Cari

Direktorat PAUD Terjunkan Tim Pendampingan Psikososial ke Kabupaten Langkat, Menghapus Trauma Banjir Mengembalikan Senyum Anak Usia Dini


Direktorat PAUD Terjunkan Tim Pendampingan Psikososial ke Kabupaten Langkat, Menghapus Trauma Banjir Mengembalikan Senyum Anak Usia Dini

Kemendikdasmen LANGKAT — Banjir yang merendam Kabupaten Langkat, Sumatera Utara tidak hanya meninggalkan lumpur dan kerusakan fisik di ruang-ruang kelas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Di balik dinding sekolah yang retak dan alat peraga yang hancur, tersimpan trauma emosional yang dialami siswa dan pengajar. Pemerintah kini menitikberatkan pemulihan pada aspek psikososial untuk memastikan layanan pendidikan anak usia dini tidak terhenti total.

Direktorat PAUD Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menerjunkan tim pendampingan ke Kabupaten Langkat selama tiga hari, 28–30 Januari 2026. 

Langkah ini diambil setelah evaluasi menunjukkan bahwa anak-anak usia dini merupakan kelompok paling rentan mengalami gangguan kecemasan akibat bencana alam yang merusak zona nyaman mereka.

Luka Tak Kasat Mata

Direktur PAUD Kemendikdasmen, Nia Nurhasanah, menegaskan bahwa rekonstruksi bangunan pascabencana tidak akan efektif jika tidak dibarengi dengan pemulihan mental penghuninya. Menurutnya, stabilitas emosi pendidik dan peserta didik adalah fondasi utama sebelum proses belajar-mengajar secara formal kembali digulirkan.

"Pemulihan pascabencana sering kali terjebak pada angka-angka kerusakan fisik. Namun, bagi anak usia dini, rasa aman yang hilang adalah kerugian terbesar. PAUD harus segera kembali menjadi ruang yang stabil, aman, dan menenangkan bagi mereka untuk tumbuh," ujar Nia saat membuka sesi pendampingan di Langkat, Jumat (30/1/2026).

Kondisi di lapangan menggambarkan betapa beratnya beban yang dipikul para pengajar. Aisya, pengelola PAUD Azkiyah, menuturkan bagaimana banjir merendam sekolah sekaligus kediamannya selama sembilan hari. Air yang merayap naik menghancurkan seluruh mebel, papan tulis, dan tumpukan buku yang menjadi sarana utama belajar.

Hal serupa dialami Rusmayanti dari PAUD Al-Hafiz.Selama 12 hari ia harus bertahan di pengungsian. Ia sempat diliputi kekhawatiran administratif karena banyak alat peraga dan inventaris sekolah yang terpaksa dibuang demi alasan kebersihan tanpa sempat didokumentasikan secara rinci.

 "Kami fokus pada pembersihan sisa banjir agar tidak menjadi sumber penyakit bagi anak-anak, sehingga bukti fisik barang rusak banyak yang sudah tidak ada," keluhnya.

Solusi Birokrasi dan Logistik

Merespons keresahan para guru, Direktorat PAUD telah menyusun skema solusi yang fleksibel namun tetap akuntabel. Terkait kehilangan bukti fisik barang yang rusak, pemerintah memberikan kelonggaran asalkan pengajuan bantuan disertai dokumentasi foto sisa dampak banjir dan estimasi kerugian yang rasional.

Untuk kerusakan sarana prasarana, pemerintah membagi intervensi dalam tiga kategori:

 Kerusakan Berat dan Sedang: Dapat diusulkan melalui Program Revitalisasi, dengan catatan lahan sekolah bukan milik pribadi/perseorangan.

 Kerusakan Ringan: Dialokasikan melalui Bantuan Peningkatan Mutu untuk membiayai pembersihan, pengecatan ulang, serta pengadaan Alat Peraga Edukatif (APE) sederhana.

 Perangkat TIK: Khusus untuk laptop dan smart TV yang rusak, pemerintah akan mengoordinasikan pengecekan garansi dengan pihak vendor dan satuan tugas terkait.

Mengenai buku-buku yang hancur terendam air, Nia menyatakan pihaknya tengah berkoordinasi dengan Pusat Perbukuan untuk segera mengirimkan stok pengganti ke wilayah Langkat.

Mengubah Paradigma Belajar

Di tengah keterbatasan sarana akibat bencana, para pendidik justru didorong untuk melakukan inovasi pedagogis. Pakar pendidikan anak, Dona Paramita dan dr. Retno Wulandari, yang hadir sebagai narasumber, menekankan pentingnya mengubah pola pikir ketergantungan pada alat peraga buatan pabrik atau Lembar Kerja Siswa (LKS).

"Bencana ini adalah momentum untuk kembali ke dasar. Pendidik bisa memanfaatkan lingkungan sekitar dan bahkan anggota tubuh sendiri sebagai media belajar yang interaktif. Pendidikan PAUD adalah tentang stimulasi, bukan sekadar mengisi kertas," kata Retno. 

Pendekatan kontekstual ini dianggap lebih efektif untuk mengalihkan trauma anak sekaligus membangun ketahanan (resiliensi) mereka terhadap situasi darurat.

Sebagai langkah lanjutan, Dinas Pendidikan Kabupaten Langkat kini tengah melakukan pendataan cepat (fast mapping) terhadap seluruh satuan PAUD terdampak. Data dari Dapodik (Data Pokok Pendidikan) menjadi instrumen krusial dalam menentukan siapa yang berhak menerima bantuan prioritas.

Pemulihan di Langkat diharapkan menjadi cetak biru bagi penanganan bencana di sektor pendidikan anak usia dini di wilayah lain. Bagi pemerintah, memastikan anak-anak kembali tertawa di sekolah adalah indikator keberhasilan sesungguhnya dari rehabilitasi pascabencana.

Tim Schoolmedia 



Lipsus Selanjutnya
Negara Hadir Bersama Satuan Pendidikan Terdampak Bencana, Mendikdasmen Salurkan Rp274 Miliar untuk Revitalisasi Sekolah Pascabencana
Lipsus Sebelumnya
Menteri Bappenas: MBG Lebih Mendesak dari Penciptaan Lapangan Kerja, Namun Program Masih Hadapi Banyak Tantangan

Liputan Khusus Lainnya:

Comments ()

Tinggalkan Komentar