Cari

Digitalisasi PAUD Jangkau 64.190 Sekolah di Indonesia, Distribusi Bantuan PID 100% Tersalurkan


Hingga Februari 2026 Digitalisasi PAUD Jangkau 64.190 Sekolah di Indonesia, Distribusi Bantuan PID 100% Tersalurkan

JAKARTA, Schoolmedia News  — Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memastikan dukungan terhadap digitalisasi pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) terus diperkuat, termasuk di wilayah terluar dan terdampak bencana. Hingga Februari 2026, realisasi pengiriman perangkat Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital (PID) mencapai 100 persen dari total alokasi nasional.

Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Paud Dasmen), Gogot Suharwoto Ph.D, menyatakan bahwa kehadiran teknologi digital di ruang kelas PAUD bukan sekadar pemutakhiran sarana, melainkan upaya memangkas jarak geografis dalam kualitas pendidikan. Komitmen bersama antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci agar teknologi ini benar-benar memberikan dampak bagi peserta didik.

”Dengan komitmen bersama antara satuan pendidikan, dinas pendidikan, dan Kemendikdasmen, IFP di ruang kelas PAUD tidak hanya menginspirasi anak-anak dengan gambar di layar, tetapi juga menggugah harapan besar bahwa jarak geografis tidak lagi menjadi penghalang bagi lahirnya generasi Indonesia yang cerdas, percaya diri, dan setara,” ujar Gogot di Jakarta, Minggu (22/2/2026). 

Capaian Distribusi

Berdasarkan Laporan Direktorat Jenderal PAUD Dasmen, realisasi pengiriman unit IFP untuk jenjang PAUD secara nasional telah mencapai 64.190 unit. Jumlah ini memenuhi 100 persen dari alokasi yang ditetapkan untuk menjangkau sasaran akhir sebanyak 63.842 satuan pendidikan.

Laporan tersebut juga mencatat perhatian khusus bagi wilayah rentan. Sebanyak 349 sasaran PAUD di wilayah bencana telah menerima bantuan perangkat IFP sebagai bagian dari pemulihan layanan pendidikan. Pemerintah berencana untuk terus memenuhi kebutuhan sasaran di wilayah bencana tersebut secara berkelanjutan pada tahun 2026.

Gogot menekankan bahwa ke depan, fokus pemerintah tidak hanya pada distribusi perangkat, tetapi juga pada ekosistem pendukungnya. "Penguatan akses listrik, konektivitas, serta pendampingan guru akan terus diperluas agar manfaat IFP semakin berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak satuan PAUD," tambahnya.

Transformasi pembelajaran anak usia dini melalui pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital (PID) semakin nyata di wilayah timur Indonesia. Praktik baik yang tumbuh di Kabupaten Keerom, Papua, hingga Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, memperlihatkan bagaimana teknologi pembelajaran mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih interaktif, kontekstual, dan menyenangkan bagi murid PAUD/TK.

Praktik Baik dari Timur

Transformasi pembelajaran ini mulai menampakkan hasil nyata, terutama di wilayah timur Indonesia. Di Kabupaten Keerom, Papua, dan Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, perangkat IFP atau Papan Interaktif Digital (PID) telah mengubah dinamika kelas menjadi lebih interaktif dan kontekstual.

Di TK Pembangunan Yapis, Kabupaten Keerom, kehadiran layar sentuh berukuran besar memungkinkan anak-anak mengenal objek pembelajaran melalui sentuhan langsung. Kepala Sekolah TK Pembangunan Yapis, Winarsih, mengungkapkan bahwa teknologi ini memberikan lompatan besar bagi sekolah di wilayah perbatasan. Pembelajaran tidak lagi bersifat satu arah, melainkan memberi ruang bagi murid untuk aktif bereksperimen.

“Kehadiran IFP adalah lompatan besar bagi kami di wilayah perbatasan. Anak-anak kini tidak hanya mendengar cerita, mereka bisa menyentuh, menggeser, dan bereksperimen dengan objek di layar. Ini menumbuhkan rasa ingin tahu yang luar biasa. Mereka yang tadinya pendiam, sekarang berebut ingin maju ke depan kelas untuk mencoba," ujar Winarsih dengan nada bangga.

