Mendikdasmen Abdul Mu’ti: Sekolah Swasta Adalah Mitra Karib Negara

Schoolmedia News Kudus = Riuh rendah suara siswa terdengar samar dari balik ruang-ruang kelas di kompleks SMP-SMA Islam Hidayatullah, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (13/6). Di tengah dinamika pendidikan nasional yang terus mencari bentuk terbaiknya, sebuah bangunan serbaguna (multifunction building) baru berdiri megah di sekolah yang dikelola Yayasan Abul Yatama tersebut.
Hari itu bukan sekadar seremoni peresmian gedung. Di balik dinding-dinding laboratorium komputer, laboratorium bahasa, dan perpustakaan baru yang berbau cat segar, ada sebuah penegasan penting tentang gotong royong dan ketangguhan lembaga swasta dalam menopang pilar pendidikan bangsa.
Hadir di tengah-tengah warga sekolah, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti tidak dapat menyembunyikan apresiasinya. Bagi Mu’ti, keberadaan sekolah swasta bukanlah sekadar pelengkap atau kompetitor bagi sekolah negeri, melainkan mitra strategis yang bergerak bersama di garis depan untuk menunaikan amanat konstitusi: mencerdaskan kehidupan bangsa.
Sejak awal saya dilantik sebagai Menteri, ketika ditanya mengenai pendidikan swasta, bagi saya swasta adalah mitra. Itu prinsip yang saya pegang teguh," ujar Mu’ti dengan nada mantap di hadapan para guru, pengurus yayasan, dan tokoh masyarakat.
Filosofi Gotong Royong: "Pendidikan Bermutu untuk Semua dengan Partisipasi Semesta." — Kemendikdasmen
Prinsip tersebut, menurut Mu’ti, sejalan dengan visi besar yang diusung kementeriannya, yakni mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua dengan partisipasi semesta. Dalam kerangka ini, negara mengakui tidak bisa berjalan sendirian. Elemen masyarakat—mulai dari Yayasan Abul Yatama, Muhammadiyah, hingga Ma’arif—telah lama menjadi jangkar yang menjaga akses dan kualitas layanan pendidikan di akar rumput.
Menjembatani Imtaq dan Iptek
Di tengah laju modernisasi yang deras, tantangan dunia pendidikan kini tidak lagi sekadar mencetak lulusan yang pintar secara akademis. Tantangan terbesarnya adalah melahirkan generasi yang memiliki kedalaman spiritual sekaligus ketangkasan teknologi.
Mu’ti menyoroti pentingnya integrasi antara penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dengan pembentukan karakter berbasis iman dan takwa (imtaq). Model pendidikan integratif seperti inilah yang dinilai mampu menyiapkan generasi Indonesia yang unggul dan berdaya saing global tanpa kehilangan identitas nasionalnya.
"Kita mengombinasikan berbagai kekayaan intelektual yang berkembang di Barat, di Timur Tengah, dan di tanah air kita. Kita kombinasi bersama menjadi kebijakan nasional yang bermanfaat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun generasi Indonesia yang hebat dan kuat," tambah Mu’ti, menekankan pentingnya sintesis budaya dan ilmu pengetahuan.
Kekuatan Komunitas dan Kemandirian
Gedung serbaguna yang diresmikan hari itu menjadi bukti nyata dari konsep partisipasi semesta tersebut. Bangunan ini bukan hasil dari ketergantungan penuh pada anggaran negara, melainkan buah dari kemandirian dan rasa memiliki yang dirawat bertahun-tahun melalui kekuatan komunitas.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Abul Yatama, Hasan Toha Putra, menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas baru—yang juga mencakup laboratorium IPA dan gelanggang olahraga—merupakan jawaban atas kebutuhan sarana pendidikan yang kian berkembang. Menariknya, pengembangan sekolah selama ini digerakkan oleh ekosistem internal, terutama sumbangsih para alumni yang kembali untuk membangun almamaternya.
Dengan hadirnya gedung baru ini, ruang-ruang di gedung lama kini dapat difokuskan sepenuhnya sebagai ruang kelas yang lebih longgar dan nyaman. Dari sudut Kota Semarang ini, sebuah pesan benderang dikirimkan: ketika masyarakat dan pemerintah berjalan beriringan sebagai mitra, mimpi tentang pendidikan yang bermutu bukan lagi sekadar teks di atas kertas undang-undang, melainkan realitas yang sedang dibangun, bata demi bata.
Tim Schoolmedia
Berita Lainnya:
Mobilisasi Komcad ASN Dalam Penanganan Aksi Mahasiswa Dipersoalkan, Batas Pertahanan dan Keamanan Diingatkan
Kemendikdasmen Percepat Revitalisasi 11.744 Sekolah Jelang Tahun Ajaran Baru
Mengatasi Tantangan Kepulauan, Pemerintah Matangkan Peta Jalan PJJ hingga 2029