Schoolmedia News
SCHOOL MEDIA® News
kembali
Nasional

Komitmen Kemendikdasmen dan UNESCO Menyemai Karakter Hijau dan Bentuk Fondasi Kelestarian Bumi

author Eko Schoolmedia
Jun 19, 2026 |



Schoolmedia News Jakarta = Menanamkan cinta lingkungan pada anak-anak bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kunci utama untuk menjamin keberlanjutan masa depan bumi yang kian rapuh. Menanamkan kesadaran untuk melestarikan lingkungan hidup tidak bisa dilakukan secara instan ketika seseorang sudah beranjak dewasa.Ā 

Fondasi kepedulian terhadap alam harus diletakkan sekerap mungkin sejak usia dini, saat watak dan kebiasaan manusia sedang dibentuk. Tanpa adanya pendidikan konservasi yang konsisten sejak masa kanak-kanak, bumi di masa depan hanya akan diisi oleh generasi yang acuh terhadap krisis iklim, polusi, hingga kerusakan ekosistem yang kian mengancam kelangsungan hidup manusia.

Kesadaran mendasar ini kini mulai menjelma menjadi gerakan nyata di ruang-ruang kelas sekolah dasar dan menengah di berbagai penjuru Nusantara. Melalui kerangka Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Education for Sustainable Development/ESD), sekolah bertransformasi dari sekadar ruang hafalan teori menjadi laboratorium pembiasaan karakter.Ā 

Di sinilah anak-anak diajarkan bahwa menjaga dunia bukan sekadar slogan di buku teks, melainkan bagian utuh dari keseharian mereka.

Dari Bak Sampah hingga Komposter Sekolah

Tengok saja suasana di SDN Kelapa Dua Wetan, Jakarta Timur. Begitu bel istirahat berbunyi, keriuhan anak-anak tidak hanya berpusat di kantin sekolah. Di area belakang selasar, sekelompok murid dengan riang memilah botol-botol plastik bekas pakai ke dalam wadah yang berbeda-beda sesuai jenisnya. Beberapa murid lainnya tampak serius merawat tong komposter yang mengubah sampah sisa makanan menjadi pupuk organik.

ā€œKami sengaja membangun program ini bukan demi mengejar penghargaan Adiwiyata atau sekadar pujian formal,ā€ kata Nining, salah satu guru penggerak di SDN Kelapa Dua Wetan. Sekolah ini melatih muridnya mengolah limbah menjadi ecoenzim, mendaur ulang barang bekas, hingga memanfaatkan maggot untuk mengurai sampah organik secara mandiri.

Menurut Nining, buah dari konsistensi mendidik anak sejak kecil kini mulai terlihat nyata. ā€œAnak-anak tidak perlu lagi diperintah untuk membuang sampah pada tempatnya. Budaya peduli itu tumbuh sendiri dari lingkungan terdekat mereka. Efeknya di sekolah sangat terasa; volume sampah berkurang drastis, lingkungan menjadi hijau, dan penggunaan listrik serta air jadi jauh lebih hemat karena anak-anak tahu cara menghargai sumber daya alam,ā€ paparnya dengan binar mata bangga.

Ruang Kelas Beratap Langit di Pesisir Wakatobi

Jika di ibu kota pembiasaan dimulai dari manajemen sampah domestik, cerita berbeda datang dari kawasan pesisir Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Bagi anak-anak di SMPN 1 Wangi-Wangi Selatan, laut berombak biru jernih dan rimbun hutan bakau adalah halaman bermain sekaligus ruang kelas utama mereka.Ā 

Di bawah kepemimpinan Adeliya Alim Sabani, pendidikan konservasi laut secara berani diintegrasikan langsung ke dalam struktur kurikulum sekolah, baik intrakurikuler maupun kokurikuler.

Murid-murid di sana terbiasa mengenakan wadah air minum sendiri (*tumbler*) demi menekan timbulan plastik sekali pakai di pulau kecil mereka. Secara berkala, mereka menceburkan kaki ke lumpur pesisir untuk menanam bibit mangrove atau menyisir pantai demi mengumpulkan sampah kiriman.Ā 

Pembiasaan sejak dini ini melahirkan kepekaan sosial-ekologis yang tinggi. Refleks tangan mereka akan langsung bergerak memungut sampah yang tercecer di halaman atau jalanan tanpa harus menunggu instruksi dari guru.

Upaya masif menanamkan nilai konservasi sejak belia ini mendapat dorongan kuat dari Pemerintah Daerah Kabupaten Wakatobi. Bupati Wakatobi, Haliana, meluncurkan paket pembelajaran interaktif bertajuk "Wakatobiku". Melalui buku cerita, video animasi, hingga permainan edukatif, kekayaan ekosistem terumbu karang dan mangrove diperkenalkan kepada anak-anak sejak usia taman kanak-kanak.

"Jika kita ingin menjaga laut dan melestarikan alam, kita wajib mendidik generasi yang mencintai lingkungannya sejak usia dini," tegas Haliana.

Transformasi Pembelajaran Berkelanjutan

Langkah-langkah taktis di daerah ini sejalan dengan komitmen global yang ditegaskan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama UNESCO dalam National Forum on Education for Sustainable Development yang diselenggarakan di Jakarta, pertengahan Juni ini. Forum yang mengambil tema pelestarian laut dan cagar biosfer tersebut menjadi panggung penguatan kolaborasi lintas sektor untuk masa depan bumi.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menggarisbawahi bahwa pemerintah kini tengah gencar mendorong penerapan metode Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Melalui konsep ini, alam tidak lagi diletakkan sebagai objek hafalan yang kaku, melainkan sebagai ruang belajar hidup yang menghadirkan pengalaman reflektif, kontekstual, dan bermakna bagi murid.

ā€œTantangan masa depan menuntut terciptanya generasi yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan kepedulian terhadap lingkungan,ā€ ujar Abdul Mu’ti. Senada dengan itu, Direktur Kantor Regional UNESCO di Jakarta, Maki Katsuno-Hayashikawa, mengingatkan bahwa krisis iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati saat ini membutuhkan transformasi total dalam cara manusia belajar, mengajar, dan berinteraksi dengan bumi di sekitar mereka.

Pada akhirnya, nasib ketahanan pangan, kelestarian laut, dan kualitas hidup bangsa ini tiga puluh tahun ke depan sangat bergantung pada kebiasaan kecil yang dipupuk anak-anak kita hari ini.Ā 

Dari sebotol air minum mandiri yang dibawa ke sekolah, selembar daun kering yang dijadikan kompos, hingga pilahan sampah di sudut kelas, generasi baru Indonesia sedang diajarkan cara menjadi pelindung—bukan perusak—bumi tempat mereka berpijak.

Tim Schoolmedia

Terobosan Keberlanjutan Pembiayaan PPG dan Penguatan Evaluasi UKMPPG
Berita Selanjutnya
Terobosan Keberlanjutan Pembiayaan PPG dan Penguatan Evaluasi UKMPPG
author Eko Schoolmedia
Jun 19, 2026
DPR Setujui Tambahan Anggaran Kemendikdasmen Rp 79 Triliun untuk Tingkatkan Kualitas Guru dan Perbaikan Mutu Satuan Pendidikan
Berita Sebelumnya
DPR Setujui Tambahan Anggaran Kemendikdasmen Rp 79 Triliun untuk Tingkatkan Kualitas Guru dan Perbaikan Mutu Satuan Pendidikan
author Eko Schoolmedia
Jun 19, 2026