​Di Keerom, IFP digunakan untuk mengenalkan konsep-konsep dasar seperti bentuk, warna, dan huruf melalui permainan interaktif. Guru tidak lagi hanya menjadi sumber informasi tunggal, melainkan fasilitator yang mengarahkan eksplorasi digital siswa. 

Anak-anak diajak menggambar dan mewarnai secara mandiri di layar besar, yang kemudian hasilnya bisa langsung diapresiasi oleh teman sekelasnya. Hal ini secara tidak langsung membangun kepercayaan diri anak sejak usia dini.

Hal serupa terjadi di TK Negeri Pembina, Kabupaten Teluk Bintuni. Bagi siswa di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal), IFP menjadi simbol kesetaraan akses. Saat materi lokal seperti gambar burung cenderawasih ditampilkan dengan visual yang tajam, antusiasme dan rasa ingin tahu siswa meningkat drastis.

Literasi Digital Dini

Pemanfaatan IFP terbukti mampu menumbuhkan keberanian bertanya dan kemampuan berinteraksi murid. Lebih dari itu, perangkat ini menjadi sarana penanaman literasi digital sejak dini secara positif dan terarah. Di bawah pendampingan guru, perangkat digital berfungsi murni sebagai media belajar, bukan sekadar hiburan.

Di tengah keterbatasan infrastruktur, praktik baik di Papua ini menunjukkan bahwa transformasi digital sangat bergantung pada adaptasi guru. Keberanian para pendidik untuk keluar dari zona nyaman papan tulis konvensional menuju media digital menjadi penentu masa depan anak-anak di pelosok negeri.

Pemerintah berharap, melalui integrasi teknologi yang tepat guna, standar kualitas pembelajaran di wilayah pedalaman dapat mengejar ketertinggalan dari sekolah-sekolah di kota besar, demi mewujudkan generasi emas yang melek teknologi namun tetap berkarakter.

Pemanfaatan IFP di ruang kelas PAUD tidak hanya menginspirasi anak-anak melalui visual yang menarik di layar. Lebih dalam dari itu, teknologi ini sedang menyemai benih harapan bagi generasi masa depan Indonesia. Guru-guru di Keerom dan Teluk Bintuni telah 

membuktikan bahwa dengan kemauan untuk belajar, keterbatasan infrastruktur bisa disiasati dengan kreativitas.

​Interaksi digital yang sehat di sekolah membantu anak-anak memahami bahwa gawai atau panel interaktif adalah alat untuk menciptakan sesuatu, bukan sekadar untuk konsumsi pasif. Di tangan guru yang tepat, teknologi ini menjadi jembatan yang menghubungkan mimpi anak-anak di pelosok Papua dengan realitas kemajuan zaman.

Komitmen bersama antara satuan pendidikan, dinas pendidikan daerah, dan pemerintah pusat menjadi kunci. Dengan sinergi ini, layar-layar interaktif di ruang kelas PAUD tidak hanya menampilkan gambar, tetapi juga memancarkan optimisme bahwa anak-anak Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, memiliki garis start yang sama untuk berlari menuju masa depan.

​"Jarak geografis tidak lagi menjadi penghalang bagi lahirnya generasi yang cerdas, percaya diri, dan setara," tutup Gogot. Di ujung timur sana, cahaya dari layar IFP masih menyala, seiring dengan binar mata anak-anak Papua yang kini berani bermimpi lebih tinggi.

Penyunting: Eko B Harsono 

Sumber : Siaran Pers BHKM Kemendikdasmen dan PAUDPEDIA 


Lipsus Selanjutnya
Menakar Efektivitas Pembelajaran Mendalam, Kunjungan Wamen Jadi Ajang Evaluasi
Lipsus Sebelumnya
Kembalinya Hotel Sultan ke Pangkuan Negara

Liputan Khusus Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar