
Menanti 13 Tahun TK Negeri Permata Baru Teluk Bintuni Papua Barat Kini Bersolek Lewat Revitalisasi
TELUK BINTUNI, Schoolmedia â Di sebuah sudut Kampung Darma Baru, Distrik Meyado, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, suara tawa anak-anak biasanya beradu dengan gema ruang yang sempit. Bertahun-tahun, proses belajar mengajar di TK Permata Baru hanyalah soal siasat atas keterbatasan. Di atas tanah berukuran 7 kali 9 meter, sebuah ruangan dipaksa membelah diri. Triplek-triplek kusam menjadi pembatas antara ruang kantor kepala sekolah dan ruang kelas bagi puluhan tunas bangsa.
Bagi Supriyanti, S.Pd., pemandangan itu adalah "menu" harian yang menyesakkan sekaligus memacu adrenalin pengabdiannya. Sejak tahun 2018, ia telah melakoni ritual yang nyaris tanpa putus: menyusun proposal, menjilidnya dengan rapi, lalu membawanya ke kantor Dinas Pendidikan di pusat kabupaten. Harapannya sederhana, sekolahnya butuh ruang yang layak. Sekolah yang dirintisnya sejak tahun 2010 dengan bangunan sederhana kini bersolek setelah 13 tahun menanti perbaikan.
âKami tidak bosan-bosannya. Namanya juga usaha. Insya Allah kalau tahun ini tidak dapat, tahun depan mungkin dapat,â ujar Supriyanti dengan suara yang tenang namun menyimpan ketegasan saat diwawancarai PAUDPEDIA beberapa waktu lalu.
Keteguhan itu akhirnya berbuah manis di pengujung tahun 2025. Penantian delapan tahun itu terbayar bukan oleh anggaran daerah yang selama ini ia ketuk pintunya, melainkan melalui sentuhan langsung dari Pemerintah Pusat. TK Permata Baru terpilih sebagai penerima bantuan revitalisasi pendidikan, sebuah oase di tengah gersangnya fasilitas pendidikan di pelosok Papua Barat.
Melawan Sunyi Jaringan dan Hujan
Perjalanan mewujudkan gedung baru di Distrik Meyado bukanlah perkara membalik telapak tangan. Tantangan geografis dan infrastruktur menjadi ujian tambahan. Di daerah ini, sinyal telekomunikasi adalah barang mewah yang tak menentu.
Suprianti menceritakan bagaimana koordinasi pembangunan sering kali terhambat karena ketiadaan jaringan telepon. "Di tempat saya ini tidak ada jaringan. Kami hanya mengandalkan Starlink yang ada di kampung. Kalau tidak ada itu, informasi sangat lambat kami terima," tuturnya.
Selain sunyi sinyal, alam Papua juga menguji ketahanan fisik para pekerja. Hujan yang turun nyaris setiap hari di Teluk Bintuni membuat akses jalan menjadi rusak dan licin. Pasokan kayu, yang menjadi material utama, sering kali terlambat sampai ke lokasi.
Namun, pembangunan yang dimulai pada akhir tahun tersebut tetap dipacu. Dengan masa kerja 120 hari, gedung impian itu akhirnya berdiri tegak tepat waktu.
Nilai bantuannya mencapai Rp780.500.000. Dana tersebut dialokasikan untuk empat menu utama: ruang konsentrasi belajar, ruang UKS, toilet yang layak, serta area bermain anak.
Meski keinginan Supriyanti untuk menambah jumlah rombongan belajar (rombel) belum sepenuhnya terakomodasi dalam pagu kali ini, ia tetap melihatnya sebagai lompatan besar.
Gotong Royong dan Rezeki Giliran
Ada sisi humanis yang kental dalam proses pembangunan TK Permata Baru. Suprianti tidak membiarkan sekolahnya dibangun oleh tangan-tangan asing semata. Ia melibatkan masyarakat lokal, terutama para wali murid, sebagai bagian dari tim pekerja.
Ia sadar, di tengah himpitan ekonomi, proyek revitalisasi ini harus membawa dampak perut bagi warga sekitar. Maka, sebuah sistem kerja gilir pun diterapkan. "Kami jadwal, tidak sekaligus 20 atau 30 orang masuk. Kami gilir supaya semuanya merasakan rezeki. Mungkin satu orang kerja dua atau tiga hari, lalu gilir lagi orang lain. Ini supaya mereka juga punya pemasukan untuk biaya makan," kata Supriyanti.
Keterlibatan warga ini menciptakan rasa memiliki (sense of belonging) yang kuat. Sekolah tersebut bukan lagi sekadar bangunan milik pemerintah, melainkan monumen kebersamaan warga Kampung Darma Baru dan sekitarnya. Bahkan, warga dari kampung sebelah pun turut dirangkul untuk ambil bagian.
Kado Ganda di Akhir Tahun
Desember 2025 menjadi bulan yang paling bersejarah bagi sekolah yang sebenarnya sudah berdenyut sejak tahun 2010 ini. Selain gedung yang rampung dikerjakan dan dilakukan serah terima, TK Permata Baru mendapatkan status baru.
Setelah sekian lama berstatus swasta dan melalui proses pengajuan peralihan yang berliku, SK penegerian akhirnya turun pada 11 Desember 2025. "Statusnya kini sudah negeri. Laporan akhir kemarin kami sampaikan sudah sebagai sekolah negeri, meski proses administrasinya cukup ribet," ungkap Supriyanti.
Kini, dengan luas lahan yang telah dikembangkan menjadi sekitar 50 meter kali 40 meter berkat tambahan hibah dari pihak kampung, TK Permata Baru bersiap menyambut babak baru.
Sebanyak 32 siswa yang terbagi dalam dua rombel akan segera menempati gedung tersebut setelah pengecekan akhir dari tim pusat Jakarta pada akhir Januari 2026.
Bagi Distrik Meyado, TK Permata Baru kini menjadi mercusuar. Menjadi satu-satunya lembaga PAUD di Kabupaten Teluk Bintuni yang mendapatkan bantuan revitalisasi pusat tahun ini merupakan kebanggaan sekaligus beban moral bagi Suprianti.
"Harapan kami, lembaga ini bisa menjadi contoh untuk sekolah lain di Distrik Meyado. Ini rezeki yang sangat luar biasa sekali bagi kami. Kami sangat bersyukur, tidak bisa berpura-pura apa lagi, intinya syukur," pungkasnya.
Di balik dinding-dinding baru yang masih beraroma cat segar itu, ada mimpi besar yang mulai terbang. Tak ada lagi sekat triplek yang membatasi imajinasi anak-anak Meyado. Di sana, di atas tanah Papua, pendidikan anak usia dini baru saja memenangkan pertarungannya melawan keterbatasan.
Tim Schoolmedia
Tinggalkan Komentar