi juga mampu menerapkannya dalam proses pembelajaran sehari-hari,” ujarnya menutup kunjungan.

Tantangan lain adalah disparitas antar sekolah. SMPN 5 dan SDN 001 Merdeka termasuk sekolah yang relatif siap secara fasilitas dan dukungan manajerial. Pertanyaannya, apakah pendekatan serupa dapat diterapkan secara merata di sekolah dengan keterbatasan infrastruktur dan akses teknologi?

Komitmen Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memastikan Pembelajaran Mendalam berjalan efektif patut diapresiasi. Namun implementasi kebijakan pendidikan kerap tersendat pada level operasional. Diperlukan supervisi berkelanjutan, pendampingan pedagogik, serta indikator keberhasilan yang terukur—tidak hanya pada antusiasme kelas, tetapi juga pada peningkatan capaian belajar dan kemampuan berpikir kritis murid.

Kunjungan Atip di Bandung menjadi cermin upaya pemerintah mendorong transformasi pembelajaran. Ia menunjukkan wajah kelas yang lebih interaktif dan kontekstual. Meski demikian, pekerjaan rumah belum selesai.

Pembelajaran mendalam bukan sekadar metode atau perangkat digital, melainkan perubahan paradigma yang menuntut konsistensi, evaluasi, dan keberanian memperbaiki praktik di ruang-ruang kelas seluruh Indonesia.

Tim Schoolmedia

Lipsus Selanjutnya
Jepang Tertarik Inovasi Taman Numerasi di Indonesia
Lipsus Sebelumnya
Digitalisasi PAUD Jangkau 64.190 Sekolah di Indonesia, Distribusi Bantuan PID 100% Tersalurkan

Liputan Khusus Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar